Riba dan Jenis-Jenisnya

Sahabat shariapreneur yang baik hatinya, pembahasan kita kali ini sangat penting untuk dicermati. Karena persoalan ini sangat terkait langsung dengan aktivitas bisnis. Sangat penting juga karena Allah dan rasul-Nya menyatakan perang terhadap para pelaku riba ini. Dosanya sangat besar, jauh lebih besar daripada dosa pelaku Zina. Naudzubillah.

Mari sama-sama kita simak dan pahami semoga setelah memahaminya kita akan mudah untuk menjauhi perbuatan riba tersebut.

Secara bahasa riba bermakna tambahan (al-ziyadah). Secara istilah riba memiliki definisi yang diambil berdasarkan dalil-dalil syari’at yang membicarakan tentang transaksi-transaksi riba.

Para ulama telah banyak mengemukakan definisi riba, dimana satu dengan yang lainnya saling melengkapi. Menurut Syaikh Muhammad Ahmad ad-Daur riba adalah pertambahan akibat pertukaran jenis tertentu, baik yang disebabkan oleh kelebihan dalam pertukaran dua harta yang sejenis di tempat pertukaran (majlis at-tabâdul), seperti yang terjadi dalam ribâ al-fadhl, ataupun disebabkan oleh kelebihan tenggang waktu (al-ajal), sebagaimana yang terjadi dalam ribâ an-nasî’ah.

Kita akan dapat mengerti lebih jelas lagi tentang riba dengan memahami secara konkrit tentang jenis-jenis aktivitas ribawi berdasarkan nash-nash syari’ah yang ada.

Hukum Riba

Seluruh ‘ulama bersepakat mengenai keharaman riba, baik yang dipungut sedikit maupun banyak. Al-Quran dan Sunnah dengan sharih (jelas) telah menerangkan keharaman riba dalam berbagai bentuknya; dan seberapapun ia dipungut. Allah swt berfirman;

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لا يَقُومُونَ إِلا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

 “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat), “Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba,” padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. [TQS Al Baqarah (2): 275].

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لا تَظْلِمُونَ وَلا تُظْلَمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya”. (TQS Al Baqarah [2]: 279).

Di dalam Sunnah, Rasulullah Muhammad saw

دِرْهَمُ رِبَا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتٍّ وَثَلَاثِيْنَ زِنْيَةً

“Satu dirham riba yang dimakan seseorang, dan dia mengetahui (bahwa itu adalah riba), maka itu lebih berat daripada 36 zina”. (HR. Ahmad dari Abdullah bin Hanzhalah).

الرِبَا ثَلاثَةَ وَسَبْعُوْنَ بَابًا أَيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ, وَإِنَّ أَرْبَى الرِّبَا عَرْضُ الرَّجُلِ الْمُسْلِمَ

“Riba itu mempunyai 73 pintu, sedang yang paling ringan seperti seorang laki-laki yang menikahi ibunya, dan sejahat-jahatnya riba adalah mengganggu kehormatan seorang muslim”. (HR. Ibn Majah).

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّباَ وَمُوْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ, وَقَالَ: هُمْ سَوَاءٌ

“Rasulullah saw melaknat orang yang memakan riba, yang memberi makan dengan riba, penulisnya, dan dua orang saksinya. Beliau bersabda; Mereka semua sama”. (HR. Muslim)

Di dalam Kitab al-Mughniy, Ibnu Qudamah mengatakan, “Riba diharamkan berdasarkan Kitab, Sunnah, dan Ijma’. Adapun Kitab, pengharamannya didasarkan pada firman Allah swt, ”Wa harrama al-riba” (dan Allah swt telah mengharamkan riba) (Al-Baqarah:275) dan ayat-ayat berikutnya. Sedangkan Sunnah; telah diriwayatkan dari Nabi saw bahwasanya beliau bersabda, “Jauhilah oleh kalian 7 perkara yang membinasakan”. Para shahabat bertanya, “Apa itu, Ya Rasulullah?”. Rasulullah saw menjawab, “Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan haq, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari peperangan, menuduh wanita-wanita Mukmin yang baik-baik berbuat zina”. Juga didasarkan pada sebuah riwayat, bahwa Nabi saw telah melaknat orang yang memakan riba, wakil, saksi, dan penulisnya”. (HR. Imam Bukhari dan Muslim)… Dan umat Islam telah bersepakat mengenai keharaman riba.” (Al-Mughniy al-Muhtaaj, Juz 6, hal. 309)

Imam al-Syiraaziy di dalam Kitab al-Muhadzdzab menyatakan; riba merupakan perkara yang diharamkan. Keharamannya didasarkan pada firman Allah swt,Wa ahall al-Allahu al-bai` wa harrama al-riba” (Allah swt telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba) (Al-Baqarah:275), dan juga firmanNya, “al-ladziina ya`kuluuna al-riba laa yaquumuuna illa yaquumu al-ladziy yatakhabbathuhu al-syaithaan min al-mass” (orang yang memakan riba tidak bisa berdiri, kecuali seperti berdirinya orang yang kerasukan setan)”. (al-Baqarah:275)….. Ibnu Mas’ud meriwayatkan sebuah hadits, bahwasanya Rasulullah saw melaknat orang yang memakan riba, wakil, saksi, dan penulisnya”. (HR. Imam Bukhari dan Muslim) (al-Muhadzdzab, Juz 1, hal. 270).

Jenis-Jenis Transaksi Riba

Untuk memperoleh pemahaman yang utuh tentang riba maka kita dapat memperolehnya langsung melalui berbagai macam jenis praktek transaksi riba yang telah dijelaskan melalui nash.

1. Riba al-Fadhl

Riba al-Fadhl adalah tambahan harta yang terjadi karena pertukaran barang tertentu yang sejenis. Riba ini hanya terjadi dalam enam jenis harta. Ubadah bin Shamit menuturkan bahwa Rasul saw. pernah bersabda:

اَلذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيْرُ بِالشَّعِيْرِ وَالتَّمَرُ بِالتَّمَرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلِ. سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَ اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الْأَصْنَافُ فَبِيْعُوْا كَيْفَ شِئْتُمْ اِذَاكَانَ يَدًا بِيَدٍ

Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya‘ir dengan sya‘ir, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam; sama, seimbang, dan kontan. Jika berbeda jenis barangnya, maka perjualbelikanlah sesuai dengan cara yang kalian suka apabila dilakukan secara kontan”   (HR. Muslim).

Kelebihan (riba) dalam pertukaran dua harta sejenis tersebut bisa terjadi dalam tiga bentuk, yaitu:

Pertama, dengan kualitas yang sama tetapi berbeda jumlah, misalnya sekilo kurma baik dengan satu setengah kilo kurma yang sama.

Kedua, jumlah sama tetapi kualitasnya berbeda, semisal satu gram emas 22 karat dengan satu gram emas 24 karat.

Ketiga, jumlah dan kualitas berbeda, seperti sepuluh gram emas 22 karat dengan delapan gram emas 24 karat. Atau kita juga tidak boleh menukar 10 kg kurma kualitas jelek dengan 5 kg kurma kualitas bagus, karena pertukaran kurma dengan kurma harus setakar atau setimbang.

Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim telah menceritakan kepada kami Syaiban dari Yahya dari Abu Salamah dari Abu Sa’id radliallahu ‘anhu berkata: Kami diberikan kurma yang bercampur (antara yang baik dan yang jelek) dan kami menjual dua sha’ dengan satu sha’. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا صَاعَيْنِ بِصَاعٍ وَلَا دِرْهَمَيْنِ بِدِرْهَمٍ

Tidak boleh menjual dua sha’ dibayar satu sha’ dan dua dirham dengan satu dirham. (HR. Bukhari)

Dalam banyak hadis, emas dan perak disebutkan selain dalam konteks zatnya juga dalam konteks pertukaran atau sebagai alat tukar dan alat pembayaran.  Karena itu, uang yang ada saat ini, sekalipun esensinya berbeda, konteksnya sebagai alat tukar dan alat pembayaran sama dengan emas dan perak itu.

Karena itu pula, terkait dengan pertukaran mata uang (sharf) bisa terjadi riba di dalamnya. Misalnya praktik penukaran uang receh yang marak terjadi menjelang hari raya idul fitri, dimana pecahan Rp. 100.000,- ditukar dengan sembilan pecahan Rp. 10.000,-, hal ini masuk dalam kategori ribâ al-fadhl ini dan haram dilakukan.

2. Riba an-Nasi’ah

Riba an-nasi’ah adalah tambahan harta yang terjadi karena adanya tenggang waktu. Riba ini bisa terjadi pada sharf (pertukaran) maupun pinjam-meminjam (al-qardh).  Bentuknya bisa meliputi tiga bentuk. Yaitu:

Pertama, pada sharf, yaitu pertukaran (jual beli) dua mata uang berbeda. Semisal rupiah dengan dolar, tetapi tidak dilakukan secara tunai. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Hadis riwayat Barra’ bin Azib ra.: ia berkata: Dari Abul Minhal ia berkata: Seorang kawan berserikatku menjual perak dengan cara kredit sampai musim haji lalu ia datang menemuiku dan memberitahukan hal itu. Aku berkata: Itu adalah perkara yang tidak baik. Ia berkata: Tetapi aku telah menjualnya di pasar dan tidak ada seorang pun yang mengingkarinya. Maka aku (Abul Minhal) mendatangi Barra’ bin ‘Azib dan menanyakan hal itu. Ia berkata: Nabi SAW tiba di Madinah sementara kami biasa melakukan jual beli seperti itu, lalu beliau bersabda:

كَانَ يَدًا بِيَدٍ فَلَا بَأْسَ بِهِ وَمَا كَانَ نَسِيئَةً فَهُوَ رِبًا

“Selama dengan serah-terima secara tunai, maka tidak apa-apa. Adapun yang dengan cara kredit maka termasuk riba”. (HR. Muslim)

مَاكَنَ يَدًابِيَدٍ فَخُذُوهُ وَمَاكَانَ نَسِيْئَةً فَذَرُوهُ

Apa yang dilakukan secara tunai maka ambillah. Apa yang dilakukan secara tempo (kredit) maka tinggalkanlah.” (HR. Bukhari).

Kedua, pinjam-meminjam untuk jangka waktu tertentu dengan syarat ada tambahan pada saat pengembalian. Bunga bank dan aktivitas rentenir di tengah-tengah masyarakat saat ini jelas termasuk riba jenis ini. Meski kadang-kadang ada juga yang menyebut tambahan tersebut sebagai infak atau biaya administrasi (dipaksakan banget J). Intinya ada tambahan pada pinjaman (qardh) yang disyaratkan, dan itu adalah riba nasi’ah.

Ketiga, pinjam-meminjam tanpa syarat tambahan saat pengembalian, namun ketika jatuh tempo belum bisa dibayar, lalu diberi tempo dengan kompensasi ada tambahan. Saat ini, tambahan itu sering disebut denda keterlambatan angsuran, termasuk denda keterlambatan angsuran pada jual beli secara kredit.

Ada yang berpendapat, jika tidak disyaratkan sejak awal, yaitu karena inisiatif peminjam sendiri, apalagi dalam bentuk selain uang, hal itu boleh karena merupakan hadiah.  Pendapat ini keliru. Tambahan yang termasuk ribâ itu tidak mesti tambahan berupa uang. Semua bentuk tambahan berupa manfaat lain yang muncul dari pinjam-meminjam itu, termasuk riba. Fadhalah bin ‘Ubayd menuturkan, Rasulullah saw. pernah bersabda:

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ وَجْهٌ مِنْ وُجُوْهِ الرِّبَا

“Setiap pinjaman yang menarik suatu manfaat maka itu termasuk salah satu bentuk riba.” (HR. al-Bayhaqi).

Yahya bin Abi Ishaq al-Huna’i menuturkan: Aku pernah bertanya kepada Anas bin Malik tentang seseorang yang meminjami saudaranya harta, lalu saudaranya itu memberinya hadiah.  Anas berkata, Rasulullah saw. pernah bersabda:

إِذَا أَقْرَضَ أَحَدُكُمْ قَرْضًا فَأَهْدَى لَهُ أَوْ حَمَلَهُ عَلَى الدَّابَّةِ فَلاَ يَرْكَبْهَا وَلاَ يَقْبَلْهُ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ جَرَى بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ قَبْلَ ذَلِكَ

Jika salah seorang di antara kalian meminjamkan suatu pinjaman (utang), lalu peminjam memberinya hadiah atau membawanya di atas hewan tunggangan maka jangan ia menaikinya dan jangan menerima hadiah itu, kecuali yang demikian itu biasa terjadi di antara keduanya sebelum pinjam-meminjam itu”. (HR. Ibn Majah).

Anas juga menuturkan bahwa Rasul saw. pernah bersabda:

إِذَا أَقْرَضَ فَلاَ يَأْخُذْ هَدِيَّةً

Jika seseorang memberikan pinjaman maka janganlah ia mengambil hadiah. (HR. Al-Bukhari).

Berdasarkan nash-nash tersebut, Imam Taqiyuddin an-Nabhani menyatakan, bahwa pinjaman yang memunculkan suatu manfaat, jika hal itu telah disyaratkan, maka tanpa ada perbedaan sedikitpun, haram. Demikian juga jika seseorang meminjami tanpa ada syarat, lalu peminjam mengembalikan dengan ada tambahan uang atas uang yang ia pinjam.  Adapun jika peminjam memberi hadiah (selain uang) sebagai tambahan atas apa yang ia pinjam maka perlu dilihat, jika kebiasaannya (tanpa ada pinjaman) adalah suka memberi hadiah terhadap orang itu, maka tidak apa-apa dan orang itu (pemberi pinjaman) boleh menerimanya; jika tidak, sesuai dengan hadis Anas di atas, maka pemberi pinjaman itu tidak boleh menerimanya.

Untuk mempertajam pemahaman tentang transaksi-transaski riba kami sampaikan beberapa contoh transaksi riba sebagai berikut:

Misalnya, jika si A mengajukan utang sebesar Rp. 20 juta kepada si B dengan tempo satu tahun. Sejak awal keduanya telah menyepakati bahwa si A wajib mengembalikan utang ditambah bunga 15%, maka tambahan 15% tersebut merupakan riba yang diharamkan, ini riba nasi’ah.

Termasuk riba qardh (hutang piutang) adalah, jika kedua belah pihak menyepakati ketentuan apabila pihak yang berutang mengembalikan utangnya tepat waktu maka dia tidak dikenai tambahan, namun jika dia tidak mampu mengembalikan utangnya tepat waktu maka temponya diperpanjang dan dikenakan tambahan atau denda atas utangnya tersebut. Contoh yang kedua inilah yang biasa disebut riba jahiliyah karena banyak dipraktekkan pada zaman pra-Islam.

Sementara riba utang yang muncul dalam jual-beli yang tidak tunai contohnya adalah apabila si X membeli motor kepada Y secara tidak tunai dengan ketentuan harus lunas dalam tiga tahun. Jika dalam tiga tahun tidak berhasil dilunasi maka tempo akan diperpanjang dan si X dikenai denda berupa tambahan sebesar 5%, misalnya.

Perlu diketahui bahwa dalam konteks utang, riba atau tambahan diharamkan secara mutlak tanpa melihat jenis barang yang diutang. Maka, riba jenis ini bisa terjadi pada segala macam barang. Jika si A berutang dua liter bensin kepada si B, kemudian disyaratkan adanya penambahan satu liter dalam pengembaliannya, maka tambahan tersebut adalah riba yang diharamkan. Demikian pula jika si A berutang 10 kg buah apel kepada si B, jika disyaratkan adanya tambahan pengembalian sebesar 1kg, maka tambahan tersebut merupakan riba yang diharamkan.

Kesimpulan

Dapat kita simpulkan bahwa riba biasanya terjadi dalam utang-piutang dan transaksi penukaran barang atau jual-beli.

Riba dalam utang adalah tambahan atas utang, baik yang disepakati sejak awal ataupun yang ditambahkan sebagai denda atas pelunasan yang tertunda. Riba utang ini bisa terjadi dalam qardh (utang-piutang) ataupun jual-beli secara tempo/kredit. Semua bentuk riba dalam utang tergolong riba nasi’ah karena muncul akibat tempo (penundaan).

Riba dalam jual beli terjadi karena pertukaran tidak seimbang di antara barang ribawi yang sejenis (seperti emas 5 gram ditukar dengan emas 5,5 gram). Jenis ini yang disebut sebagai riba fadhl. Riba dalam jual-beli juga terjadi karena pertukaran antar barang ribawi yang tidak kontan, seperti emas ditukar dengan perak secara kredit. Praktek ini digolongkan ke dalam riba nasi’ah atau secara khusus disebut dengan istilah riba yad.

Wallahu’alam…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s