POLIGAMI TIDAKLAH SAMA SEPERTI DAGING KAMBING DAN BUAH DUREN

Sudah menjadi pemahaman umum dan tidak ada perbedaan pendapat dikalangan para ulama yang hanif (lurus) tentang kebolehan berpoligami dalam Islam. Para muslimahpun sudah mafhum (faham) bahwa Allah SWT telah mengijinkan (baca: membolehkan) poligami. Kebolehan pligami adalah berdasarkan firman Allah Ta’ala dalam Qur’an surah An Nisa ayat 3. Hanya memang persoalan ini lebih sering diangkat dan dipersoalkan terutama oleh kaum gender dan liberal untuk merusak hukum-hukum Islam.

Sehingga kebanyakan perempuan masih menganggap poligami adalah sesuatu yang buruk atau paling tidak meyakitkan. Hal ini kemudian diperparah dengan racun pemahaman dimasyarakat yang melihat poligami dengan kacamata ‘kebencian’. Sehingga dengan mudah mereka akan mengatakan bahwa isteri pertama jika mau dimadu itu adalah isteri yang tidak becus mengurusi suami atau minimal mereka mengatakan jika becuspun mengurusi rumah tangganya berarti ia adalah wanita bodoh karena mau dimadu. Sedang untuk isteri kedua, ketiga, dan keempat akan dipandang sebagai perusak rumah tangga orang lain. Murahan, tidak bermoral, tidak laku seperti tidak ada laki-laki lain saja. Pemahaman seperti ini akhirnya mampu mendorong masyarakat khususnya kaum perempuan untuk membenci poligami atau minimal menolak poligami.

Jika masyarakat secara umum maka kita masih merasa sedikit wajar, sehingga menjadi kewajiban kita untuk memberikan pemahaman yang benar kepada mereka. Yang cukup memprihatinkan sekaligus mengherankan adalah, adanya kaum muslimah pengemban dakwah yang terus berteriak “tegakkan syariat Islam!!!” ikut terpengaruh dengan pemahaman tersebut sehingga begitu berat menerima kebolehan poligami. Perkataan yang keluar tentu tidak sama dengan masyarakat umumnya, ada diantaranya yang mengatakan, “benar poligami itu mubah (boleh) tapi saya tidak menyukainya. Seperti daging kambing atau buah duren lah, meski mubah tapi saya tidak menyukai” Lalu bagaimana jika nanti memiliki suami yang ingin berpoligami?. “Ah itu terserah dia, tapi saya akan mengatakan dengan jujur dan tulus bahwa saya tidak menyukai dia melakukan hal tersebut” atau dia mengatakan; “saya akan cari suami yang satu pemahaman dengan saya saja yang tidak suka dengan ‘daging kambing’ atau ‘buah duren’ dan saya pikir lelaki yang seperti itu masih banyak, masih seribu banding satu lah”.

Menurut saya wanita pejuang syariah tidak sepatutnya memiliki pemikiran yang seperti itu. Begitu sempit dan dangkalnya pemahaman seperti itu. Padahal dia memahami bahwa disetiap hukum Allah pasti ada manfaat di dalamnya. Dan poligami adalah salah hukum syariat yang dapat memecahkan berbagai persoalan sosial di masyarakat. Saya pikir muslimah yang memiliki pemahaman seperti ini memiliki kesalahan berpikir yang fatal. Dia melihat poligami akan menyebabkan permasalahan, padahal seharusnya ia berpikir bahwa poligami adalah solusi bukan masalah.

Apa yang sebenrnya terjadi dengan muslimah pejuang syariah seperti ini? Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab mereka yang seperti ini, diantarnya;

Pertama dan yang paling mendasar adalah, tidak menyatunya antara pemikiran dan perasaan. Ia yakin akan kebolehan poligami berdasarkan syariat Islam, tetapi ia tidak rela kalau poligami itu menimpa keluarga atau dirinya. Mentalnya tidak siap. Perasaannya belum tunduk dibawah pemahamannya terhadap hukum Allah.

Kedua, takut kalau tersaingi dan kalah bersaing. Sehingga begitu khawatir akan tersisih dan kesepian. Tidak lagi diperhatikan oleh suami. Banyak kaum perempuan merasa bahwa jika suami menikah lagi dianggap sebagai suatu kekalahan telak yang sangat memalukan.

Ketiga, tidak mempercayai keimanan suaminya. Ia khawatir bahwa suaminya akan berlaku tidak adil. Dia terpengaruh opini sesat bahwa jika laki-laki menikah lagi maka ia akan lebih menyayangi dan memanjakan isteri ‘muda’nya (isteri kedua belum tentu lebih muda kan). Dia ragu akan pemahaman dan keimanan suaminya bahwa laki-laki harus adil terhadap isteri-isterinya. Padahal ia juga tahu bahwa Allah membolehkan adanya kecondongan perasaan cinta suami kepada salah satu atau beberapa isteri dibandingkan yang lain. Namun suami tetap wajib adil dalam hal harta, giliran perhatian, perlakuan dan bermalam.

Kelima, kekahwatiran akan pandangan masyarakat yang bathil akibat masih kuatnya opini miring tentang poligami. Masyarakat masih memandang poligami adalah ‘aib’. Buktinya jika ada yang ‘ketahuan’ berpoligami maka dengan serta merta akan menjadi bahan gunjingan (ghibah).

Wahai saudariku tercinta kaum muslimah yang dirahmati Allah. Renungkanlah dengan lebih mendalam lagi, bahwa kalian adalah pejuang digaris terdepan dalam tegaknya syariah nanti. Bagaimana jadinya jika dalam satu perkara kalian menuntut kepada masyarakat untuk ditegakkan syariat namun dalam perkara yang sama (tegaknya syariah ini) kalian memiliki perasaan yang tidak mendukung tertegakkannya. Kalian adalah kaum yang memahami seruan ini. Pikirkanlah kembali dengan pemikiran yang cemerlang, maka kalian akan menyadari bahwa POLIGAMI TIDAKLAH SAMA SEPERTI DAGING KAMBING DAN BUAH DUREN.

Wallahu’alam bishowab…

2 thoughts on “POLIGAMI TIDAKLAH SAMA SEPERTI DAGING KAMBING DAN BUAH DUREN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s