Kepada Seluruh Pemuda (To All Syabab)

PERJALANAN HIDUP ANDA

Masa Lalu Anda….

Masih ingatkah sewaktu kita masih kecil, lemah tidak bisa berbuata apa-apa. Setelah fungsi organ-organ tubuh mulai berkembang, kita belajar berjalan, lidah mulai menirukan berbagai bunyi dan suara-suara. Setelah semua organ sudah sampai pada puncak perkembangannya, kitapun bisa berlari berteriak sesuai kemauan kita…
Saat dulu duduk di bangku SD, guru kita bertanya tentang cita-cita dan keinginan kita di masa depan, mulailah kita berandai- andai dan berkhayal menjadi guru, dosen, pilot, direktur dan sebagainya. Meski hanya sebatas khayalan kosong tanpa ambisi dan kemauan yang kuat… saat itu.
Anda Saat Ini
Ketika memasuki usia 19 / 20 tahun, pergaulan kita semakin luas, teman semakin banyak. Menawarkan berbagai macam watak dan warna kepribadian. Secara sadar ataupun tidak kita terpengaruh oleh mereka dalam menentukan mana yang baik dan menyenangkan, juga sebaliknya. Ketika itu kita mungkin melihat betapa enaknya menjadi kaya, punya uang banyak, bisa bepergian ke luar negeri atau ke manapun kita mau, punya kendaraan mewah, pakaian necis dangan bahan yang mahal, dll.
Kemauan-kemauan itu mendorong kita untuk belajar (dengan tujuan agar bisa bekerja) atau bekerja untuk menjadi orang kaya. Kita mulai berusaha mencari pekerjaan dan memulai kehidupan mandiri yang tidak bergantung kepada kedua orang tua.
Masa Depan Anda?
Memasuki usia 25 tahun, ketika melihat seseorang yang mempunyai isteri  cantik, kita pun ingin punya isteri yang lebih cantik darinya. Kemudian kita menemukannya, dan kita berjuang sekuat tenaga. Meski gagal kita terus berjuang dan akhirnya berhasil. Setelah menikah kita ajak jalan-jalan, kemudian kita lihat ada villa yang indah. Kita ingin membahagiakannya dengan villa itu.
Kita bekerja lebih giat lagi, bahkan hampir-hampir kita tidak punya waktu untuk istirahat. Akhirnya diumur 45 tahun villa tersebut kita miliki.
Apa artinya villa mewah jika kendaraan yang dinaiki kendaraan kelas menengah bawah? Untuk itu kita bekerja lebih giat lagi, isteri dan anak kita pun jadi jarang lihat kita.
Kita terus mengejar…. Sampai kapan?
Renungkan Jalan Hidup Kita…
Apakah demikian itulah hidup yang akan kita jalani?
Apakah Allah menciptakan kita untuk memperoleh itu semua?
Apakah pekerjaan, isteri yang cantik, villa mewah, mobil mewah, semua itukah yang kita cari dalam hidup ini?
UJUNG PERJALANAN KITA
Ujung dari semua itu Akhirnya “KEMATIAN” menjemput kita, dan semua yang ada tadi menjadi tak berguna lagi.
Mengapa kematian “memaksa” kita berpisah dengan semuanya itu?
Bisakah kita kendalikan agar kita tidak MATI?
Mengapa kita tidak bisa menghindari kematian? Apalagi mengendalikannya?
JIKA KEHIDUPAN HARUS BERAKHIR DENGAN KEMATIAN LALU UNTUK APA KITA HIDUP?
Seseorang tidak bisa mengendalikan sesuatu, jika ia tidak memliki kekuatan dan kemampuan atau dia tidak memiliki otoritas untuk itu.
Contonya: Seorang karyawan tidak bisa mengendalikan berapa gajinya dari sebuah perusahaan. Gajinya ditentukan oleh Direktur perusahaan.
Sama halnya dengan kehidupan. Manusia tidak mampu mengendalikan kehidupan dan kematiannya.
Mereka hanya bisa menjalani kehidupan tersebut dengan pilihan-pilihan jalan hidupnya.
Kedua hal itu dikendalikan oleh Dzat yang MAHA KUAT MAHA PERKASA. Dialah ALLAH, Tuhan yang menciptakan dan mengendalikan Alam Semesta.
Allah ibarat “Direktur” sekaligus “Owner”= Direktur dan Owner Kehidupan. Dan manusia hanyalah karyawannya.
Karyawan yang bekerja sesuai ketentuan yang ditetapkan. Dan menerima “gaji” sesuai yang ditetapkan “Direktur” kehidupan.
Sang “Direktur” lah yang mengerti visi, misi dan tujuan “perusahaan” kehidupan yang dikendalikan-Nya.
Manusia sebagai karyawan, harus mengetahui dan menaati visi, misi, dan tujuan “perusahaan” itu agar bisa professional. Bila tidak, maka sang Direktur akan memecatnya menjadi karyawan karena hanya akan mengahambat tercapainya tujuan perusahaan.
Di “Perusahaan” ada 3 tipe “Karyawan”
Kelompok I; mereka yang menyelaraskan tujuan dan aktivitas hidupnya sesuai dengan visi dan aturan perusahaan.
Kelompok II; mereka yang tidak menyelaraskan tujuan dan alur kehidupannya sesuai tatacara yang telah ditetapkan oleh perusahaan
Kelompok III; mereka yang mengetahui alur skenario dan tujuan yang telah ditetapkan oleh “Direktur” perusahaan, tetapi dalam prakteknya mereka tidak peduli dan memilih golongan kedua sebagai teman.
Sifat masing-masing kelompok
Kelompok I, mereka mengatur langkah2 hidupnya dan menaati rambu-rambu Ilahi. Meski berat dan sulit, tetapi mereka menikmati dan menurutinya dengan ikhlas dan sabar, sehingga sesuai dengan keinginan sang Direktur. Iniliah golongan orang-orang yang selamat dan memperoleh naungan dari Allah. Mereka adalah orang-orang yang tidak merasa sedih dan tidak merasa takut, karena mereka yakin Allah akan menjadi penolong mereka di dunia dan di akhirat. (lihat QS. Fussilat [41]: (30-32)
Kelompok II, mereka sepenunhya “BEBAS” dan tidak mau mematuhi rambu-rambu Ilahi. Mereka menentukan sendiri tujuan hidupnya yang berbeda dengan tujuan yang Allah tentukan, dan menjalani kehidupan sesuai dengan hasrat dan dorongan kemauan mereka sendiri. Inilah golongan yang kafir tidak beriman kepada Allah dan tidak berusaha mencari kebenaran yang sejati. Mereka tidak peduli meski diberikan peringatan, mereka punya telinga tapi tidak mampu mendengar, mereka punya mata namun tak mampu melihat, bahkan mereka punya hati (akal budi) tapi tak mau memahami.
Kelompok III, inilah kelompok yang paling ironis, mereka adalah orang-orang yang sebenarnya telah menerima kebenaran, hanya tinggal menyeleraskannya dengan jalan hidup yang diambilnya untuk mencapai tujuan yang ditentukan oleh Allah. Akan tetapi mereka mengabaikannya dan mengambil tujuan-tujuan yang bersifat hanya mememuhi kebutuhan-kebutuhan sementara dan tidak kekal.
Dari sisi identitas batiniah, mereka tidak masuk dalam golongan pertama atau kedua. Meski di atas kertas mereka muslim, tetapi mereka lebih akrab dengan kaum yang di murkai Allah SWT. Golongan ini dijelaskan oleh Allah: dalam al-Mujaadillah [58]: 14) dan (an-Nisaa [4]:143.
Renungan
Janganlah terbuai fasilitas sehingga lupa akan tujuan…
Perumpamaan kehidupan di dunia ibarat seseorang yang pergi pasar dengan tujuan membeli al-Qur’an. Melintasi toko pakaian, mampir. Melintasi toko asesoris handphone, mampir (sarung HP tidak terlalu mahal kok, cuman beli satu aja). Akhirnya sesampai di toko al-Qur’an uangnya sudah tidak cukup lagi. Kedua barang itu telah melalaikannya dari tujuan semula, membeli al-Qur’an.
Betapa banyak manusia yang demikian? Padahal waktu mereka datang ke dunia, mereka telah memiliki rencana dan tujuan yang pasti (al-A’raaf [7]: 172) dan adz-Dzariyaat [51]: 56)
Untuk mencapai tujuan itu, Allah swt. Memberikan banyak fasilitas kehidupan untuk manusia, berupa harta, kehormatan, kecerdasan, popularitas, jabatan, pangkat, anak, isteri dan lain sebagainya. Semua itu sangat menggoda untuk dimiliki. Meski fungsi utamanya hanya sebagai sarana untuk mencapai tujuan yang jauh lebih besar dan abadi.
Namun banyak yang tertipu dan disibukkan oleh fasilitas dan sarana itu, sehingga melupakan tujuan yang sesungguhnya. (al-Anfaal [8]: 28).
Bagaimana agar kita bisa menggunakan berbagai fasilitas tersebut untuk mencapai tujuan? Pada poin inilah kita wajib mengetahui semua rambu-rambu Allah swt.
Dan satu-satunya jalan untuk itu adalah dengan belajar dan mengaji kepada mereka yang mengetahui rambu-rambu tersebut. (An Nahl [16]: 43)
“Seseorang itu sesuai dengan agama temannya. Karena itu, hendaklah siapapun dari kalian memperhatikan dengan siapa ia berteman” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi)
Bergaul dengan teman dan lingkungan yang shaleh dan bertujuan sama sesuai ketetapan Allah akan membuat kita mampu mencapai tujuan tersebut.
Oleh karena itulah kami mengajak kepada para pemuda untuk bersama-sama mengisi masa muda kita dengan selalu dekat kepada Allah melalui pergaulan kita kepada orang-orang yang berilmu (ulama), sungguh mereka adalah cahaya. Belajarlah tentang agama ini kepada mereka. Halaqohlah (belajar intensif) agar pemahaman menjadi benar dan kuat.
Semoga Allah meridhai langkah kita..

One thought on “Kepada Seluruh Pemuda (To All Syabab)

  1. Seperti sabda Rasulullah, “Seseorang yang bergaul dengan tukang minyak wangi, maka ia akan terluar bau wangi. Seseorang yang bergaul dengan pandai besi maka ia akan kecipratan bau asapnya.”

    trima kasih tausiyahnya mas..

    – Rizal –

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s