Hukum Berada Di Tempat Kemaksyiatan

Tanya:

Assalamu’alaikum wr.wb.

Ustadz, bagaimana hukumnya berada ditempat pelacuran (lokalisasi pelacuran) untuk melakukan pengamatan dan penelitian demi kepentingan akademis. Syukron.

Ukhti, Mhs Psikologi

Yogyakarta

Jawab:

Sesungguhnya kaum muslim wajib mengikatkan dirinya kepada syariat Islam dalam beramal. Mereka tidak boleh melakukan suatu amal sebelum memahami hukum atas perbuatan yang akan mereka lakukan. Karena Allah SWT pasti akan memintai pertanggungjawaban terhadap sekecil-kecilnya perbuatan yang kita lakukan. Oleh karena itulah para ulama membuat sebuah kaidah dalam beramal:

اَلأَصْلُ فِيْ اْلأَفْعَالِ التَّقَيُّدُ بِاْلحُكْمِ الشَّرْعِيْ

“Hukum asal dalam perbuatan-perbuatan (mukallaf) adalah terikat dengan hukum syara’” (Taqiyuddin An Nabhani, 1953, Asy Syakhshiyah Al Islamiyah Juz III, hal. 19)

Saat ini banyak sekali terjadi kemaksyiatan yang dilakukan oleh manusia karena tidak diterapkannya hukum-hukum Allah yang mampu menjaga manusia dalam kemuliaan. Hal yang perlu diperhatikan oleh kaum muslimin adalah berhati-hati dalam kehidupannya dan tidak mendekati tempat-tempat kemaksyiatan kecuali untuk merubahnya dengan amar ma’ruf nahi munkar.

Seluruh tempat di dunia ini hukum asalnya adalah mubah. Kemanapun kita akan pergi semuanya diperbolehkan. Hanya saja ada beberapa tempat yang kita dilarang memasuki kecuali memenuhi beberapa persyaratan syar’i.

Pertama, tempat-tempat yang tidak boleh dikunjungi adalah tempat yang merupakan hasil dari hadharah (seperti gereja , kuil, candi atau tempat peribadatan agama selain islam).

Kedua, tempat-tempat yang jelas-jelas terjadi kemaksyiatan di dalamnya. Tidak boleh kita mendekatinya atau berada didalamnya dan berinteraksi dengan mereka semua kecuali untuk mengajak mereka atau mencegah perbuatan maksyiat yang mereka lakukan.

Tentang tempat pelacuran maka rasulullah bersabda;

إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِيْ قَرْيَةٍ ، فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ

“Apabila zina dan riba telah tampak disuatu kampung. Sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah bagi mereka.” (HR Ath Thabarani dan al Hakim)

Suatu tempat yang dilingkupi oleh keharaman (misalnya adanya ikhtilat, khalwat bahkan perzinaan, atau perjudian) karena disertai dengan kemaksyiatan atau kemunkaran, maka aktivitas ditempat tersebut adalah haram dan berada ditempat tersebut juga menjadi haram (Asy-Syuwaiki, t.t. : 104). Allah SWT berfirman:

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِى الْكِتَبِ أَن إِذَا سَمِعْتُمْ ءَايَتِ اللهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلاَ تَقْعُدُوْا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِى حَدِيثٍ غَيْرِهِ

“Sungguh, Allah telah menurunkan kepada kalian di dalam Al qur’an. Bahwa jika kalian mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olok oleh orang-orang kafir, maka janganlah kamu duduk bersama mereka hingga mereka beralih pada pembicaraan yang lainnya.” (QS An-Nisaa`: 140)

Dalam riwayat disebutkan bahwa Khalifah Umar bin Abdul Aziz ra. Pernah menghukum orang yang berada ditempat kemaksyiatan (minum khamr/mabuk-mabukan) termasuk seorang muslim yang hanya ikut duduk dan ia dalam keadaan berpuasa. Syurthoh (petugas polisi) mengatakan kalau pria tersebut adalah seorang mu’min dan ia sedang berpuasa tidak ikut mabuk-mabukan. Khalifah Umar tetap mnghukumnya dan beliau berkata tidakkah dia mendengar firman Allah (beliau membacakan ayat 140 surah an Nisa diatas).

Begitulah ijtihad beliau, beliau telah menganggap orang yang mendiamkan kemungkaran sebagai pelaku kriminal yang layak dihukum; sama dengan pelaku kemungkaran itu sendiri.

Dalil Al-Qur’an lainnya tentang keharaman tersebut adalah,

فَلاَ تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّلِمِيْنَ

“…Maka janganlah kamu duduk bersama kaum yang zhalim setelah (mereka) diberi peringatan.” (QS Al-An’aam : 68).

لَوْلاَ يَنْهَهُمُ الرَّبَّنِيُّونَ وَاْلأَحْبَارُ عَن قَوْلِهِمُ اْلإِثْمَ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ لَبِئْسَ مَاكَانُوا يَصْنَعُونَ

“Mengapa para ulama dan para pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan. (al Maidah: 63)

Juga hadits Rasulullah saw:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلاَ يُسْتَجَابُ لَكُمْ

“Demi Zat yang jiwaku ada dalam genggaman tanganNya, kalian harus melakukan amar ma’ruf nahi munkar atau Allah akan menimpakan azab atas kalian, kemudian kalian berdo’a kepadaNya, lalu do’a kalian tidak akan dikabulkan.” (HR. Tirmidzi).

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يُعَذِّبُ الْعَامَّةَ بِعَمَلِ الْخَاصَّةِ حَتَّى يَرَوْا الْمُنْكَرَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْهِمْ وَهُمْ قَادِرُونَ عَلَى أَنْ يُنْكِرُوهُ فَلاَ يُنْكِرُوهُ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَذَّبَ اللهِ الْخَاصَّةَ وَالْعَامَّةَ

“Sesungguhnya Allah tidak mengazab manusia secara umum karena perbuatan khusus (yang dilakukan oleh sekolompok orang) hingga mereka melihat kemungkaran di tengah-tengah mereka, mereka mampu mengingkarinya, namun mereka tidak mengingkarinya. Jika itu yang mereka lakukan, Allah akan mengazab yang umum maupun yang khusus.” (HR. Ahmad)

Sudah jelas bagi kita bahwa tempat pelacuran adalah sarang perzinaan dan kemaksyiatan yang besar (dosa besar), maka haram bagi kita untuk mendekatinya atau berada di dalamnya kecuali hanya untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Karena keikutsertaan seseorang didalam sebuah majelis (tempat) yang didalamnya dilaksanakan kemaksyiatan dan kemungkaran hukumnya haram.

Sebagaimana sabda nabi saw;

“Ketika bani israel terjerumus ke dalam maksyiat, maka ulama-ulama mereka telah melarangnya, namun tidak mau menghentikan melakukan maksyiat itu. Tidak lam kemudian para ulama pun justru (terlibat) duduk (bersama mereka) di majelis (tempat maksyiat) mereka, makan dan minum bersama mereka. Maka Allah menutupi hati sebagian mereka atas sebagian yang lain dan melaknat mereka dengan lisan nabu Dawud as dan Nabi Isa ibnu Maryam as. Yang demikian itu dikarenakan kemaksyiatan dan perbuatan mereka yang melampaui batas. Kemudian Rasulullah duduk dan bersandar lalu bersanbda: ”Jangan kamu tidak boleh melakukan yang demikian. Demi zat yang jiwaku ada di tangan-Nya (kamu akan dilaknat dan ditutupi hatimu pula kecuali) jika kamu benar-benar (mau) membelokkan mereka (dari jalan yang tidak benar dan mendorong mereka agar tetap berada) di atas kebenaran.” (HR. Tirmidzi)

Satu-satunya amal yang harus di lakukan oleh seorang muslim ketika menemui sebuah kemunkaran atau kemaksyiatan adalah mengingkarinya dan meluruskannya. Bukan amal yang lainnya seperti sekedar mengamat-amati dan menuliskan laporan pengamatannya. Sudah jelas dan tegas peringatan Allah bagi kita semua.

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ

“Siapa saja di antara kalian melihat kemungkaran, ubahlah kemungkaran itu dengan tangannya (kekuatan fisik). Jika tidak mampu, ubahlah dengan lisannya (ucapannya). Jika tidak mampu, ubahlah dengan hatinya (dengan tidak meridhai). Dan itu adalah selemah-lemah iman. “ (HR. Imam Muslim, An-Nasa`i, Abu Dawud, dan Ibnu Majah ).

Hadits ini dengan tegas memberikan kepada kita tuntunan yang jelas dalam beramal ketika menemui kemaksyiatan. Jika kita memiliki kekuatan maka cegahlah walaupun harus terjadi perkelahian (Abu Bakar pernah memukul muka fanhash karena perkataan kekufurannya terhadap ayat-ayat Allah). Jika tidak mampu cegahlah dengan menasehati walaupun terjadi perdebatan. Jika masih tidak mampu maka ingkari dengan hati, dan wujud pengingkaran dengan hati adalah meninggalkan tempat kemaksyiatan tersebut bukan berdiam diri di dalamnya sebagaimana telah disampaikan dalam hadits-hadits sebelumnya.

Wallahu’alambishshowwab..

Yogyakarta 16 Rabiul Akhir 1430H/12 April 2007M

Fauzan al Banjari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s