Akhlaq Tidak Dapat Membangiktkan Umat

Akhlaq Tidak Dapat Membangiktkan Umat

 

Ada cerita menarik sekitar tiga minggu yang lalu di sebuah acara workshop local genius di Yogyakarta. Dalam diskusi yang sangat singkat dengan salah seorang teman dosen tentang problem negara, teman dosen tersebut mengatakan persoalan bangsa ini (keterpurukan dan ketidak mampuan untuk bangkit) bukanlah pada perangkat kerasnya (perubahan tata negara dan sistemnya) melainkan perangkat lunaknya (akhlaq dan perilaku) dari para pelaksana negaranya. Saat itu saya tidak langsung mendiskusikannya, sebab diskusi tersebut tidak dapat dilanjutkan secara serius karena pemateri workshop sudah memulai presentasinya. Dengan harapan mudah-mudahan nantinya bisa berdiskusi lagi.

Namun ternyata, sampai saat ini kesempatan berdiskusi lagi belum bisa terlaksana. Oleh karenanya, terdorong penasaran terhadap diskusi tersebut, sayapun menuliskan artikel ini, semoga beliau yang jua sering aktif di internet dapat membacanya.

Sebenarnya sudah terlalu sering saya mendengar komentar-komentar para tokoh, Kyai, “cendekiawan muslim”, yang mengatakan bahwa: “Kehancuran bangsa ini, karena akhlaq pemimpinnya telah rusak” atau “mereka yang menjalankan sistem saat ini moralnya telah bobrok” atau “jika akhlaqnya telah baik, maka pasti kita akan bangkit untuk mengangkat keterpurukan bangsa ini” dan lain sebagainya. Benarkah akhlaq ini sebagai merupakan sumber utama malapetaka keterpurukan umat saat ini? Apakah mungkin, jika akhlaqnya dibangun maka umat/bangsa ini akan bangkit?

 

Mereka-mereka (termasuk dosen teman saya tadi), mengatakan bahwa keterpurukan umat ini karena akhlaq, menggunakan dalil-dalil berikut sebagai pembenarannya:

Sesungguhnya engkau (muhammad) benar-benar memiliki akhlaq yang agung (Al-Qalam 4).

Aku ini diutus untuk menyempurnakan akhlaq (HR Al-Bazaar).

 

Agar kita sama-sama tidak salah dalam memahami tentang Ahklaq ini, maka terlebih dahulu mari samakan persepsi agar tidak salah pengertian dan akhirnya tidak mendapatkan kebenaran sebagai titik temu dari perbedaan.

 

Pengertian Akhlaq

Akhlaq (akhlaq) adalah bentuk plural dari khulq atau khuluq. Secara literal, khulq atau khuluq bermakna syajiyah, filân, murû‘ah, ‘âdah, dan thab‘ (karakter, kejiwaan, kehormatan diri, adat-kebiasaan, dan sifat alami) (Lihat Imam al-Raziy, Mukhtaar al-Shihaah).

 

Al-Mawardi menyatakan bahwa makna hakiki dari khuluq adalah adab (budi pekerti) yang diadopsi oleh seseorang, yang kemudian dijadikan sebagai karakter dirinya (Imam Qurthubi, Tafsîr al-Qurthubî). Sedangkan budi pekerti yang telah melekat pada diri seseorang disebut dengan khîm, syajiyah, dan thabî‘ah (karakter). Atas dasar itu, akhlaq adalah al-khîm al-mutakallaf (karakter yang dibebankan atau karakter ciptaan), sedangkan khîm adalah thab‘ gharizî (karakter yang bersifat naluriah (tabiat atau karakter bawaan).

 

Kadang-kadang khuluq digunakan dengan makna agama (dîn) dan kebiasaan (‘âdah). Al-Quran telah menggunakan kata khuluq dengan makna agama dan kebiasaan dalam surat al-Syu‘ara’ (26) ayat 137 dan al-Qalam (68) ayat 4. Allah Swt. berfirman:

 

إِنْ هَذَا إِلاَّ خُلُقُ اْلأَوَّلِينَ

 

 (Agama kami) ini tidak lain hanyalah adat-kebiasaan orang dulu. (QS [26]: 137).

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS al-Qalam [68]: 4).

    

Makna khuluq yang terdapat dalam surat al-Qalam ayat 4 adalah dîn (agama). Al-‘Aufi menyatakan bahwa khuluq ‘azhîm maknanya adalah dînuka al-‘azhîm. Penafsiran semacam ini juga dianut oleh adh-Dhahak, Mujahid, Abu Malik, Rabi‘ bin Anas, Ibn Zaid, Imam Ahmad, dan lain-lain. Sedangkan Ibn ‘Athiyyah menafsirkan khuluq ‘azhîm dengan al-adab al-azhîm (budi pekerti atau karakter yang agung) (Imam Ibnu Katsir, Tafsîr Ibn Katsîr).

 

Yang dimaksud dengan adab di sini bukanlah budi pekerti (karakter) yang lahir secara alamiah atau nilai-nilai universal yang luhur, tetapi adab yang lahir dari al-Quran. Imam ath-Thabari menyatakan, bahwa maksud dari kalimat wa innaka la‘ala khuluqin ‘azhîm adalah adabin ‘azhîm”. Maksudnya, karakter budi pekerti Rasulullah adalah budi pekerti yang dibentuk oleh al-Quran, bukan karakter alamiah yang terpisah dari al-Quran dan as-Sunnah. Dengan kata lain, budi pekerti (adab) Rasulullah saw. adalah Islam dan syariat-Nya (hukum-hukum Allah Swt.). Menurut Imam ath-Thabari, ini adalah pendapat para ahli tafsir. (Imam ath-Thabari, Tafsîr ath-Thabarî).

 

Qatadah menuturkan sebuah riwayat yang menyatakan, bahwa Aisyah pernah ditanya tentang akhlaq Rasulullah saw. Beliau menjawab, “Akhlaq Rasulullah saw. adalah al-Quran.”

 

Sa‘id bin Abi ‘Arubah, tatkala menafsirkan firman Allah Swt., wa innaka la‘ala khuluqin ‘azhîm, menyatakan, “Telah dituturkan kepada kami, bahwa Sa‘id bin Hisyam bertanya kepada ‘Aisyah tentang akhlaq Rasulullah saw. ‘Aisyah menjawab, ‘Bukankah kamu membaca al-Quran.’”

 

Imam Abu Dawud dan Nasa’i juga meriwayatkan sebuah hadis dari Aisyah r.a. yang menyatakan bahwa akhlaq Rasulullah saw. adalah al-Quran.

 

Imam Ibn Katsir menyatakan bahwa akhlaq Rasulullah saw. adalah refleksi dari al-Quran. Beliau menambahkan lagi, sesungguhnya karakter (akhlaq) Rasulullah saw. merupakan wujud dari ketaatan beliau pada perintah dan larangan Allah Swt. Beliau senantiasa mengerjakan apa yang diperintahkan Allah dan meninggalkan apa yang dilarang oleh-Nya. Wajar saja jika dalam sebuah riwayat, Rasulullah saw. bersabda:

 

إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلاَقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq.” (HR Ahmad).

 

Dari seluruh penjelasan di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa akhlaq adalah karakter ciptaan (fabricated), bukan karakter bawaan (khîm). Akhlaq seorang Muslim berbeda dengan akhlaq non-Muslim. Akhlaq seorang Muslim dibentuk berdasarkan al-Quran (aqidah dan syariat-Nya). Sebaliknya, akhlaq non-Muslim dibentuk berdasarkan prinsip-prinsip non- Islam. Untuk itu, meskipun sama-sama jujur, kita tidak bisa menyatakan bahwa seorang kapitalis dan seorang Muslim sama-sama memiliki akhlaq yang baik. Sebab, proses pembentukkan karakter dirinya tidaklah sama. Kejujuran seorang Muslim selalu didasarkan pada aqidah dan syariat Islam. Dengan kata lain, kejujurannya adalah buah dari pelaksanaan ajaran-ajaran Islam, tidak dibentuk semata-mata karena jujur itu adalah nilai-nilai universal atau karena bermanfaat.

 

Berbeda dengan kapitalis maupun sosialis. Kejujurannya tidak didasarkan pada prinsip-prinsip Islam, tetapi hanya didasarkan pada prinsip manfaat dan kemanusiaan belaka. Kejujurannya sama sekali tidak dibangun di atas prinsip ketakwaan kepada Allah Swt. Walhasil, akhlaq seorang Muslim berbeda dengan akhlaq orang kafir, meskipun penampakannya sama.

 

Akhlaq seorang Muslim merupakan refleksi dari pelaksanaan dirinya terhadap hukum-hukum syariat. Seseorang tidak disebut berakhlaq Islam ketika nilai-nilai akhlaq tersebut dilekatkan pada perbuatan-perbuatan yang diharamkan Allah Swt. Misalnya, pegawai bank yang senantiasa terlibat dalam transaksi ribawi tidak disebut berakhlaq Islam meskipun ia terkenal jujur, disiplin, dan sopan. Sebab, ia telah melekatkan sifat-sifat akhlaq pada perbuatan yang diharamkan Allah Swt. Anggota parlemen yang membuat aturan-aturan kufur juga tidak bisa disebut memiliki akhlaq Islam meskipun ia terkenal jujur, amanah, dan seterusnya. Sebab, nilai-nilai akhlaqnya telah melekat pada perbuatan haram. Walhasil, akhlaq seorang Muslim harus dibentuk berdasarkan al-Quran al-Karim. Dengan kata lain, akhlaq seorang Muslim adalah refleksi dari pelaksanaan hukum-hukum Allah Swt.

 

 

Posisi Akhlaq Dalam Islam

Setelah kita memahami pengertian ahklaq seperti yang disebutkan oleh para ‘ulama diatas, selanjutnya kita juga harus memahami bagaimana posisi akhlaq tersebut dalam Islam dan dimana perannya dalam kesempurnaan dien Islam?

 

Memang benar, akhlaq merupakan salah satu bagian dari ajaran Islam. Namun demikian, kita tidak boleh memahami, bahwa akhlaq yang dimaksud di sini sekadar sebagai nilai-nilai universal, yang terlepas sama sekali dengan konteks hukum syariat. Kejujuran, amanah, disiplin, rasa hormat, dan lain-lain merupakan nilai akhlaq yang mulia. Semuanya adalah nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh umat manusia tanpa memperhatikan agama, ras, suku dan jenis kelamin. Kaum Kristen, Budha, Yahudi, Konghucu, dan kaum kapitalis pun sangat menjunjung tinggi nilai-nilai itu; bahkan berusaha untuk menerapkannya. Kaum Muslim juga menjunjung tinggi dan berusaha menerapkan nilai-nilai tersebut di dalam kehidupannya.

 

Namun demikian, seorang Muslim tatkala hendak menerapkan nilai-nilai yang sangat mulia itu, bukan didorong oleh sebuah motivasi bahwa nilai-nilai tersebut adalah nilai universal, tetapi karena hal itu diperintahkan oleh Allah Swt. Seorang Muslim bersikap jujur, karena ia memang diperintahkan oleh Allah Swt., bukan karena jujur itu bermanfaat atau nilai universal. Dengan kata lain, akhlaq seorang Muslim adalah refleksi dari pelaksanaan syariat-Nya. Sebab, seluruh perbuatan seorang Muslim wajib bersandar pada syariat Islam. Di sisi lain, seorang Muslim harus memahami, kapan ia jujur, dan kapan ia tidak boleh jujur. Tatkala melakukan jual-beli dengan orang lain, ia harus jujur dan amanah. Sebaliknya, ketika dalam peperangan melawan kaum kafir, ia tidak diperbolehkan jujur membeberkan kekuatan kaum Muslim.

 

Kita sebagai kaum muslim memahami bahwa Islam adalah agama dan sistem hidup yang sempurna. Para ulama telah mengajarkan kepada kita bahwa Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya saja, tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan manusia yang lain dan dengan dirinya sendiri. Dengan perincian sebagai berikut:

 

  1. Hubungan manusia dengan Allah (habl min Allah), berupa: (1) Aqidah dan (2) Ibadah.
  2. Hubungan manusia dengan manusia lainnya (habl min an-Nas), yaitu: (1)‘Uqubat (sistem sanksi/hukum), (2) Mu’amalah (perindustrian, pendidikan, kesehatan, sosial, dll.), (3) Siyasah (politik: pengeurusan terhadap rakyat dan negara)
  3. Hubungan manusia dengan dirinya (habl bi an-nafsiy), yang berupa: (1) Malbusat (pakaian), (2) Math’umat (makanan), dan (3) Akhlaq.

 

 

Memfokuskan pemahaman hanya pada akhlaq, akan mengakibatkan pemahaman umat menjadi sempit dan seputar akhlaq saja. Sehingga timbul asumsi dalam masyarakat; dengan memperbaiki akhlaq, maka semua permasalahan akan terselesaikan. Atau dengan menyempurnakan akhlaq, maka telah sempurna pula keislamannya. Padahal disamping itu, masih terdapat pengaturan  masalah ekonomi (iqtishadiyah), sosial (ijtima’iyah), jihad, da’wah, makanan (math’umat), pakaian (malbusat), aqidah, ibadah, dll, dan dalam Islam semuanya merupakan pembahasan yang berdiri sendiri dan bukan termasuk dalam pembahasan akhlaq dalam arti yang sempit tadi sehingga tidak dapat melingkupi semua urusan tersebut.

Membereskan semua masalah hanya dengan memperbaiki AKHLAQ saja, sama halnya seperti seseorang membangun rumah dengan berbekalkan sepotong gergaji. Memotong kayu dengan gergaji, mencor lantai dengan gergaji, memasang bata dengan gergaji, memasang ubin dengan gergaji, memasang genteng dengan gergaji. Tentu mustahil memasang setiap bagian dengan satu alat saja, karena masing-masing harus dipasang dengan alat yang khusus.

Jika umat banyak melakukan kesyirikan dan mempercayai takhayul-takhayul, dengan mempercayai ramalam-ramalan para dukun/paranormal, jimat-jimat berupa keris/batu, meminta wasiat kepada kuburan, pemberian sesajen, dll. Maka ia harus diobati bukan dengan kajian akhlaq tetapi dengan kajian tentang aqidah dan tauhid.

Jika umat terpuruk dengan bergelimang ribawi (bunga bank), maka bukan diobati dengan kajian akhlaq tetapi dengan kajian ekonomi Islam (Iqtishadi). Karena tidak sedikit dari pegawai-pegawai bank, pembuat kebijakan-kebijakannya merupakan orang-orang yang jujur dan amanah (berakhlaq baik).

Jika umat terpuruk dengan memilih partai nasionalis dan sekuler, yang tidak mengakui hukum-hukum Allah (syari’at Islam) harus diterapkan dalam bernegara. Maka mereka harus diobati dengan kajian politik Islam (fiqih siyasah) bukan dengan kajian akhlaq. Begitulah seterusnya.

 

Kenyataan di atas menunjukkan bahwa akhlaq merupakan bagian dari syariat Islam. Menurut pandangan Islam, akhlaq bukan sekadar nilai universal yang berlaku di tengah-tengah manusia, tetapi sifat yang wajib dimiliki seorang Muslim, berdasarkan perintah dari Allah Swt. Dengan kata lain, posisi akhlaq adalah syariat Islam yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri.

 

Kasus yang sama dengan akhlaq adalah, kajian dzikir dan tauhid. Umat yang difokuskan kepada DZIKIR semata dan memperoleh ketenangan batin karenanya, maka ini hanya fokus dalam hal hubungan manusia dengan Allah yakni beribadah (ibadah mahdhah) kepada Allah. Umat yang difokuskan kepada kajian TAUHID semata, dan hanya fokus dalam hal hubungan manusia dengan Allah yakni aqidah, akan mengesampingkan kajian Islam yang lain.

Jika mereka fokus dari satu topik kajian saja, maka mereka mengabaikan hukum-hukum Islam lainnya. Padahal saat seseorang telah baligh, maka ia menjadi mukallaf, yakni ia ditaklif (dibebankan) semua hukum Islam dipundaknya tanpa terkecuali. Ia harus paham tentang sabar, seperti ia juga harus paham bahwa riba haram. Ia harus paham untuk tidak dengki, seperti ia harus paham bahwa menutup aurat adalah wajib. Ia harus paham bersikap jujur, seperti ia harus paham bahwa menerima korupsi/komisi adalah haram. Ia harus paham senyum adalah shadaqah, seperti ia harus paham bahwa Islam tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan bernegara, dst-nya.

 

Benarkah Akhlaq Sebagai Pembangkit Umat?

Bantahan atas pendapat yang menyatakan bahwa kebangkitan umat atau persoalan mendasar umat adalah bagaimana membangkitkan akhlaqnya dapat diperinci sebagai berikut:

 

Pertama, sebenarnya konteks yang hendak dikaji adalah kebangkitan umat atau kebangkitan masyarakat, bukan kebangkitan individu. Individu berbeda dengan masyarakat dari sisi karakter maupun penyusunnya. Atas dasar itu, cara membangkitkan individu berbeda dengan cara membangkitkan masyarakat atau umat. Akhlaq adalah hukum syariat yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Oleh karena itu, benar jika akhlaq adalah salah satu variabel penting untuk membangkitkan individu.

 

Berbeda dengan konteks kebangkitan masyarakat. Untuk membahas kebangkitan masyarakat, kita harus memahami unsur-unsur penyusun masyarakat dan cara untuk mengubahnya. Begitu pula jika kita hendak mengubah individu, kita mesti memahami terlebih dulu unsur-unsur penyusun individu dan bagaimana cara membangkitkannya.

 

Masyarakat sendiri tersusun atas manusia (individu-individu), pemikiran, perasaan, dan aturan yang diberlakukan di tengah-tengah masyarakat. Benar, individu merupakan salah satu faktor penyusun masyarakat. Namun demikian, perubahan individu manusia tidak secara otomatis menghasilkan perubahan masyarakat maupun warna masyarakat. Sebab, masyarakat tidak hanya tersusun dari individu manusia belaka, tetapi juga tersusun oleh pemikiran, perasaan, dan aturan. Selain itu, faktor yang menentukan corak dan warna masyarakat bukanlah manusia sebagai individu, melainkan pemikiran dan aturan yang diterapkan di tengah-tengah mereka.

 

Para penganut agama Budha terkenal sebagai orang-orang yang menjunjung nilai-nilai akhlaq, bahkan memiliki sifat-sifat akhlaq yang mulia. Namun demikian, warna masyarakat yang tersusun dari orang-orang Budha dan agama Budha adalah masyarakat kufur, bukan masyarakat Islam. Ini menunjukkan, bahwa faktor yang menentukan corak dan warna masyarakat adalah pemikiran dan aturan yang diterapkan di dalamnya, bukan akhlaq individunya.

 

Masyarakat di negeri-negeri yang berpenduduk mayoritas Muslim yang terkenal jujur, amanah, dan berbudi pekerti luhur, disebut masyarakat yang tidak Islami jika sistem aturan yang diberlakukan di negeri-negeri Islam tersebut adalah sistem aturan kufur. Negeri Baghdad ketika dikuasai bangsa Mongol tidak lagi disebut negara Islam, karena sistem yang diberlakukan setelah itu bukan lagi sistem Islam. Ini semua menunjukkan, bahwa perubahan akhlaq individu tidak secara otomatis mengubah warna masyarakat. Bahkan, perubahan akhlaq—sebagai nilai-nilai universal—sama sekali tidak berhubungan dengan perubahan warna masyarakat.

 

Masyarakat Jahiliah sebelum Islam juga menjunjung nilai-nilai akhlaq yang tinggi—menghargai tamu, perwira, dan sebagainya. Sifat-sifat akhlaq ini tidak berubah ketika mereka berubah menjadi masyarakat Islam. Ini menunjukkan bahwa akhlaq tidak berhubungan dengan perubahan warna masyarakatnya.

 

Walhasil, jika konteks pembicaraan kita adalah mengubah warna atau corak masyarakat maka aktivitas perubahannya tidak boleh difokuskan hanya pada perubahan individunya belaka, namun harus difokuskan pada perubahan pemikiran dan aturan yang ada di tengah-tengah masyarakat.

 

Di sisi yang lain, nilai-nilai akhlaq—sebagai nilai universal—bukanlah nilai yang berdiri sendiri. Akan tetapi, ia selalu melekat pada perbuatan tertentu. Jujur adalah nilai akhlaq. Namun, Anda tidak bisa mengetahui apakah seseorang itu jujur atau tidak, kecuali ketika ia melakukan suatu aktivitas tertentu. Jujur bisa melekat pada perbuatan apapun, halal maupun haram. Jujur bisa melekat pada seorang pegawai bank yang mengkonsumsi ribawi. Jujur juga bisa melekat pada anggota parlemen yang suka menelorkan aturan-aturan kufur. Namun demikian, jujur yang melekat pada perbuatan-perbuatan haram tersebut tidak memiliki nilai sama sekali. Bahkan, kita tidak boleh menyatakan bahwa orang tersebut berakhlaq. Sebab, kejujurannya telah melekat pada perbuatan haram.

 

Dedikasi yang tinggi, disiplin, dan amanah bisa saja melekat pada diri anggota pasukan perang yang menjadi pembela sistem kufur. Akan tetapi, kita tidak mungkin menyatakan orang-orang ini menjunjung tinggi nilai-nilai Islam. Bahkan, akhlaq yang menempel pada sistem kufur semacam ini tidak memiliki arti sedikitpun dalam timbangan Islam. Yang terpenting adalah mengubah pemikiran dan sistem aturan yang berlaku di tengah-tengah masyarakat. Sedangkan akhlaq hanyalah sekadar bagian dari aturan-aturan Allah Swt. yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Perubahan akhlaq sama sekali tidak berkaitan dengan perubahan warna masyarakat.

 

Kedua, pernyataan kami di atas tidak berarti bahwa kami meremehkan akhlaq, atau menganggap bahwa akhlaq bukanlah perkara penting jika dibandingkan dengan perkara-perkara yang lain. Al-Quran sendiri tidak menyebut kata khuluq di banyak tempat, kecuali pada surat al-Qalam ayat 4 dan asy-Syu’ara ayat 137. Selain itu, para fuqaha hanya mengkaji masalah-masalah yang berhubungan dengan hukum syariat. Mereka tidak pernah mengkaji akhlaq dalam bab fikih tersendiri. Ini menunjukkan bahwa akhlaq adalah bagian dari syariat Islam yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri.

 

Ketiga, seandainya kita mencermati bangsa-bangsa yang saat ini mengalami kemajuan, kita bisa menyimpulkan, bahwa akhlaq yang dimiliki oleh kaum Muslim tetap lebih tinggi dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain. Namun demikian, kaum Muslim tetap saja dalam posisi mundur. Mereka tertinggal jauh dari bangsa-bangsa yang akhlaqnya lebih rendah dibandingkan dengan mereka.

 

Keempat, fakta juga telah menunjukkan bahwa propaganda-propaganda, seruan-seruan maupun buku-buku, selebaran, poster, dan lain-lain yang menyerukan akhlaq sama sekali tidak memberikan pengaruh bagi kebangkitan kaum Muslim. Umat Islam tetap mundur dari sisi ekonomi, politik, dan hukum. Ini juga membuktikan bahwa akhlaq bukanlah asas atau dasar dari perubahan masyarakat. Ia juga bukan masalah utama bagi kaum Muslim.

 

Seluruh penjelasan di atas tidak boleh dipahami, bahwa kami meremehkan akhlaq atau tidak menganggap penting masalah akhlaq. Namun, kami hanya ingin menjelaskan, bahwa akhlaq bukanlah persoalan utama kaum Muslim, dan juga bukan asas dan dasar kebangkitan umat.

 

Surat al-Qalam ayat 4 dan Hadis Nabi saw. sebagaimana dinukil di atas dan nash-nash yang senada pengertiannya tidak bisa dipahami bahwa asas perubahan adalah akhlaq atau bahwa persoalan yang menjadi fokus perhatian utama Rasulullah saw. adalah perubahan akhlaq. Para mufasir terkenal seperti Mujahid, ad-Dhahak, ath-Thabari, dan al-Qurthubi, menyatakan bahwa yang dimaksud dengan kata khulq pada surat al-Qalam ayat 4, bukan sekadar “akhlaq”, tetapi bermakna “dîn” (agama).

 

 

Khatimah

Keterpurukan umat saat ini bukan disebabkan oleh akhlaq semata, tetapi akibat terlalu jauhnya umat dari pemikiran-pemikiran Islam. Dalam mu’amalah, aqidah, akhlaq, ibadah, math’umat, malbusat dan ‘uqubat tidak lagi mengunakan standar (miqyas) Islam. Berekonomi menghalalkan riba, berpolitik machievalis, berpakaian telanjang, berprilaku indvidualis dan hedonis, berideologikan demokrasi/kapitalis, berakhlaq jahiliyah, berhukum peninggalan Belanda, dll. Sehingga sulit bagi kita membedakan seseorang, apakah Islam atau kafir, ucapan dan perilakunya sama saja dengan orang-orang kafir. Padahal Islam adalah agama yang khas dan akan memancar pada pribadi seorang muslim/muslimah.

Kebangkitan umat (an-nahdhah) tidak ditentukan oleh akhlaq, tetapi tergantung pada sejauh mana pemikiran-pemikiran Islam dijadikan pemimpin oleh umat (qiyadah fikriyah). Jika umat dalam setiap gerak langkahnya selalu mengacu kepada qiyadah fikriyah yang dipunyainya, yakni Islam, maka umat ini akan bangkit. Saat ia akan berumah tangga, ia pahami bagaimana Islam mengatur sebuah keluarga sakinah (persoalan ijtima’i), misal: kewajiban sebagai suami dan istri. Saat ia melakukan transaksi perdagangan, ia pahami bagaimana Islam mengatur transaksi perdagangan (persoalan iqtishadi), misal: haramnya riba. Saat ia menjadi karyawan, ia pahami bagaimana Islam mengatur perjanjian kerja (aqad ijarah), misal: haramnya korupsi, komisi, hadiah, dll. Dalam semua hal, umat dalam setiap gerak langkah kehidupannya selalu mengacu kepada aturan mulia dari Allah swt, maka saat itulah kebangkitan umat yang sebenarnya telah terjadi. Dengan kondisi itu, tentu ia ingin Islam diterapkan dalam seluruh sisi kehidupannya, tanpa terkecuali. Baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat maupun negara.

Karena sebuah masyarakat Islam, bukan ditentukan oleh penduduknya yang mayoritas Islam, bukan karena dinamakan republik/kerajaan/negara Islam, bukan karena diterapkan sebagian hukum Islam dalam hal waris, nikah/rujuk/talak. Tetapi, sebuah masyarakat dapat dikatakan Islam, disaat PEMIKIRAN, PERASAAN dan ATURAN yang berlaku adalah Islam. Jika masyarakat telah mempunyai tolok ukur Islam (pemikiran), tetapi saat ada sekelompok orang berjudi dan mabuk-mabukkan ia masih acuh/ridha (perasaan), maka ini bukan masyarakat Islam. Jika ia tidak ridha terhadap perjudian dan mabuk-mabukkan (perasaan) dan tolok ukurnya hanya Islam (pemikiran), tetapi hukum yang berlaku tidak Islam, maka ini juga bukan masyarakat Islam.

Seseorang bersikap jujur, sabar, tidak berbohong, murah senyum, menolong tetangga, dll, karena Allah memerintahkannya dan dicontohkan oleh rasul-Nya. Begitulah pemahaman yang harus diberikan kepada umat. Bukan akhlaq yang bersifat universal (sekedar sikap moral) dan bernilai materi, karena bisa jadi orang-orang kafir juga mempunyai akhlaq yang baik, mereka jujur, senyum, tidak bohong, tetapi karena landasan aqidahnya telah rusak maka ia tidak bisa dikatakan sebagai individu yang shalih. Apakah kita mau dikatakan: “Dia itu akhlaqnya baik, tetapi tidak shalih”

 

Wallahua’lam bi ash Showab

 

1 Jumadil Akhir 1430 H

Fauzan al Banjari

3 thoughts on “Akhlaq Tidak Dapat Membangiktkan Umat

  1. Assalamu’alaiknaa wa’alaa ‘ibaadiLLaahi shalihiin
    sepengetahuan saya,
    akhlak merupakan tahapan akhir seseorang beragama,
    akhlak merupakan perwujudan ihsan seseorang,
    ihsan mesti berlandaskan iman,

    sehingga akhlaq merupakan cermin seseorang ber-islam ber-iman ber-ihsan

    waLLahu a’lamu bishawab

    • pendefinisian yang keliru terhadap suatu istilah akan memberikan kekaburan makna dari apa yang dimaksud. hal ini akan membuat umat menjadi salah kafrah nantinya. posisikan suatu kata sesuai dengan maksud haqiqinya, jangan ditarik kesana dan kesini sesuai dengan yang kita inginkan. para ‘ulama begitu besar perhatiannya dalam mencari definisi sesuatu (tahqiqul manath) agar hukum atas sesuatu itu tidak keliru karena kaburnya makna. Wallahu’alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s