Qishash Bagi Perencana Pembunuhan

Soal:

Assalamu’alaikum

Ustadz ana mo nanya, apakah qishash berlaku buat orang yang menyuruh orang lain untuk membunuh atau merencanakan pembunuhan, meski bukan dia yang membunuh?

7 Mei 2009

Zoel Fahmi

Yogyakarta

Jawab:

Wa’alaikumsalam warahamatullahi wabarakatuh,

Pembunahan dalam pembahasan fiqh Islam masuk dalam pembahasan bab Jinâyât. Jinâyât adalah bentuk jama’ (plural) dari jinâyah masdar dari “jana” (mengerjakan kejahatan/kriminal) (As Shan’ani, Subulus Salam: 833). Menurut bahasa, Jinâyât bermakna penganiayaan terhadap badan, harta, atau jiwa. Sedangkan menurut istilah, Jinâyât adalah pelanggaran terhadap badan, harta atau jiwa yang didalamnya mewajibkan qishâsh dan denda harta (diyat) (al Maliki, Nidzam al-Uqubat: 123).

Salah satu bentuk Jinâyât yang paling besar adalah sanksi bagi tindak pembunuhan. Dan salah satu hukum yang paling menonjol yang telah diketahui dalam Islam (ma’lumun min ad-dini bi adl-dlarurah). Diharamkannya pembunuhan tanpa hak dan termasuk dosa besar ditetapkan berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah.

Dalil dari al-Qur’an diantaranya silahkan lihat Q.S al-Isra [17]: 33 dan an-Nisa [4]: 92 dan 93.

Pembunuhan yang dilakukan oleh seorang terhadap orang lain sudah menjadi mafhum jika orang tersebut mendapat qishâsh dengan dibunuh juga apabila pembunuhan tersebut disengaja dan tanpa hak. Hak membunuh yang dimaksud dalam Islam adalah pada hakim dan hanya dalam tiga perkara yaitu: pezina yang telah beristeri/bersuami (muhshân) sehingga ia dirajam, membunuh seorang muslim dengan sengaja, dan murtad dari agama. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW;

“Tidak halal membunuh seorang muslim kecuali karena salah satu dari tiga hal ini: muhshân yang berzina maka ia dirajam, seorang yang membunuh seorang muslim dengan sengaja, dan seorang yang keluar dari Islam (murtad), maka ia diperangi Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Abu Daud dan An Nasa’i)

Sedangkan jika pembunuhan terjadi secara berencana dan berkelompok atau dengan persekongkolan maka harus diperhatikan jenis keterlibatannya. Contohnya saat ini yang sedang ramai dibicarakan adalah keterlibatan ketua KPK Antasari Azhar yang telah menjadi tersangka otak pembunuhan salah direktur BUMN Nasruddin. Dalam kasus tersebut terdapat pihak-pihak yang memiliki peran masing-masing dalam pembunuhan. Ada yang terlibat secara langsung dan ada yang terlibat secara tidak langsung.

Tidak diragukan lagi bahwa sekelompok orang harus dibunuh karena membunuh orang lain. Karena hadits yang berbicara tentang sanksi bagi pembunuh mencakup yang dilakukan oleh seorang, maupun sekelompok orang. Sabda Rasulullah SAW.:

”Barangsiapa yang terbunuh, maka walinya memiliki dua hak, bisa meminta tebusan (diyat), atau membunuh pelakunya”. (HR. Abu Daud dan An Nasa’i, dan terdapat hadits yang senada dengan itu dalam kitab shahih al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Hadits di atas mencakup kasus pembunuhan yang dilakukan seseorang maupun dilakukan oelh sekelompok orang yang membunuh orang lain. Asbabul wurud hadits tersebut  adalah saat orang-orang suku Khuza’ah membunuh seorang laki-laki dari suku Hudzail. Rasulullah SAW bersabda dengan hadits tersebut (ketika ditengah-tengah pembicaraan beliau): ”Sesungguhnya kamu sekalian wahai suku Khuza’ah, kamu semua sudah membunuh lelaki ini dari suku Hudzail dan sesungguhnya sayalah ashabahnya, barang siapa yang mempunyai keluarga yang terbunuh (dan seterusnya seperti hadits diatas) (ash-Shan’ani, Subulus Salam, 875-876).

Dalam satu riwayat ’Umar pernah bertanya kepada ’Ali ra tentang pembunuhan yang dilakukan oleh sekelompok orang terhadap seseorang. ’Ali bertanya kepada ’Umar, apa pendapatmu seandainya ada sekelompok orang mencuri barang, apakah engkau akan memotong tangan mereka? ’Umar menjawab, ”Ya”. Ali menukas, ”Demikian pula pembunuhan.” Jika sekelompok orang bersekutu, baik dua orang atau lebih untuk membunuh seseorang, maka semuanya dikenai sanksi. Semuanya harus dibunuh meskipun pihak yang terbunuh satu orang (al Maliki, Nidzam al-Uqubat: 158).

Terdapat riwayat lain al Bukhari yang juga membicarakan tentang pembunuhan yang bersekongkol ini yaitu:

Dari Ibnu Umar r.a beliau berkata: Seorang budak dibunuh dengan rahasia, lalu Umar r.a berkata: seandainya penduduk Shan’a itu bersekongkol dalam pembunuhan budak itu, maka sungguh saya akan membunuh mereka karena membunuh budak itu.”

Hadits ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Syaibah dari sanad yang lain dari Nafi’ bahwa Umar r.a membunuh 7 orang penduduk Shan’a itu karena membunuh seorang budak. Imam Malik meriwayatkan dalam kitab ”Al Muwatha’ dengan sanad yang lain dari Ibnu Musayyab: bahwa Umar ra membunuh 5 (lima) atau 6 (enam) orang karena mereka membunuh seorang budak dengan rahasia (ash-Shan’ani, Subulus Salam, 872).

Hadits ini memiliki kisah yang cukup mahsyur, yang diriwayatkan oleh at Thahawi dan al Baihaqi dari ibnu Wahab. Beliau berkata: telah menceritakan kepadaku Jarir bin Hazim bahwa al-Mughirah bin Hakim an Shan’ani telah menceritakan kepadanya yang berasal dari cerita ayahnya: ”Bahwa seorang wanita di Shan’a ditinggal pergi oleh suaminya dan suaminya meninggalkan dalam asuhannya seorang anak lelakinya dari isteri yang lain, dan selain itu seorang budak bernama Usahil. Setelah ditinggal lama oleh suaminya, maka wanita itu mempunyai seorang kekasih. Dia berkata kepada kekasihnya itu: sesungguhnya budak ini akan membuka rahasia kita, maka bunuhlah dia. Tetapi kekasihnya itu tidak mau membunuh budak itu. Setelah wanita itu menahan kekasihnya itu lalu dia menyetujuinya, lalu bersekongkollah mereka untuk membunuh budak itu bersama dua orang lelaki yang lain dan pembantu rumah tangganya, lalu mereka membunuhnya. Kemudian mereka memotong anggota badan budak itu dan mereka memasukkannya dalam satu kantongan membuangnya kedalam sebuah sumur mati di penggir kota yang tidak ada airnya. Lanjutan kisah itu, akhirnya kekasih wanita itu ditangkap, lalu dia mengakui perbuatannya kemudian semua yang lain mengakui semuanya. Lalu Ya’la yang menjadi wali mereka pada saat itu mengirim surat kepada Umar r.a kemudian Umar r.a menetapkan pembunuhan atas mereka semuanya, seraya beliau berkata: Demi Allah, seandainya penduduk Shan’a itu bersekongkol dalam pembunuhan budak itu, maka sungguh saya akan membunuh mereka seluruhnya.” (ash-Shan’ani, Subulus Salam, 872-873).

Yang dimaksud bersekutu (bersekongkol) dalam pembunuhan disini tergantung dengan keterlibatannya dalam pembunuhan tersebut. Jika seseorang terlibat dalam pemukulan terhadap pihak yang terbunuh, maka ia tergolong sebagai orang yang terlibat dalam pembunuhan secara pasti. Adapun, apabila seseorang tidak terlibat dalam pemukulan, maka hal itu perlu dicermati lagi. Jika ia berposisi sebagai orang yang memudahkan terjadinya pembunuhan, seperti pihak yang mencegat pihak yang hendak dibunuh lalu orang tersebut dibunuh oleh pelaku pembunuhan, atau menyerahkan pihak terbunuh kepada pelaku pembunuhan, ataupun yang lainnya, maka orang tersebut tidak dianggap sebagai pihak yang bersekutu dalam pembunuhan, akan tetapi hanya disebut sebagai pihak yang turut membantu pembunuhan. Orang semacam ini tidak dibunuh, akan tetapi hanya dipenjara saja (al Maliki, Nidzam al-Uqubat: 159).

Imam Daruquthniy mengeluarkan hadits dari Ibnu Umar dar Nabi saw., beliau bersabda:

”Jika seorang laki-laki menghentikan (memegangi) seorang lelaki lainnya, kemudian lelaki tersebut dibunuh oleh laki-laki yang lain, maka orang yang membunuh tadi harus dibunuh, sedangkan laki-laki yang menghentikan (memegang)nya tadi dipenjara.” (HR. ad-Daruquthni)

Hadits ini merupakan penjelasan, bahwa orang yang membantu dan menolong si pembunuh tidak dibunuh, akan tetapi hanya dipenjara. Namun demikian, ia bisa dipenjara dalam waktu yang sangat lama, bisa sampai 30 tahun. Bahkan ’Ali bin abi Thalib berpendapat, agar orang tersebut dipenjara sampai mati (al-Maliki, ibid).

Diriwayatkan oleh Imam Syafi’i dari ’Ali bin abi Thalib, bahwa beliau r.a telah menetapkan hukuman bagi seorang laki-laki yang melakukan pembunuhan dengan sengaja, dan orang yang menghentikan (mencegat pihak yang terbunuh). ’Ali berkata:

”Pembunuhnya dibunuh, sedangkan yang lain dijebloskan di penjara sampai mati.”

Dengan demikian, semua orang yang tidak bersekutu dalam pembunuhan hukumnya dipenjara, bukan dibunuh. Sedangkan orang yang bersekutu dalam pembunuhan maka ia harus dibunuh, apapun keterlibatannya. Oleh karena itu, orang yang bersekutu secara langsung, yakni bersekutu sebagai pihak yang mendorong terjadinya pembunuhan, dan sebagai pihak yang mengatur pembunuhan, semuanya dianggap sebagai pihak yang bersekutu dalam pembunuhan. Sebab, mereka semua terlibat dalam pembunuhan secara langsung. Tidak ada bedanya, apakah bersekutu dalam pemukulan/penusukan, atau bersekutu dalam perencanaan pembunuhan. Semua itu termasuk bagian dari aktivitas pembunuhan. Dan itu berarti, semua orang yang perbuatannya dianggap bersekutu dalam pembunuhan, hukumnya harus dibunuh, layaknya ”pembunuh langsung”. Akan tetapi orang yang mepermudah pembunuhan, tidak dianggap sebagai pihak yang bersekutu dalam pembunuhan, baik secara langsung maupun tidak langsung (al-Maliki, ibid).

Sebagai contoh aplikatifnya adalah kasus pembunuhan yang melibatkan ketua KPK Antasari Azhar. Menurut kronologis peristiwa yang disampaikan di media massa, dan jika itu secara meyakinkan terbukti kebenarannya baik karena pengakuan ataupun saksi-saksi maka hukumnya berbeda-beda. Secara garis besar ada tiga kelompok persekutuan dalam kasus tersebut, pertama pihak yang ingin membunuh/perencana pembunuhan (otak pembunuhan), pihak pemberi dana, dan pihak eksekutor. Untuk pihak eksekutor pembunuhan ada tugas-tugas yang berbeda, pihak eksekutor yang dihukum mati hanyalah pelaku penembakannya dan perancang skenario pembunuhannya saja, sedangkan mereka yang membantu mempermudah proses penembakan (pengendara sepeda motor yang membonceng penembak dan orang yang melakukan survey serta pemberi informasi lapangan) semuanya dihukum penjara dalam waktu lama. Sedangkan pihak perencana (otak pembunuhan) dihukum mati dan pihak pemberi dana (jika hanya memberi dana dan tidak terlibat dalam rencana) maka dihukum penjara dalam waktu yang lama juga. Penjelasan dalilnya sebagaimana yang telah kami sampaikan di atas.

Wallahu’alam bi ash-shawab

Yogyakarta, 8 Mei 2009

Fauzan al-Banjari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s