SUAP ATAU HADIAH?

Assalamu’alaikum…

Bang umpat betakun (mau nanya, pen.), kalau ada orang minta bantuan tetapi memberi uang atau benda itu termasuk orang yang gimana bang? Apa hukumnya kalau ada yang berkata itu sogokan?

Catatan: orang yang memberi sedang dalam berhutang kepada kita.

Wassalamu’alaikum…

25 Januari 2009

Rama, Banjarmasin

08781501xxxx

Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Pemberian hadiah (hibah) hukum asalnya adalah mubah (boleh) bagi siapa saja. Namun apabila hadiah tersebut diberikan karena suatu jabatan atau kepentingan menyangkut kedudukan dari si penerima hadiah maka hal tersebut adalah haram. Karena hal tersebut termasuk suap/sogok (riswah).

Contohnya adalah setiap pekerja negara (pegawai negeri) yang telah diberikan wewenang dan tugas oleh Negara sesuai dengan pekerjaannya, maka mereka dilarang menerima apapun dari siapapun terkait dengan pekerjaannya kecuali ujrah (gaji/honor/upah/imbalan)nya. Pendapatan di luar ujrah atau imbalan yang telah disepakati oleh kedua belah pihak (dan tidak melanggar ketentuan hukum Islam) adalah perolehan yang diharamkan. Rasulullah saw. bersabda:

مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ عَلَى عَمَلٍ فَرَزَقْنَاهُ رِزْقًا فَمَا أَخَذَ بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ غُلُولٌ

“Siapa saja yang kami (negara) beri tugas untuk melakukan suatu pekerjaan dan kepadanya telah kami berikan rezeki (upah/gaji), maka apa yang diambil olehnya selain dari (upah/gaji) itu adalah ghulûl (kecurangan).” (HR Abu Dawud).

Hadits ini dengan tegas melarang siapa pun—baik kepala negara (Khalifah), wali (gubernur), amil (pejabat setingkat bupati/walikota), qâdhî (para hakim), termasuk para  pegawai—untuk mengambil kelebihan (harta) dalam bentuk apa pun dari yang telah ditetapkan (berupa ujrah) atas mereka. Apabila hal itu dilanggar dan mereka mengambil (harta) lebih dari ujrah yang menjadi hak mereka (sebagai pegawai) maka perbuatannya itu dimasukkan ke dalam perbuatan curang; hartanya termasuk harta ghulûl (hasil kecurangan yang diharamkan) dan pada Hari Kiamat ia akan memikulnya sebagai azab. Hadits ini juga bersifat umum kepada siapa saja yang telah diberikan pekerjaan oleh musta’jir (majikan)-nya untuk tidak mengambil apapun di luar dari ujrah yang ditetapkan kepadanya.

Contoh lain, pemberian hadiah yang dilakukan oleh mahasiswa terhadap dosen pembimbingnya, walaupun disebut sebagai ucapan terima kasih, hukumnya haram. Sebab membimbing mahasiswa pada dasarnya telah menjadi tugas seorang dosen pembimbing, yang untuk pekerjaannya tersebut dosen itu sudah mendapat gaji. Maka hadiah yang diterimanya untuk suatu tugas yang wajib dilakukannya dan ia sudah digaji karena tugas itu, adalah hadiah yang haram dan tidak boleh diterima.

Dalil keharamannya adalah berbagai hadits Nabi Saw. yang melarang hadiah semacam itu. Misalnya hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dari sahabat Abu Hamid As-Sa’idy r.a., bahwa Rasulullah Saw. telah mengutus Ibnul Atabiyah sebagai pengumpul zakat dari orang-orang Bani Sulaim. Seusai melaksanakan tugasnya, Ibnul Atabiyah datang kepada Rasulullah Saw. dan berkata, ”Ini [harta zakat] kuserahkan kepada Anda, sedangkan ini adalah hadiah yang diberikan kepadaku.” Rasulullah SAW menjawab, ”Jika yang kau katakan benar, apakah tidak lebih baik kalau kamu duduk saja di rumah ayahmu atau ibumu sampai hadiah itu datang kepadamu?”(HR. Bukhari).

Hadits tersebut menunjukkan haramnya hadiah yang diberikan kepada seseorang yang berwenang menentukan keputusan/kebijakan, baik kebijakan umum seperti penguasa maupun kebijakan khusus seperti seorang direktur perusahaan, kepala sekolah, dan sebagainya. Setiap hadiah yang diberikan kepada seseorang untuk suatu tugas yang sudah menjadi kewajibannya dan dia sudah digaji karenanya, adalah hadiah yang haram. Baik pemberi maupun penerimanya dilaknat oleh Allah SWT.

“Rasulullah SAW. Melaknat orang yang menyuap, yang menerima suap dan yang menjadi perantara.” (HR. Ahmad dan Hakim).

Lain halnya, jika si pemberi hadiah itu sebelumnya sudah terbiasa memberi hadiah kepada dirinya, maka hukumnya boleh. Dalilnya adalah sabda Nabi, ”Jika yang kau katakan benar, apakah tidak lebih baik kalau kamu duduk saja di rumah ayahmu atau ibumu sampai hadiah itu datang kepadamu?” Pemahaman sebaliknya (mafhum mukhalafah) hadits itu, jika hadiah itu datang kepada seseorang sedang dia duduk saja di rumah ayahnya atau ibunya, yaitu diberikan bukan karena menjalankan tugas menentukan keputusan/kebijakan, maka hukumnya jaiz (boleh) (Taqiyuddin An-Nabhani, Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah, II/289).
Mafhum mukhalafah itu menunjukkan, hadiah yang diberikan kepada seseorang yang duduk saja di rumah ayahnya atau ibunya, tanpa ada hubungannya dengan tugas atau pekerjaan apa pun juga, hukumnya boleh. Ini berarti jika pemberi hadiah memang sudah biasa memberikan hadiah kepada seseorang ketika ia tidak berwenang menentukan apa pun, boleh juga si pemberi memberikan ketika seseorang itu mempunyai kewenangan menentukan suatu kebijakan/keputusan.

Terkait dengan pertanyaan di atas, jika pemberian hadiah tersebut dilakukan hanya karena bantuan umum (tidak terkait jabatan) yang diberikan. Maka hal tiu tidak termasuk suap/sogok (riswah). Misalnya, seseorang yang menolong temannya untuk mengerjakan tugas kuliah (mengajarinya) atau membantu menyelesaikan pekerjaan yang boleh dilakukan dan sama sekali tidak terkait dengan jabatannya maka hadiah di sini adalah sesuatu yang boleh diberikan dan diterima.

Sedangkan terkait dengan hutang yang dimiliki oleh seseorang terhadap orang lain tidaklah hilang karena hadiah, karena hutang sebagaimana janji harus dilunasi dengan pemenuhan (pembayaran)-nya. Dan tidak termasuk sogok bagi seseorang yang memberikan haidah kepada orang yang dia masih memiliki hutang dengannya.

Setiap muslim harus berhati-hati dalam muamalah (pekerjaan dan perdagangan) mereka agar tidak masuk dalam kategori orang-orang yang curang (ghulûl).

وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ

“Siapa saja yang berbuat curang, pada Hari Kiamat ia akan datang membawa hasil kecurangannya. Kemudian setiap orang menerima balasan setimpal atas segala yang telah dilakukannya dan mereka tidak diperlakukan secara zalim.” (QS. Ali Imran [3]: 161).

Wallahu’alam…

Yogyakarat, 26 Januari 2009

Al Faqir Ilallah…

Fauzan al-Banjari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s