Diskusi Seputar Keimanan (1)

Hanya Ikut-Ikutan Dalam Beragama?!!

Saudaraku kaum muslim yang dirahmati Allah SWT, semoga Allah melimpahkan rahmat dan hidayah kepada kami dan Anda semua. Kita sama-sama berharap bahwa kita termasuk dalam golongan orang-orang mukmin yang muttaqin. Orang-orang yang memperoleh ridho dan rahmat dari Allah SWT serta memperoleh syafaat dari baginda Rasulullah SAW dihari akhir nanti.

Kita sama-sama memahami bahwa iman adalah hal pertama dan terpenting yang terlebih dahulu harus manusia miliki sebelum mereka mau mentaati Allah dan Rasul-Nya. Namun, tidak semua mukmin dapat menaati Allah dan Rasul-Nya dengan perasaan sukacita. Ada sebagian mukmin yang melakukannya dengan ‘keterpaksaan’, berat rasa hatinya, meski ia tetap tidak ingin menyalahi Allah dan Rasul-Nya. Oleh karenanya, setelah iman maka cinta kepada keduanya akan mampu membuat hati kita ringan dalam meraih ridho keduanya meski dalam keadaan yang berat. Sebagian dari kita terkadang masih memiliki perasaan berat ini dalam melaksanakan perintah Allah. Perasaan berat tersebut bukan karena kita tidak ingin taat. Terkadang, banyak hal yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan hidup kita di dunia ataupun perasaan hawa nafsu kita cukup besar untuk menjadi gerbong yang harus ditarik oleh iman kita.

Sesungguhnya sebagian dari kita, patut untuk bersyukur ketika terlahir ke dunia berada dalam keluarga yang telah muslim. Namun demikian, akan menjadi tidak adil bagi manusia yang tidak terlahir dalam keluarga yang tidak muslim, jika Allah hanya memberikan penilaian berdasarkan kelahiran. Akan menjadi tidak adil jika orang-orang yang mengatakan dirinya beriman tersebut tidak dicek keimanannya. Juga tidak adil jika kita pikirkan, apabila Allah menghukumi mereka yang tidak terlahir dari keluarga yang muslim. Dan tidaklah mungkin alias mustahil bagi Allah SWT memiliki sifat yang tidak adil tersebut, karena Allah SWT Maha Adil. Betul kan?

Apakah salah jika kami mengikuti apa yang diajarkan oleh orang tua kami, dari nenek moyang kami. Kami melihat mereka adalah orang yang baik dan terhormat di tengah-tengah masyarakat?

Jawabnya bisa benar bisa salah. Contohnya, jika nenek moyang kita beragama non Islam maka mereka mengajarkan agamanya kepada anak-anaknya. Apakah agama itu diterima oleh Allah? Tentu tidak.

“Barangsiapa mencari agama selain agama islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali Imran: 85)

Sebaik apapun prasangka kita terhadap agama nenek moyang kita, setelah datangnya utusan Allah yang membawa petunjuk (Islam) maka kita harus meninggalkan ajaran nenek moyan kita tersebut dan hanya berpegang pada Islam saja. Allah SWT berfirman:

“Dan Demikianlah, kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak- bapak kami menganut suatu agama dan Sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka”.

“(rasul itu) berkata: “Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun Aku membawa untukmu (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk daripada apa yang kamu dapati bapak-bapakmu menganutnya?” mereka menjawab: “Sesungguhnya kami mengingkari agama yang kamu diutus untuk menyampaikannya.”

“Maka kami binasakan mereka, maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.” (Az-Zukhruf: 23-25)

Tapi kami tidak yakin atau tidak tahu apakah orang tua kami tersesat atau tidak, sehingga kami hanya mengikuti apa yang diajarkan saja. Apakah itu salah?

Allah memberikan kepada setiap manusia potensi yang sama. Pada diri kita (manusia) Allah memberikan potensi yang dilebihkan dari makhluk-makhluk-Nya yang lain, agar dengan potensi itu manusia dapat menemukan kebenaran (hidayah). Allah sudah meminta manusia untuk mencari kebenaran itu menggunakan potensi (akal)nya. Salah satu Firman Allah SWT tentang hal ini misalnya,

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (Ali Imran: 190)

Tidak hanya dengan potensi itu, karena akal itu terbatas kemampuannya. Oleh karenanya Allah juga telah mengutus Rasul-Nya, agar manusia tidak salah menggunakan potensinya itu dan juga agar tidak ada lagi alasan bagi manusia untuk tidak mengetahui kebenaran yang datang dari Tuhannya (Allah) Sang Pemilik Alam Semesta ini.

“(mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (An-Nisa: 165)

Dan Allah akan mengazab siapa saja yang tidak mau mengikuti apa yang dibawa oleh rasul-nya itu,

“Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), Maka Sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat Maka Sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan kami tidak akan meng’azab sebelum kami mengutus seorang rasul.” (Al-Israa’: 15)

Memperhatikan ayat-ayat diatas tentu berlaku pula bagi kita yang bahkan terlahir dari keluarga muslim, kita juga harus mengecek ke-Islaman yang diajarkan oleh nenek moyang kita kepada kita.

Bagaimana caranya?!

Dengan mengecek apakah yang diajarkan mereka telah sesuai dengan hidayah (Al-Qur’an dan As-Sunnah) yang dibawa oleh Rasul-Nya. Dengan memperhatikan berbagai amalan yang telah mereka ajarkan dan lakukan. Karena Allah melarang kita untuk sekedar ikut-ikutan saja tanpa mengecek kebenarannya lagi, meskipun ia datang dari orang tua kita yang beragama Islam sekalipun.

Mengapa demikian?!

Karena bukan ajaran nenek moyang yang dituntut oleh Allah sebagai sandaran bagi kita, akan tetapi apa yang dibawa oleh Rasul-Nya (Islam) itu sendiri.

Begitu juga peringatan Allah SWT dalam firmannya;

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang diturunkan Allah”. mereka menjawab: “(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)? (Luqman: 21)

“Sesungguhnya mereka mendapati bapak-bapak mereka dalam Keadaaan sesat. Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak orang-orang tua mereka itu. Dan Sesungguhnya Telah sesat sebelum mereka sebagian besar dari orang-orang yang dahulu. Dan Sesungguhnya Telah kami utus pemberi-pemberi peringatan (rasul-rasul) di kalangan mereka.” (Ash-Shaaffat: 69-72)

Dalam ayat-ayat diatas, mudah kita pahami bahwa siapa saja dilarang untuk sekedar ikut-ikutan terhadap agama nenek moyangnya, kita harus mengecek apakah yang diajarkan oleh bapak-bapak (nenek moyang) mereka telah sesuai dengan apa yang diturunkan oleh Allah atau tidak? Jangan sampai kita ikut tersesat karena kesesatan yang mungkin terjadi pada nenek moyang kita.

Tapi apa yang telah dilakukan oleh nenek moyang kami adalah sebagaimana yang juga telah banyak dilakukan oleh kebanyakan orang? Masyarakat secara luas tidak memandangnya buruk? Masa iya dari sekian banyak orang itu salah semua?

Kaidah ‘menurut orang banyak’ itu bukanlah menjadi alasan (dalil) di dalam Islam. Coba anda cari tahu ke suatu tempat seperti di Eropa, di sana orang-orang telah terbiasa dan tidak menganggap buruk membuka aurat (telanjang) di hadapan publik. Orang banyak berpendapat demikian, apakah menurut anda membuka aurat itu baik? Atau yang mudah di indera saat ini. Riba itu haram atau halal? Jika kita mengikuti suara mayoritas maka riba itu halal, mengapa? Karena saat ini jauh lebih banyak yang menghalalkan bunga Bank (riba) daripada yang menghramkannya. Allah SWT juga telah mengisyaratkan bahwa diantara manusia ada banyak orang-orang yang akan mengamalkan kaidah ‘suara mayoritas’ ini.

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (Al-An’am: 116)

Tidak mesti apa yang menjadi suara mayoritas itu benar, penilaian masyarakat meski mayoritas tidak dapat kita jadikan sandaran untuk menentukan apakah sesuatu itu benar atau salah. Karena jika disuatu daerah yang tidak mengenal syariat Islam kemudian mereka bersepakat untuk melakukan kemaksyiatan semua maka maksyiatlah semuanya. Disinilah kita kemudian wajib untuk menggunakan potensi akal kita untuk memahami ayat-ayat Allah SWT dan bertanya kepada para ahli zikir atau ahli ilmu (‘ulama) tentang Islam. Dan mencari tahu untuk memahami Islam yang benar adalah kewajiban bagi setiap orang.

Dan kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan (‘ulama) jika kamu tidak mengetahui, (An-Nahl: 43)

Dari ayat di atas kita dapat memahami bahwa, Rasul diutus untuk menjelaskan hidayah (petunjuk) kehidupan dan mengajarkan kepada manusia. Sebagian manusia bertemu dan belajar langsung dari nabi sehingga mereka mengetahui dan mengajarkannya kepada yang lain. Setelah itu bagi kita yang tidak mengetahui maka belajarlah kepada mereka yang mengetahui itu. Dan para ulama adalah pewaris para nabi (dari sifat-sifat amal dan ilmunya). Kepada merekalah kita mesti belajar dan menanyakan apa saja yang tidak kita ketahui tentang Islam ini. Tentu saja kita bertanya kepada para ‘ulama yang hanif (lurus dan cenderung kepada kebenaran), bukan ‘ulama yang menjadikan hawa nafsu dan kebutuhan hidupnya berada diatas agamanya (menjual ayat-ayat Allah).

Ulama adalah orang-orang yang merupakan lambang iman dan harapan umat, serta memberikan petunjuk (hidayah) dengan hanya berpegang pada Islam. Mereka mewarisi karakter Nabi dalam keterikatannya terhadap wahyu Allah SWT. Rasullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya perumpamaan Ulama dimuka bumi laksana bintang-bintang yang ada dilangit yang menerangi gelapnya bumi dan laut. apabila padam cahayanya maka jalan akan kabur.” (HR. Ahmad). Dalam hadis yang lain Beliau SAW bersabda: “Sesungguhnya kedudukan seorang alim sama seperti kedudukan bulan diantara bintang-bintang. Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para nabi.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Kepada ulama yang seperti inilah kita mencari tahu dan bertanya tentang Islam.

Mari istirahat dan kita renungkan perlahan-lahan, hal-hal yang telah kita diskusikan diatas. Semoga Allah memberikan hidayah taufiknya kepada kita. Amin.

………

Jika telah selesai kita meresapinya, mari kita lanjutkan lagi diskusi ini.

Kembali kepada apa yang menjadi pembahasan kita yang pertama di awal tulisan yaitu persoalan iman. Sebagian kita memang telah dilahirkan dalam keluarga muslim, ada yang terlahir dalam keluarga muslim yang taat namun tidak dipungkiri juga ada yang lahir pada keluarga muslim yang tidak taat. Ada yang lahir dari keluarga muslim yang memiliki keimanan yang benar dan ada pula yang lahir dari keluarga yang memiliki keimanan yang kurang bahkan tidak benar. Oleh karena itulah kita perlu memahami (sebagai orang-orang yang telah terlahir dari keluarga muslim) untuk melakukan pengecekan  kembali terhadap keimanan kita dan keluarga kita.

Betul, pengecekkan! Itu yang ada dibenak saya, dan belum secara gamblang anda jelaskan. Bagaimana caranya agar kita tahu  bahwa keluarga kita telah benar imannya?

Pengecekkan terhadap keimanan yang benar tersebut tidaklah sulit, jika kita dapat mengetahui dan memahami bagaimana ciri orang yang beriman tersebut. Sebelum itu kita terlebih dahulu harus memahami apa yang dimaksud beriman tersebut.

Iman adalah pembenaran yang pasti (tashdiqul jazm) akan sesuatu. Mengimani Allah SWT dan Rasulullah SAW di dalam Islam artinya adalah pembenaran yang pasti tentang Allah sebagai Tuhan (Rabb) yang menciptakan seluruh makhluk yang wajib di sembah (Ilahiyah) sekaligus sebagai pengatur (pembuat hukum/Al-Hakim) dalam kehidupan manusia (rububiyah). Sedangkan mengimani Rasulullah memiliki makna meyakini Muhammad bin Abdullah sebagai Nabi sekaligus Rasul yang diutus Allah SWT untuk memberikan pentunjuk dan teladan kepada seluruh umat manusia dalam menjalani kehidupan didunia agar dapat sesuai dengan keinginan Allah (ridho). Iman kepada keduanya juga berarti bahwa kita menerima segala informasi apapun yang datang dari keduanya, baik yang dapat diindera maupun yang tidak mampu kita indera (ghaib). Seperti mengimani adanya malaikat, hari akhirat, dan rasul-rasul dan kitab-kitab terdahulu. Begitu juga mengimani tentang qadha (ketetapan) dan qadar (potensi/ukuran) terhadap setiap makhluknya yang baik maupun yang buruk dalam pandangan kita (manusia) semua berasal dari Allah. Sedang kafir (tidak iman) adalah kebalikan dari hal itu semua.

“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada Kitab yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya dan kepada Kitab yang diturunkan sebelumnya. Dan siapa saja yang mengingkari Allah dan Malaikat-Nya dan Kitab-Kitab-Nya dan Rasul-Rasul-Nya dan Hari Akhir maka ia telah sesat sejauh-jauh kesesatan” (An-Nisa 136).

Dalam ayat tersebut Allah SWT memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk tetap dalam keimanannya. Dengan pemahaman itu, maka setiap orang yang telah beriman terdapat kemungkinan bahwa mereka dapat keluar dari keimanannya. Dan tidaklah seseorang itu dikatakan tetap berada dalam keimanan yang benar kecuali ia memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

Be continued…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s