AQIDAH (TAUHID) ATAU KHILAFAH?

Manakah yang harus didahulukan, antara seruan untuk memperbaiki akidah ataukah menegakkan Khilafah? Pertanyaan ini sering dilontarkan oleh sebagian jama’ah yang mengklaim memperjuangkan akidah kepada jamaah yang dianggapnya hanya menyerukan Khilafah. Sesungguhnya penulis tidak ingin membahas hal ini kembali, karena hanya akan menyita waktu untuk mempersoalkan suatu perkara yang tidak perlu dipersoalkan. Harusnya bagi mereka yang memiliki pemahaman Islam yang cukup maka hal ini tidak akan mereka pertanyakan, apalagi jika hanya untuk memecah belah kaum muslim.

Harus kami tegaskan bahwa pertanyaan seperti; manakah yang lebih dahulu akidah atau khilafah? Adalah sebuah pertanyaan yang tidak pada tempatnya dipertanyakan oleh seorang pengemban dakwah yang memahami metode dakwah Rasulullah SAW.

Mendudukan Posisi Akidah dan Khilafah

Harus dipahami dengan benar, bahwa sebagai pondasi atau landasan, akidah menduduki posisi yang sangat penting dan utama bagi kehidupan seseorang. Bagi umat Islam, akidah Islam merupakan landasan kehidupan; baik kehidupan individu, masyarakat maupun negara. Akidah Islam juga merupakan sumber kebangkitan umat Islam serta penentu maju dan mundurnya umat ini. Ini terlihat dengan jelas pada kebangkitan bangsa Arab. Bangsa yang sebelumnya tidak mempunyai sejarah, dan tidak pernah diperhitungkan oleh dunia, tiba-tiba muncul ke pentas sejarah sebagai adidaya di dunia, yang disegani oleh kawan dan lawan. Semua ini terjadi setelah bangsa ini memeluk Islam sebagai akidah dan syariat mereka. Demikian sebaliknya dengan saat ini, setelah akidah Islam itu tidak lagi dijadikan landasan kehidupan, baik kehidupan individu, masyarakat maupun negara, serta tidak lagi sebagai sumber kebangkitan mereka, maka bangsa ini akhirnya kembali hina dan dinistakan oleh musuh-musuh mereka, kaum kafir imperialis.

Allah SWT. berfirman:

]أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ[

Apakah orang-orang yang mendirikan bangunan (masjid)-nya di atas dasar ketakwaan kepada Allah dan keridhaan-Nya itu yang baik ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam? (QS at-Taubah [9]: 109).

 

Konteks ayat ini memang berkaitan dengan bangunan masjid, tetapi bangunan masjid di sini ada yang merupakan produk ketakwaan kepada Allah dan keridhaan-Nya, dan ada yang tidak. Allah menyatakan, bahwa produk yang dihasilkan dengan landasan takwa dan keridhaan-Nya adalah produk yang kokoh, demikian sebaliknya. Ini artinya, jika bangunan fisik saja dilandasi oleh akidah—yang dinyatakan sebagai faktor ketakwaan dan keridhaan-Nya—akan menjadi bangunan yang kokoh, lalu bagaimana dengan bangunan non-fisik (Kehidupan berbangsa dan bernegara) yang jauh lebih kompleks ketimbang bangunan fisik? Karena itu, ayat ini juga membuktikan, bahwa akidah Islam ini merupakan pondasi kehidupan, baik kehidupan individu, masyarakat maupun negara, sekaligus merupakan sumber kebangkitan, yang akan menentukan kualitas umat ini.

Persoalannya, akidah seperti apa yang akan mampu mengembalikan kehidupan dan kebangkitan umat ini?

Umat Islam adalah kumpulan manusia yang diikat oleh satu akidah, yakni akidah Islam. Akidah inilah yang telah berhasil menyatukan suku Aus dan Khazraj (baca kembali sirah nabawiyah) , yang sebelumnya dilanda perang saudara yang tak kunjung henti. (Lihat juga: QS Ali Imran [3]: 103).

Akan tetapi, sejarah juga membuktikan bahwa perkembangan mazhab akidah Islam justru menyebabkan Khilafah Abbasiyah berdarah-darah. Pemicunya adalah perbedaan mazhab; Muktazilah versus Ahlussunnah, atau Syiah versus Sunni.[1] Karena itu, akidah Islam yang mana?

Dengan tegas harus dikatakan, bahwa akidah Islam yang bisa menyatukan dan membangkitkan kembali umat ini adalah akidah al-Quran, bukan akidah mazhab, meskipun akidah mazhab ini —sepanjang dibangun berdasarkan dalil syar‘i— masih menjadi bagian dari akidah Islam. Akidah al-Quran ini juga bukan akidah kalam, atau kefilsafatan,[2] tetapi akidah yang unik, dengan metodenya yang khas.[3]

Saat ini, umat Islam masih berakidah Islam, sekalipun akidahnya merupakan akidah mazhab, kalam, dan kefilsafatan. Sebab, setiap Muslim —yang menjadi bagian dari umat ini— siang dan malam masih menyatakan: Lâ Ilâha illâ Allâh Muhammad Rasûlullâh. Namun demikian, akidah umat Islam saat ini telah kehilangan tiga hal:

1.  Kehilangan ikatan dengan pemikiran, kehidupan, dan sistem hukum yang mengatur kehidupannya.

2.  Kehilangan konsepsi tentang apa yang akan datang setelah kehidupan (Hari Kiamat dan Hisab).

3.  Kehilangan tali ikatan antar sesama Muslim sebagai sebuah komunitas, atau ukhuwah Islamiyah.[4]

 

Akibatnya, akidah Islam umat ini seperti mayat, karena telah dipisahkan dari pemikirannya. Akidah umat ini juga tidak lagi mampu menggentarkan mereka akan azab Allah di akhirat serta kerinduan untuk mendapatkan surga-Nya. Terakhir, umat ini telah terbelah dan bercerai-berai menjadi bangsa dan negara (nation state), lebih dari 50 entitas politik yang tak berdaya, akibat dari hilangnya tali ikatan, yang mengikat antar sesama Muslim.

 

Khilafah Menjaga Kemurnian Akidah Islam

Akidah Islam adalah akidah amal; akidah yang mendorong setiap pemeluknya untuk beramal salih dan terikat dengan seluruh syariat Allah. Karena itu, ayat al-Quran selalu menghubungan antara keimanan dengan amal salih, tidak kurang dari 50 ayat. Istilah îmân di dalam ayat-ayat tersebut, menurut Imam Akbar Mahmud Syaltut, adalah akidah, sedangkan amal shâlih adalah syariat (hukum). Dengan kata lain, akidah adalah persoalan hati, sedangkan syariat adalah persoalan fisik; keduanya tidak dapat dipisahkan. Akidah tanpa amal tidak pernah tampak; ibarat bangunan, ada pondasi, tetapi pondasi tersebut tertimbun tanah sehingga tidak tampak. Baru tampak, jika di atas pondasi tersebut ada bangunan. Bangunan di atas pondasi itu adalah syariatnya. Demikian sebaliknya, syariat tanpa pondasi, atau akidah, akan menyebabkan bangunan tersebut rapuh, dan akhirnya dengan mudah akan runtuh.

Karena itu, Allah pun harus menguji setiap orang Mukmin dengan amalnya sehingga layak menyandang predikat Mukmin yang sejati:

]أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ لاَ يُفْتَنُونَ[

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji lagi? (QS al-Ankabut [29]: 2).

 

Dengan konsepsi tersebut, akidah Islam telah berhasil menjadikan pemeluknya jauh lebih kuat dan tegar dalam mengarungi kehidupan sehingga mampu melahirkan para pejuang penakluk dunia, menyebarkan hidayah hampir di 2/3 belahan dunia, setelah mereka mewarisi negara adidaya yang ditinggalkan oleh Rasul, yaitu Khilafah ‘alâ Minhâj an-Nubuwwah. Kini, setelah Khilafah yang diwariskan oleh Rasul itu dihancurkan oleh konspirasi kaum Yahudi Dunamah, Inggris dan Prancis, maka umat Islam tidak lagi mewarisi kemuliaan seperti generasi terdahulu.

Karena itu, kewajiban menegakkan Khilafah yang merupakan perkara ma‘lûm[un] min ad-dîn bi ad-dharûrah dalam rangka mengembalikan kemuliaan Islam dan kaum Muslim— merupakan manifestasi dari akidah Islam, akidah perjuangan itu. Dengan Khilafahlah, umat ini akan bisa menjalankan seluruh perintah dan larangan yang dituntut oleh akidah Islam dengan sempurna. Dengan Khilafahlah, akidah Islam ini bisa dijaga dan dipertahankan kemurniannya.

Karena itu pula, siapa saja yang hendak menjaga kemurniaan akidah Islam, sebagaimana akidah al-Quran, tidak akan pernah berhasil meraih tujuannya tanpa berjuang menegakkan Khilafah. Lihatlah bagaimana Rasulullah membersihkan seluruh aqidah di jazirah Arab setelah beliau berhasil mendirikan Daulah di Madinah dan menaklukan Mekkah. Hancurnya berhala-berhala dan murninya aqidah yang dianut masyarakat terjadi setelah Daulah Madinah menjaganya dengan menghancurkan simbol-simbol kekufuran di Ka’bah.

 

Mana yang Lebih Dahulu Aqidah atau Khilafah?

Jadi, mana yang lebih dulu, menegakkan Khilafah atau mengembalikan akidah? Jawabnya, tentu akidah. Namun, harus ditegaskan dakwah aqidah tersebut adalah langkah awal untuk membentuk generasi pejuang yang menegakkan syariat Islam secara total. Lihatlah bagaimana Rasulullah membentuk para sahabat yang menjadi generasi pejuang yang memperjuangkan terbentuknya Daulah di Madinah. Perhatikanlah perbedaan Bai’at Aqabah pertama dan yang kedua. Bukankah jelas Bai’at Aqabah yang pertama adalah sebuah bai’at keimanan (Aqidah) dan Bai’at yang kedua adalah Bai’at kepemimpinan (kekuasaan) yang menghantarkan terbentuk Daulah Islamiyah yang pertama di Madinah.

Perhatikanlah juga, tidak seluruh penduduk Madinah kemudian beraqidah Islam ketika tegaknya Daulah Islam. Itu menunjukkan bahwa dakwah aqidah harus dilakukan untuk membentuk generasi pejuang. Bukan untuk meng-Islamkan seluruh penduduk kemudian baru membentuk Daulah. Bahkan dakwah Rasul dan Sahabat yang luar biasa-pun tidak mampu meng-Islamkan seluruh penduduk Madinah. Apakah kita merasa lebih hebat dakwahnya daripada mereka yang di ridhoi Allah itu?

Selain itu, bagi mereka yang menganggap bahwa kita cukup mendakwahkan Aqidah saja, nanti jika aqidah sudah dipeluk oleh masyarakat maka Khilafah akan tegak dengan sendirinya sebagai ‘hadiah’ dari Allah SWT adalah suatu pemahaman yang tidak sesuai dengan metode dakwah Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW tidak pernah mencontohkan demikian, beliau tidak pernah berhenti untuk meminta nushrah kepada para penguasa di Jazirah Arab saat itu, agar menyerahkan kepemimpinannya kepada beliau SAW. Baca dan selidiki kembali dengan seksama Sirah Nabawiyah terkait kasus seruan beliau kepada Bani Kindah, Bani Kalb, Bani Hanifah dan Bani ‘Amr bin Sha’sha’ah. Dan apa yang beliau serukan terhadap pemimpin dan penduduk Thaif. Adalah sebuah upaya yang tak pernah berhenti dan menunggu saja terwujudnya Daulah Islam. Begitupun upaya beliau mengutus Mush’ab bin Umair untuk menyertai dan mengajarkan Al-Qur’an kepada penduduk Madinah. Sampai akhirnya penduduk Madinah menyerahkan kepemimpinan kepada Rasulullah SAW pada Bai’at Aqabah yang kedua. Apakah tampak bahwa Rasulullah dan para sahabat sekedar mendakawahkan aqidah kemudian berdiam diri setelah itu? Tentu saja tidak.

Dari sini kita bisa memahami dua hal yaitu, (1) secara materi dakwah, Aqidah harus disampaikan terlebih dahulu, baik itu untuk memperbaiki (kepada sesama muslim) ataupun mengubah (kepada non muslim), (2) sebagai tahapan dakwah, maka tidak boleh berhenti hanya pada pemabhasan aqidah saja tanpa kemudian melanjutkannya dengan perjuangan menegakkan syariat secara total yang hanya bisa terwujud melalui sistem pemerintahan Islam yaitu Khilafah. Karena mustahil untuk merapkan Islam secara total jika menggunakan sistem demokrasi (seperti yang dibawa Barat) dan juga kerajaan (seperti yang dianut Arab Saudi).

Dengan kata lain, jika dakwah hanya berhenti pada aqidah saja, tanpa ada upaya mengarah kepada perjuangan penegakkan Khilafah maka ini tentu telah tidak sesuai dengan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Perhatikan dan pahami prosesi dakwah beliau yang tidak berhenti sampai aqidah saja, tapi terus dilanjutkan sampai diperolehnya kepemimpinan di Madinah (silahkan membaca dan memahami kembali sirah nabawiyah dengan seksama).

Oleh karenanya, mereka yang telah menyatakan dirinya sebagai pemeluk aqidah yang sahih namun tak tergerak untuk menegakkan Khilafah berarti telah telah ada keterputusan antara iman dan amalnya. Karena mereka yang mengaku beriman tentu harus beramal secara total terhadap seluruh perintah Allah dan Rasulullah SAW.

Walhasil, mereka yang mengklaim akidahnya sahih, tetapi tidak terdorong untuk berjuang ke arah penegakkan Khilafah, sesungguhnya mengindikasikan akidahnya bak mayat, dan tentu harus dipertanyakan; sahihkan akidah Anda? Wallâhu a‘lam!

 



[1] Lebih jauh, lihat: Mohammad Maghfur W, MA., Koreksi atas Kesalahan Pemikiran Kalam dan Filsafat Islam, Penerbit al-Izzah, Bangil, cet. I, 2002.

[2] Pembahasan lebih jauh tentang kesalahan metode kalam dan filsafat dalam membangun akidah Islam, lihat: as-Syaikh Taqiyuddîn an-Nabhâni, as-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah, Min Mansyûrat Hizb at-Tahrîr, cet. VI, 2003, I/57-65 dan 125-129.

[3] Pembahasan lebih jauh tentang karakteristik akidah Islam, yang merupakan akidah al-Quran, serta bagaimana metode membangunnya, lihat: as-Syaikh Taqiyuddîn an-Nabhâni, Ibid, hlm. 29-48.

[4] Lihat: Seruan Hizbut Tahrir kepada Kaum Muslim, Pustaka Thariqul Izzah, Bogor, cet. I, 2003, hlm. 126-127.

2 thoughts on “AQIDAH (TAUHID) ATAU KHILAFAH?

  1. afwan, benarkah hizbut tahrir tidak mengakui hadis ahad sebagai hujjah aqidah?? kalau benar kayaknya jadi kontradiksi dgn tulisan antum. ulama dan umat islam kan bersepakat memakai hadis ahad dalam aqidah. kesannya HT -kalau benar menolak hadis ahad dlm aqidah- malah memisahkan diri dari pemahaman aqidah ummat islam. akibatnya ummat akan tdk bersatu. tapi semoga tuduhan ini -tuduhan bahwa HT menolak hadis ahad dalam aqidah- adalah tidak benar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s