Bolehkah Tidak Sholat Jum’at Karena Menjaga Keamanan?

Tanya:

Assalamu’alaikum wr.wb

Di beberapa Fakultas bahkan Rektorat UII, pasti ada 1-2 orang satpam yang gak jumatan…alasannya, demi menjaga keamanan ketika para civitas akademika sholat jumat. Yg pasti, ketika waktu sholat jumat tiba, kampus emang sepi…. Katanya juga, jadwal mereka di rolling, jadi gak setiap minggu mereka meninggalkan sholat jumat, paling 1 bulan 1 kali aja, karena dapet jatah jaga tadi… Apakah ini terkategori sebagai meremehkan sholat jumat juga? Apakah alasan “demi menjaga keamanan” dapat menggugurkan kewajiban kaum lelaki untuk menginggalkan sholat jumat?

19 Februari 2009

Ikhwan

Yogayakarta

Jawab:

Sholat Jum’at adalah fardhu ’ain bagi setiap Muslim laki-laki. Kewajiban ini adalah suatu perkara ma’lum min ad-din bi ad-dlarurah (yang pasti diketahui dalam bidang agama). Dalilnya adalah:

”Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli[1]. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui. Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (al-Jumu’ah: 9-10).

Dari Jabir bin Abdullah ra dari Nabi saw ia berkata:

مَنْ تَرَكَ الْجُمُعَةَ ثَلاَثَ مِرَارٍمِنْ غَيْرِ عُذْرٍ طَبَعَ الله ُعَلَى قَلْبِهِ

”Barangsiapa yang meninggalkan shalat Jum’at sebanyak tiga kali tanpa ada ’udzur, maka Allah Swt akan mengunci hatinya”. (HR. Ahmad, an Nasai, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Majah dan al-Hakim)

مَنْ تَرَكَ الْجُمُعَةَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ تَهَاوُنَابِهَا طَبَعَ الله ُعَلَى قَلْبِهِ

”Barangsiapa yang meninggalkan Jum’at sebanyak tiga kali karena menganggapnya remeh, maka Allah mengunci hatinya”. (HR. Ibun Hibban, Ahmad, Abu Dawud, an Nasai dan Tirmidzi)

مَنْ تَرَكَ الْجُمُعَةَ ثَلاَثًا مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ فَهُوَ مُنَافِقٌ

”Barangsiapa yang meninggalkan Jum’at tiga kali karena selain ’udzur maka dia seorang munafik”.(HR. Ibnu Hibban)

”Orang-orang itu akan berhenti dari meninggalkan Jum’at-Jum’at, atau Allah SWT akan menutup hati-hati mereka, kemudian mereka sungguh menjadi orang-orang yang lalai”. (HR. Muslim dan al-Darimi).

Sholat Jum’at diwajibkan bagi seluruh Muslim, kecuali orang yang sakit, anak-anak, wanita, hamba sahaya (budak) dan musafir, juga orang yang terkena ’udzur seperti hujan, berlumuran lumpur, dingin yang sangat, ketakutan atas jiwa, harta dan keluarga, dan orang yang di tahan (dipenjara) (Uwaidhah, Al Jami’ li al-Ahkam ash-Sholat, 2001). Dalilnya adalah sebagai berikut:

الْجُمُعَةُ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إِلاَّ أَرْبَعَةً عَبْدٌ مَمْلُوْكٌ أَوْ اِمْرَأَةٌ أَوْ صَبِيٌّ أَوْ مَرِيْضٌ

”Jum’at itu suatu kewajiban yang dibebankan pada setiap Muslim dalam satu jamaah kecuali empat golongan: (yaitu) hamba yang dimiliki (budak), perempuan, anak kecil atau orang sakit”. (HR. Al-Hakim dan Abu Dawud)

Abdurrazaq telah meriwayatkan dalam kitabnya dari Hasan, ia berkata Rasulullah SAW bersabda:

لَيْسَ عَلَى الْمُسَافِرِ جُمُعَةٌ

”Tidak ada kewajiban Jum’at bagi orang yang melakukan perjalanan”.

Kebolehan tidak sholat Jum’at karena ’udzur, dalilnya antara lain:

مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ فَلاَ صَلاَةَ لَهُ إِلاَّ مِنْ عُذْرٍ

”Barangsiapa yang mendengar panggilan adzan lalu dia tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya kecuali karena ’udzur”. (HR. Ibnu Majah)

Kata panggilan (seruan) adzan dan udzur dalam hadits ini bersifat umum sehingga berlaku untuk semua seruan adzan baik seruan adzan sholat berjamaah lima waktu maupun sholat Jum’at.

Diantara yang termasuk ’udzur adalah ketakutan atas jiwa, harta dan keluarga. Ketakutan apapun dari ketiga jenis ini bisa terkategori ’udzur ketakutan yang membolehkan seseorang meninggalkan sholat Jum’at. (Uwaidhah, Al Jami’ li al-Ahkam ash-Sholat, 2001). Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata Rasulullah saw bersabda:

مَنْ سَمِعَ الْمُنَادِيَ فَلَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ اِتِّبَاعِهِ عُذْرٌ قَالُوا وَمَا الْعُذْرُ قَالَ خَوْفٌ أَوْ مَرَضٌ لَمْ تُقْبَلْ مِنْهُ الصَّلاَةُ الَّتِي صَلَّى

Barangsiapa yang mendengar muadzin lalu tidak ada udzur yang menghalanginya untuk memenuhi (panggilannya), mereka bertanya: ’Apakah ’udzur itu?’ Beliau saw menjawab: ’Ketakutan atau sakit, maka shalat yang dilakukan olehnya tidak akan di terima’”. (HR. Abu Dawud)

Dari Abi Malih bin Usamah dari ayahnya, ia berkata:

”Orang-orang ditimpa hujan pada suatu Jum’at, lalu Nabi saw memerintahkan dengan menyerukan bahwa shalat pada hari itu dilakukan di rumah-rumah atau tempat tinggal.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, an-Nasai dan Baihaqi).

Dari Abdullah bin al-Harits Ibnu Ammi Muhammad bin Sirin, ia berkata: Ibnu Abbas berkata kepada muadzinnya pada hari turun hujan:

”Jika engkau telah mengatakan aku bersaksi bahwa Muhamad adalah utusan Allah maka janganlah engkau mengatakan hayya ’alas shalat (marilah kita sholat), tapi katakanlah shallu fii buyutikum (shalatlah di rumah-rumah kalian). Lalu orang-orang seolah mengingkari hal itu, maka dia berkata: ’Hal itu telah dilakukan oleh orang yang lebih baik dariku, sesungguhnya Jum’at itu suatu ’azimah, dan sesungguhnya aku tidak suka menyusahkan kalian sehingga kalian berjalan diatas tanah dan tempat yang licin’”. (HR. Bukhari, Muslim dan Abu Dawud)

Ucapan dan perbuatan Ibnu Abbas ini menunjukkan bahwa hujan dan tanah licin termasuk ’udzur ditinggalkannya Jum’at dan ucapan beliau: ”dan aku tidak suka menyusahkan kalian” ini menjadi ’illat ditinggalkannya Jum’at ketika ada hujan dan tanah licin. Inilah masyaqqah (kesulitan) dan menimbulkan kesusahan.

Termasuk dalam kategori udzur adalah angin kencang dan udara yang sangat dingin. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Nafi dan Ibnu Umar, ia berkata:

”Adalah Rasulullah  saw menyuruh muadzinnya pada malam yang berhujan atau malam yang dingin dan berangin: ’Shalatlah kalian di rumah-rumah kalian’”. (HR. Ibnu Majah dan Malik)

Sedangkan penahan (dalam penjara) juga merupakan suatu ’udzur, karena menghalangi seseorang untuk bisa mengikuti shalat Jum’at, dan perkara ini sangat jelas.

Dari dalil-dalil yang telah disebutkan di atas dapat kita pahami bahwa kewajiban sholat Jum’at tetap berada dalam hukum asalnya (fardhu ’ain bagi Muslim laki-laki baligh) kecuali jika ada ’illat yang menjadi sebab gugurnya kewajiban tersebut. Kondisi yang menggugurkan kewajiban sholat Jum’at sebagaimana yang telah disebutkan, diantaranya adalah adanya ’udzur.

Salah satu jenis ’udzur sesuai hadits Rasulullah adalah adanya rasa takut atau sakit. Rasa takut tersebut dapat berupa ketakutan akan jiwa, harta ataupun keluarga.

Terkait dengan pertanyaan apakah boleh menjadikan alasan “demi menjaga keamanan” meninggalkan sholat Jum’at?

Jawabnya:

Diterapkannya sekulerisme dalam akidah umat dengan berbagai aturan cabangnya dalam kehidupan telah menciptakan berbagai persoalan kehidupan bagi umat manusia. Berbagai krisis kehidupan terjadi, termasuk juga krisis terhadap keamanan lingkungan. Saat ini tidak ada satu orangpun yang merasa hartanya aman ketika ditinggalkan di rumah meski rumah tersebut telah dikunci.

Dalam suatu kondisi dimana tidak terjamin adanya keamanan, atau bahkan terdapat bukti bahwa pernah terjadi kehilangan saat sholat Jum’at di lingkungan tersebut sehingga memunculkan dugaan bahwa lingkungannya tidak aman maka alasan ini dapat terkategori dalam kondisi khauf (ketakutan) akan harta dan dapat menjadi illat ditinggalkannya sholat Jum’at untuk sementara waktu. Hanya saja kondisi ini tidak bisa dijadikan alasan untuk meninggalkan sholat Jum’at secara terus menerus (berturut-turut) apabila masih ada metode penjagaan keamanan yang lain.

Pengaturan yang dilakukan untuk para satpam (rolling) agar mereka tidak meninggalkan kewajiban Jum’at ini secara terus menerus dan berturut-turut adalah suatu kebijakan yang masih dalam kategori pendapat yang syar’i akan persoalan peninggalan sholat jum’at karena adanya rasa khauf (takut) tersebut.

Jika kondisi keamanan telah terpenuhi dan terjamin maka ’illat meninggalkan sholat Jum’at karena rasa takut akan harta tersebut tidak dapat lagi dijadikan alasan. Hal ini tidak termasuk maksud hadits meremehkan sholat. Karena kategori meremehkan sholat termasuk sholat Jum’at adalah orang yang meninggalkan sholat tersebut tanpa ada ’udzur yang disyari’atkan sebagaimana dapat dipahami dari hadits-hadits di atas.

Wallahu’alam bi as-showab…

Al Faqir ila Allah

Fauzan al-Banjari


3 Kali Tidak Sholat Jum’at Bagaimana Hukumnya?

Tanya:

Assalamu’alaikum wr.wb

Saya mau menanyakan tentang hukumnya orang yg tidak melakukan shalat jum’at sebanyak 3 kali secara berturut2?, Dan apakah ada solusi untuk seorang hamba untuk diberikan kesempatan taubat dan adakah persyaratan lain untuk menghindari dari datangnya munafiq?

19 Februari 2009

Reynold

Yogyakarta

Jawab:

Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh

Orang yang meninggalkan sholat termasuk sholat Jum’at tanpa ada ’udzur syar’i maka hukumnya haram dan dia berdosa. Karena sholat adalah kewajiban bagi setiap individu muslim. Sholat Jum’at secara khusus adalah sholat yang diwajibkan kepada setiap individu muslim laki-laki secara berjamaah. Maka melaksanakan sholat Jum’at secara sendiri (munfarid) tidak diperbolehkan atau tidak dianggap menegakkan sholat Jum’at.

Dalam hukum (sistem pemerintahan) Islam, siapa saja muslim yang baligh meninggalkan sholat maka ia harus dipanggil dihadapan seorang qadhi (hakim dalam sistem pemerintahan Islam). Ia harus ditanyai alasan mengapa ia meninggalkan sholat. Jawaban darinyalah yang akan menentukan keputusan seorang qadhi akan status dirinya apakah berstatus fasiq atau murtad.

Status fasiq berlaku kepada mereka yang meninggalkan sholat karena kemalasan atau meremehkan sholat, dan ia dipandang sebagai orang yang suka melakukan kemaksyiatan (fasiq), baginya dikenai hukuman ta’zir, berupa hukuman yang dipandang oleh penguasa atau qadhi bisa berfungsi efektif sebagai zawajir (pencegah).

Status kafir atau murtad dari agama Allah berlaku apabila ia meninggalkan sholat tersebut karena mengingkari kewajiban sholat tersebut atau dengan kata lain secara yakin ia menyatakan bahwa sholat yang lima waktu dan sholat Jum’at itu tidak wajib. Orang ini akan diberi waktu tiga hari untuk bertaubat, jika bertaubat (maka taubatnya akan diterima), dan jika tidak maka dia akan dibunuh. (Ali Raghib, Ahkam ash-Sholat, hal 37-38; Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, Al Jami’ li al-Ahkam ash-Sholat, hal 6-7)

Hukum ini berlaku umum untuk semua orang yang meninggalkan sholat yang wajib secara umum.

Bagi mereka yang meninggalkan sholat Jum’at juga berlaku hukum yang demikian. Terkait dengan meninggalkan sholat Jum’at tiga kali secara berturut-turut maka terdapat hadits-hadits sebagai berikut:

Dari Jabir bin Abdullah ra dari Nabi saw ia berkata:

مَنْ تَرَكَ الْجُمُعَةَ ثَلاَثَ مِرَارٍمِنْ غَيْرِ عُذْرٍ طَبَعَ الله ُعَلَى قَلْبِهِ

”Barangsiapa yang meninggalkan shalat Jum’at sebanyak tiga kali tanpa ada ’udzur, maka Allah SWT akan mengunci hatinya”. (HR. Ahmad, an-Nasai, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Majah dan al-Hakim)

مَنْ تَرَكَ الْجُمُعَةَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ تَهَاوُنَابِهَا طَبَعَ الله ُعَلَى قَلْبِهِ

”Barangsiapa yang meninggalkan Jum’at sebanyak tiga kali karena menganggapnya remeh, maka Allah mengunci hatinya”. (HR. Ibun Hibban, Ahmad, Abu Dawud, an Nasai dan Tirmidzi)

مَنْ تَرَكَ الْجُمُعَةَ ثَلاَثًا مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ فَهُوَ مُنَافِقٌ

”Barangsiapa yang meninggalkan Jum’at tiga kali karena selain ’udzur maka dia seorang munafik”.(HR. Ibnu Hibban)

”Orang-orang itu akan berhenti dari meninggalkan Jum’at-Jum’at, atau Allah SWT akan menutup hati-hati mereka, kemudian mereka sungguh menjadi orang-orang yang lalai”. (HR. Muslim dan al-Darimi).

Inilah dalil-dalil yang mahsyur yang kami ketahui tentang persoalan ini. Mereka yang tanpa ’udzur meninggalkan sholat Jum’at maka Allah SWT akan mengunci hatinya, dan di sisi-Nya dia tergolong sebagai orang Munafik dan orang yang lalai. (Uwaidhah, Al Jami’ li al-Ahkam ash-Sholat, hal 519). Hadits-hadits merupakan pernyataan dari Rasulullah bahwa Allah memurkai apa yang dilakukan oleh mereka yang dengan sengaja meninggalkan sholat Jum’at tanpa ‘udzur sampai kepada derajat orang yang munafik.

Terkait pertanyaan kedua tentang taubat silahkan lihat pembahasan kami tentang Kelalaian, Taubat dan Ampunan. Untuk menghinari datangnya kemunafikan maka harus dipahami apa yang dimaksud dengan munafik dalam Islam, untuk memahaminya silahkan lihat pembahasan kami dengan judul Munafik (Hipokrit).

Wallahu’alam bi ash-Showwab

Al Faqir ila Allah

Fauzan al-Banjari


[1] Maksudnya: apabila imam telah naik mimbar dan muazzin Telah azan di hari Jum’at, Maka kaum muslimin wajib bersegera memenuhi panggilan muazzin itu dan meninggalakan semua pekerjaannya

One thought on “Bolehkah Tidak Sholat Jum’at Karena Menjaga Keamanan?

  1. terima kasih atas informasi yang telah diberikan di atas, pada kesempatan ini saya ingin sekali mempertanyakan apakah masalah di atas ( masalah keamanan ) sama dengan permasalahan berikut ini :
    Kebetulan kami bekerja pada posisi engineering ( mall dan hotel )dan kebanyakan dari kami adalah muslim ( tidak ada yang non-muslim), permasalahannya pada hari jum’at semua dari kami melaksanakan sholat jumat di masjid dengan jarak dari lokasi kerja kami 300 meter ( 20 menit jika jalan kaki ),pernah pada suatu hari terjadi listrik padam dan sistem genset kami gagal dan yang terjadi hotel kami padam 10 menit, hal ini terjadi karena kami semua sholat jumat.
    Untuk itu saya butuh nasehatnya apakah boleh salah satu dari kita dirolling untuk tidak jumat-an, mohon diberi dasar dari ayat suci alqur’an dan hadist( contoh kasus dijaman nabi)

    terima kasih
    ahmad zul

    nt:mohon dibalas melaui email di atas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s