Hukum Meninggalkan Aqad Kerja?

Soal:

Assalamu’laikum ustadz…

saya mo nanya..

gimana hukumnya kalo kita ngebatalin kontrak… misalanya saya kerja dikontrak selama 2 thn..trus saya mndapat twaran kerja dilain tempat trus saya mengundurkan diri dari prusahaan lama sebelum masa kontrak saya habis…

terima kasih sebelumnya ustadz…

Zoel Fahmi

Yogyakarta

Jawab:

Perjanjian kerja (Aqad) adalah merupakan salah satu transaksi muamalah. Hukum asal dari muamalah adalah mubah. Sebagaimana kaidah fiqh:

al-ashlu fl al uqudi wa al mu’amalati ash shihhati, hatta yaquma dalailun ‘ala al buthlani wa at-tahrim” (hukum asal aqad-aqad dan mua’malah adalah sah (mubah), sampai ada dalil yang datang membatalkannya atau mengharamkannya) (Imam Musbikin, Qawa’id Al Fiqhiyah, hal 20).

Aqad (janji) di dalam Islam wajib untuk dipenuhi sebagaimana firman Allah SWT:

Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah janji-janji itu.” (al-Maidah: 1).

Juga firman-Nya;

“Sebenarnya, siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.” (Ali Imran: 76).

Setiap muslim terikat dengan perjanjiannya dengan orang lain selama perjanjian tersebut atau syarat-syaratnya tidak bertentangan dengan syari’at Islam.

Nabi saw. bersabda: “Orang-orang Islam itu terikat dengan perjanjian-perjanjian mereka” (HR Ahmad Abu Daud, Hakim dari Abu Hurairah).

“Kaum muslimin (dalam kebebasan) sesuai dengan syarat dan kesepakatan mereka, kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. (HR. al-Tirmidzi)

Jika seseorang telah membuat kesepakatan dengan orang lain, maka jika meinginkan terjadinya pembatalan kesepakatan haruslah meminta keridho’an dari pihak yang ia batalkan perjanjiannya. Pihak yang dibatalkan perjanjian boleh menerima atau menolak pembatalan tersebut tergantung dari alasan pihak pembatal atau keikhlasan hatinya. Jika alasan pembatal perjanjian tidak dalam alasan yang syar’i maka ia boleh menolaknya dan tetap menuntut agar perjanjiannya tetap diselesaikan sesuai kesepakatan.

Apabila transaksi ijarah (kontrak kerja) dilakukan untuk jangka waktu satu bulan atau satu tahun, maka tidak boleh salah seorang di antara kedua belah pihak membubarkannya, kecuali apabila waktunya telah habis (An Nabhani, Nizham Iqtishadiy fi al Islam). Pembatalan suatu aqad hanya boleh dilakukan dengan alasan syar’i saja. Alasan syar’i adalah alasan yang dibenarkan oleh syari’at Islam, antara lain:

  1. Jika salah satu pihak berkhianat atas aqad pekerjaannya. Maka pihak yang dikhianati berhak untuk memutuskan perjanjiannya sebelum masanya berakhir. Pengkhianatan tersebut bisa karena terjadi menipu (tadlis), berdusta, korupsi dan lain-lain yang mnyebabkan hilangnya kepercayaan terhadap shahibul aqad (‘ajiir/musta’jir) tersebut.

Imam Daruquthni meriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi saw. yang bersabda:

يَقُوْلُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أَناَ ثَالِثُ الشَّرِيْكَيْنِ مَالَمْ يَخُنْ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ فَإِذَا خَانَهُ خَرَجْتُ مِنْ بَيْنِهِمَا

“Allah Swt. Berfirman: “Aku adalah pihak ketiga (Yang Maha Melindungi) bagi dua orang yang melakukan syirkah, selama salah seorang diantara mereka tidak berkhianat kepada perseronya. Apabila di antara mereka ada yang berkhianat, maka Aku akan keluar dari mereka (tidak melindungi).”

  1. Jika salah satu pihak tidak amanah, atau selalu melanggar perjanjian dengan pihak yang lain. Maka pihak yang dirugikan dapat memutuskan aqad-nya.

أَدِّ اْلأَمَانَةَ إِلَى مَنْ ائْتَمَنَكَ وَلاَ تَخُنْ مَنْ خَانَكَ

Tunaikanlah amanah kepada orang yang mengamanahimu dan janganlah kamu mengkhianati orang yang mengkhianatimu (HR Abu Dawud dan Ahmad).

Tidaklah beriman orang yang tidak dapat memegang amanah, dan tidaklah beragama orang yang tidak dapat dipegang janjinya” (HR Ahmad, Thabrani dan Ibnu Hibban)

  1. Jika terjadi kezhaliman dari seorang ajiir (baca: orang yang dikontrak tenaganya) atau musta’jir (baca: orang yang mengontrak tenaga). Kezhaliman seorang musta’jir antara lain adalah tidak memberikan upahnya sesuai dengan aqad atau menundanya, mempekerjakan pekerja di luar kesepakatan dan kemampuannya secara wajar.

Nabi SAW bersabda:

“Hati-hatilah kalian terhadap Qasamah?” Kemudian kami bertanya: “Qasamah itu apa?” Beliau menjawab: “Adalah sesuatu (yang disepakati sebagai bagian) di antara manusia, kemudian bagian tadi dikurangi.” (HR. Abu Dawud dari Abi Sa’id al-Khudri)

Nabi SAW bersabda:

“Allah SWT berfirman: ‘Tiga orang yang Aku musuhi pada hari kiamat nanti, adalah orang yang telah memberikan karena Aku, lalu berkhianat; dan orang yang membeli barang pilihan, lalu ia makan kelebihan harganya; serta orang yang mengontrak pekerja kemudian pekerja tersebut menunaikan transaksinya sedangkan upahnya tidak diberikan.” (HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah).

Allah SWT berfirman:

“Allah tidak akan membebani seseorang, selain dengan kemampuannya.” (al-Baqarah: 286)

Nabi SAW juga bersabda:

“Apabila aku telah memerintahkan kepada kalian suatu perintah, maka tunaikanlah perintah itu semampu kalian.” (H.R. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Sedangkan kezhaliman dari seorang ’ajiir adalah tidak menyelesaikan atau meninggalkan pekerjaannya sebelum selesai atau masanya berakhir.

  1. Apabila salah seorang sudah tidak mampu lagi meneruskan aqad-nya. Baik ketidakmampuannya tersebut karena secara perbuatan tidak mampu (‘ajiz fi’lan) cacat atau meninggal misalnya, ataupun secara hukum tidak mampu (‘ajiz hukman), yakni jika seseorang telah kehilangan akal sehatnya (gila misalnya).

Karena syarat sahnya transaksi ijarah adalah: (a) orang-orang yang mengadakan transaksi (ajiir & musta’jir) haruslah sudah mumayyiz yakni sudah mampu membedakan baik dan buruk. Sehingga tidak sah melakukan transaksi ijarah jika salah satu atau kedua pihak belum mumayyiz seperti anak kecil yang belum mampu membedakan baik dan buruk, orang yang lemah mental, orang gila dan lain sebagainya; (b) Transaksi (akad) harus didasarkan pada keridhaan kedua pihak, tidak boleh karena ada unsur paksaan (An Nabhani, Nizham Iqtishadiy fi al Islam).

  1. Apabila telah ada persyaratan diantara kedua akan suatu kondisi yang dapat memutuskan aqad yang disepakati oleh kedua belah pihak.

“Orang-orang Islam itu terikat dengan perjanjian-perjanjian mereka” (HR Ahmad Abu Daud, Hakim dari Abu Hurairah).

  1. Apabila salah seorang (misal ‘ajiir) mengajukan pengunduran dirinya dari perjanjiannya di luar alasan-alasan yang disebutkan diatas kemudian pihak yang lain (musta’jir) menyetujui dan ridha atasnya. Dalam kondisi ini maka aqad juga boleh dibatalkan sebelum masanya berakhir.

Kesimpulan:

Setiap perjanjian (aqad) harus dipenuhi sesuai syarat-syaratnya, agar tidak ada kezhaliman anata satu dengan yang lainnya. Masing-masing shahibul aqad (‘ajiir dan musta’jir dalam kasus ini) wajib terikat dengan perjanjian mereka dan tidak diperbolehkan untuk meninggalkan atau membatalkan aqadnya kecuali dengan alasan-alasan syar’i yang telah dijelaskan di atas. Akhlaq yang baik dalam pembatalan muamalah saudara adalah bermusyawarah terhadap pihak pemilik pekerjaan (musta’jir) sehingga dapat ditemukan jalan keluar terbaik dan timbulnya keridhaan serta tidak terjadinya kezhaliman baik dari pihak ‘ajiir maupun musta’jir.

Wallahu’alam bi ash shawab.

Fauzan al Banjari

Yogyakarta, 17 Dzulhijjah 1429 H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s