Diskusi Keimanan (3)

Betul, saya ingin menanyakan hal itu. Apakah mereka bisa dikatakan tidak beriman? Bukankah kita tidak dapat mengetahui isi pikiran dan hati orang lain? Dan kita tidak bisa menuduh sembarangan bahwa mereka tidak beriman, bukan?

Itu benar, oleh karenanya agar kita tidak menduga-duga dan me-reka-reka bahkan menuduh mereka. Maka kita tanyakan saja kepada Yang Maha Tahu. Caranya adalah dengan kembali membuka petunjuk jalan kehidupan kita (Al-Qur’an).

Menurut Allah SWT di dalam kalam-Nya (Al-Qur’an), status orang-orang tersebut (yaitu orang-orang yang tidak mau tunduk terhadap hukum-hukum Allah) dihadapan Sang Pembuat Hukum tersebut (Allah SWT) hanya memiliki tiga kemungkinan status,

Pertama, sesungguhnya mereka adalah orang-orang kafir, Allah SWT berfirman:

“Dan barangsiapa yang tidak mau berhukum dengan apa-apa yang telah diturunkan Allah, maka sesungguhnya mereka adalah orang-orang kafir” (Terjmah al-Qur’an surah al-Maidah: 44)

Meski tampak luarnya (ia mengatakannya dirinya beriman) akan tetapi sesungguhnya ia hendak menipu Allah dan kaum muslim, mereka adalah orang-orang yang munafik. Allah dengan jelas menggambarkan sifat mereka ini dalam firman-Nya:

Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan hari kiamat” pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.” (Terjemah Al-Qur’an surah al-Baqarah: 8-9)

Orang-orang munafik sebagaimana digambarkan dalam ayat diatas, sesungguhnya bukanlah orang yang beriman. Tampak luarnya mereka seperti orang beriman namun di dalam hatinya tidak ada iman. Mereka sama seperti orang yang kafir dalam masalah keimanan. Contoh dari mereka ini adalah mereka yang didalam hatinya terdapat keyakinan bahwa hukum-hukum positif barat (atau yang lainnya) adalah lebih baik daripada hukum-hukum Allah (syariat Islam), jika ia meyakini hal demikian maka berlakulah status ini kepada dirinya.

Kedua, Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang zalim, Allah SWT berfirman:

“Dan barangsiapa yang tidak mau berhukum dengan apa-apa yang telah diturunkan Allah, maka sesungguhnya mereka adalah orang-orang zalim” (Terjemah al-Qur’an surah al-Maidah: 45)

Jika pada yang pertama merupakan status yang terburuk karena terkait dengan pendustaan terhadap keimanan yang diikrarkan, maka pada status yang kedua digambarkan sebagai pembangkangan terhadap perintah Allah meskipun di dalam dirinya masih terdapat iman. Mereka inilah orang-orang yang telah menzalimi (membahayakan) dirinya sendiri dan orang lain. Ketika ia tidak taat kepada Allah dan menetapkan hukum lain selain hukum Allah terhadap dirinya atau kepada orang lain (ketika menjadi pemimpin) maka mereka inilah orang-orang zalim (pembangkang kepada Allah SWT).

Ketiga, Sesungguhnya mereka adalah orang-orang fasik, Allah SWT berfirman:

“Dan barangsiapa yang tidak mau berhukum dengan apa-apa yang telah diturunkan Allah, maka sesungguhnya mereka adalah orang-orang fasik” (al-Maidah: 47)

Orang-orang yang fasik adalah orang-orang yang sering melakukan kemaksyiatan kepada Allah. Yaitu orang-orang lebih menyukai (mencintai) melakukan perbuatan-perbuatan maksyiat (melanggar syariat Allah) dari pada meninggalkannya.

Ganjaran bagi mereka semua adalah neraka. Status yang pertama (orang-orang munafik) mereka kekal di dalamnya karena sesungguhnya mereka adalah sama seperti orang kafir, sedangkan status yang kedua (zalim dan fasik) mereka berada dalam neraka yang hanya Allah yang tahu sampai berapa lama mereka ada di dalamnya.

Jelaslah bagi kita, bahwa apabila kita telah menyatakan iman dan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, maka tidak ada jalan lain untuk membuktikan cinta itu kecuali hanya ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan cara kita untuk taat itu adalah dengan mengikuti dan meneladani Rasulullah SAW atau dengan kata lain kita tunduk dan patuh kepada seluruh syariat yang telah diturunkan Allah kepada Rasulullah SAW yaitu Islam.

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh”. dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung.” (An-Nur: 51)

Mari renungkan bersama, masuk dalam golongan manakah kita ini? Semoga Allah SWT membantu kita untuk tetap berada dalam golongan kaum mukmin, bukan golongan kaum fasik dan zalim apalagi sampai kafir dan atau munafik. Naudzubillah.

Hadanallahu waiyyakum ajma’in

Wallahu’alambishowwab

The End

2 thoughts on “Diskusi Keimanan (3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s