Empat Orang Isteri Kehidupan

Fauzan Al Banjari

Disampaikan pada kultum Subuh tanggal 13 Ramadhan 1429H di Masjid As Sa’adah Yogyakarta

Ada suatu kisah menarik yang penuh hikmah dalam kehidupan tentang seorang pedagang kaya dengan empat orang istrinya.

Suatu ketika, ada seorang pedagang kaya yang mempunyai 4 orang istri. Dia sangat mencintai istrinya yang keempat, dan selalu menganugerahinya harta dan kesenangan yang banyak dan mewah. Sebab, dialah yang tercantik diantara semua istrinya. Pria ini selalu berusaha sekuat tenaga memberikan yang terbaik buat istri keempatnya ini.

Pedagang itu juga sangat mencintai istrinya yang ketiga. Dia sangat bangga dengan istrinya yang ketiga ini, dan selalu berusaha untuk memperkenalkan wanita ini kepada semua teman-temannya. Namun, ia juga selalu khawatir kalau-kalau istrinya ini akan lari dengan pria yang lain.

Begitu juga dengan istrinya yang kedua. Ia pun sangat menyukainya. Ia adalah istri yang sabar dan pengertian. Kapanpun pedagang ini mendapat masalah dan persoalan, maka dia selalu meminta pertimbangan istrinya ini. Dialah tempat bergantung. Dialah tempat berlindung. Dia akan selalu menolong dan mendampingi suaminya, melewati masa-masa yang sulit.

Istrinya yang pertama adalah pasangan yang sangat setia. Dia selalu membawa perbaikan bagi kehidupan keluarga ini. Dia tak pernah mengeluh meski ia yang harus bekerja keras untuk keluarga ini. Dia lah yang merawat dan mengatur semua kekayaan dan usaha sang suami. Akan tetapi sayang, sang pedagang, tak begitu mencintainya. Bahkan lebih sering mengacuhkannya. Walaupun sang istri pertama ini begitu sayang padanya, namun, pedagang ini tak begitu mempedulikannya.

Suatu ketika, si pedagang jatuh sakit. Lama kemudian, ia menyadari, bahwa ia akan segera meninggal. Dia meresapi semua kehidupan indahnya, dan berkata dalam hati. “Saat ini, aku punya 4 orang istri. Namun, saat aku meninggal, aku akan sendiri. Betapa menyedihkan jika aku harus hidup sendiri.” Lalu ia meminta semua istrinya datang, dan kemudian mulai bertanya kepada mereka satu persatu. Ia bertanya pada istri keempatnya. “Isteriku engkaulah yang paling kucintai, kuberikan kau gaun dan perhiasan yang indah. Nah, sekarang, aku akan mati, maukah kau mendampingiku dan menemaniku? Sebentar Isterinya terdiam. Kemudian menjawab: “Tentu saja tidak” dan pergi begitu saja tanpa berkata-kata lagi. Jawaban itu sangat menyakitkan hati sang suami. Seakan-akan, ada pisau yang terhunus dan mengiris-iris hatinya. Hatinya begitu sedih. Pedagang yang sedih itu lalu bertanya pada istri ketiganya. “Isteriku, Akupun mencintaimu sepenuh hati, dan saat ini, hidupku akan berakhir. Maukah kau ikut denganku, dan menemani akhir hayatku?” Istrinya menjawab, ”Hidup begitu indah disini. Aku akan menikah lagi jika kau mati”. Sang pedagang begitu terpukul, hatinya bertampah perih dengan ucapan ini. Badannya mulai merasa demam.

Lalu, ia bertanya pada istri keduanya. Ia tahu isterinya yang kedua sangatlah baik padanya, dan selalu menolongnya di saat-saat yang ia butuhkan. “Isteriku, Aku selalu berpaling padamu setiap kali mendapat masalah. Dan kau selalu mau membantuku. Kini, aku butuh sekali pertolonganmu. Kalau ku mati, maukah kau ikut dan mendampingiku?” Sang istri menjawab pelan. “Maafkan aku, wahai suamiku” ujarnya “Aku tak bisa menolongmu kali ini. Aku hanya bisa mengantarmu hingga ke liang kubur saja. Nanti, akan kubuatkan makam yang indah buatmu dan akan kutaburkan bunga diatasnya.” Jawaban itu seperti kilat yang menyambar. Sang pedagang itu kini merasa putus asa. Tak ada sisterinya yang mau menolongnya. Bahkan isterinya yang kedua yang begitu ia harapkanpun tak bisa membantunya.

Dalam keputus asaannya. Tiba-tiba terdengar sebuah suara. “Suamiku, jangan khawatir dan janganlah bersedih. Aku akan tinggal denganmu. Aku akan ikut kemanapun kau pergi. Aku, tak akan meninggalkanmu, aku akan setia bersamamu selamanya”. Sang pedagang lalu menoleh ke samping, dan ia mendapati istri pertamanya disana. Isterinya itu tampak begitu kurus tak terurus. Badannya pun ceking bak ranting pohon kering. Ia tampak seperti orang yang kelaparan. Merasa menyesal, sang pedagang lalu bergumam, “Ya Isteriku, kalau saja, aku bisa merawatmu lebih baik saat ku mampu, tak akan kubiarkan kau seperti ini. Tapi kini aku tak mungkin lagi bisa merawatmu”

Sahabat, sesungguhnya kita punya 4 orang istri dalam kehidupan ini. Istri keempat kita, adalah tubuh dan raga kita ini. Seberapapun banyak waktu dan biaya yang kita keluarkan untuk tubuh kita supaya tampak indah dan gagah, semuanya akan hilang. Ia akan pergi segera kalau kita meninggal. Tak ada gunanya lagi keindahan dan kegagahan yang tersisa saat kita menghadap-Nya.

Istri ketiga kita, adalah status sosial dan kekayaan. Saat kita meninggal, semuanya akan  kita tinggalkan. Bahkan ia akan pergi kepada yang lain. Mereka akan berpindah, dan melupakan kita yang pernah memilikinya.

Sedangkan istri yang kedua, adalah keluarga, kerabat dan teman-teman kita. Seberapapun dekat hubungan kita dengan mereka, dan sebaik apapun mereka kepada kita, mereka tak akan bisa bersama kita selamanya. Hanya sampai diatas kuburlah mereka akan menemani dan mengantar kita.

Dan, Sahabat, sesungguhnya, istri pertama kita adalah jiwa dan amal kita. Namun, kita terlalu sering mengabaikan, dan melupakannya demi kekayaan dan kesenangan pribadi kita. Kita terlalu sering meremehkannya. Padahal sesungguhnya, hanya jiwa dan amal kita sajalah yang mampu untuk terus setia dan mendampingi kemanapun kita melangkah. Hanya amal yang mampu menolong kita di alam kubur dan akhirat kelak. Jadi, selagi kita mampu dan diberikan kesempatan, perlakukanlah jiwa dan amal kita dengan bijak. Jangan sampai kita menyesal belakangan hari. Karena waktu tak akan pernah kembali untuk memberikan kesempatan kepada kita semua.

Sahabat, sungguh amal yang diterima oleh Allah memiliki dua syarat: pertama, adalah Ikhlas hanya kepada Allah. ”Dan tidaklah mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan menjadi orang yang ikhlas dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (Al Bayyinah: 5). Dan kedua, harus sesuai dengan ajaran (syariat) yang dibawa oleh baginda Rasulullah saw. Sabda Rasulullah saw. ”Barang siapa melakukan suatu amal perbuatan yang tidak ada di dalamnya perintah kami (Allah dan Rasul) maka amal tersebut tertolak” (HR. Muslim).

Wallahu’alam bi ash showwab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s