The Way Of Love

(Disampaikan Pada Kajian Rutin Takmir Musholla Bahrul ‘Ulum FTI-UII Yogyakarta)

Fauzan Al Banjari

Katakanlah, “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah, “Taatilah Allah dan Rasul-Nya. Jika kalian berpaling maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (QS Ali Imran [3]: 31-32).

Membangun Paradigma Hidup

Suatu pertanyaan yang sangat penting untuk di jawab dalam membngun paradigma hidup adalah untuk apa kita hidup di dunia? Tentu saja jawaban dari pertanyaan ini akan bergantung pada penetapan tujuan yang dibangun atas paradigma bepikir masing-masing orang tentang kehidupan. Sebagai seorang muslim tentu saja dengan mudah kita akan menjawab bahwa tujuan hidup kita didunia adalah untuk beribadah kepada Allah. Kitapun akan mengutip ayat Qur’an surah Adz Dzariyat 56. kemudian kita katakan itulah tujuan hidup manusia di dunia, yaitu mengabdi kepada Allah.

Benarkah itu tujuan hidup kita? ataukah itu adalah cara kita untuk mencapai tujuan yang sesungguhnya? Kita harus menetapkan sebuah tujuan dalam hidup kita. Karena tujuan itulah yang akan memotivasi kita untuk berbuat dan beramal. Tentu saja manusia bisa saja berbuat dan beramal tanpa memiliki tujuan. Namun amal yang dilakukannya pasti tak memiliki arah, mengalir seperti air, seperti ilalang yang berayun mengikuti kemana saja agin betiup. Orang-orang yang sukses didunia, dapat mencapai kesuksesannya karena ia telah menetapkan sebuah tujuan yang akan dicapainya. Ia memiliki impian yang selalu di idamkannya, ia memiliki cita-cita yang selalu memenuhi pikirannya, sehingga setiap langkah dan geraknya sekecil apapun ia arahkan untuk mencapai cita-cita yang besar tersebut.

Bukankah tujuan hidup yang paling besar dalam benak kita adalah, kebahagian dalam kehidupan berikutnya, hidup yang tak ada batas waktu? Bukankah tujuan kita adalah surga Allah yang penuh kenikmatan, dan kenikmatan yang tertinggi yang akan kita rasakan bukanlah bidadari-bidadari yang cantik molek atau yang lainnya. Kebahagiaan yang tetinggi adalah perjumpaan dengan Allah, menatap wajah-Nya, dan mendengarkan Ia membacakan Al Qur’an untuk kita dan mengatakan bahwa Ia ridho atas diri kita. Maka demi Allah, itulah kebahagiaan yang paling agung, ketika Ia yang sangat kita cintai berjumpa dengan kita dan megatkan keridhoannya kepada kita.

Tujuan ini sudah beitu sering kita ucapkan, setiap kita memanjatkan do’a kepada Allah agar apa yang menjadi cita-cita kita itu tercapai. “Ya Rabbana, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (lihat Qs. Al Baqarah 201)

Pertanyaan selanjutnya adalah berapa lama kita akan hidup di dunia? Puluhan tahun mungkin atau paling lama ratusan tahun. Hidup yang “selama” itu, akan kita pertaruhkan untuk menjalani hidup lain yang bahkan masa jutaan triliun tahun tak ada artinya, karena kita akan hidup pada masa yang tak berbatas. Lalu hidup yang hanya puluhan tahun ini akan kita tukarkan dengan kenikmatan atau siksa yang tak berkesudahan.

Bukankah waktu yang sangat singkat ini adalah sebuah episode penentuan. Apa yang akan anda lakukan jika anda dihadapkan pada sebuah ujian, dimana jika anda gagal dalam ujian tersebut maka nyawa ibu anda yang paling anda sayangi akan menjadi taruhannya, tentu dengan sekuat tenaga, dan segala upaya anda sampai kebatas maksimal yang anda bisa, anda akan berjuang sampai titik darah penghabisan. Anda akan hujamkan dalam dada anda bahwa anda wajib lolos ujian tersebut. Bagaimana anda menggambarkan episode penentuan bagi diri anda.

Paradigma hidup seperti apa yang anda harapkan untuk diri anda?, karena apapun paradigma anda tentang kehidupan di dunia, maka kehidupan di dunia itu tidak akan berubah bagi anda, ia tetaplah sebuah episode perjalanan yang sangat monumental, ia tetaplah sebuah episode penentuan bagi setiap manusia. Terserah kepada anda, apakah anda akan menyia-nyiakan kesempatan satu-satunya yang anda miliki, anda bebas menentukan perjalanan anda didunia, tapi satu yang tidak akan bisa anda rubah bahwasanya Allah telah menetapkan balasan bagi setiap pilihan yang anda ambil.

“Kemudian kamu pasti akan diperiksa di hari itu (hari kiamat) tentang semua nikmat itu”. (Qs. At-Takatsur: 8). “Maka barangsiapa berbuat kebaikan sekalipun seberat Zarrah, niscaya ia akan melihat (balasannya). Dan barangsiapa berbuat kejahatan, sekalipun seberat Zarrah, niscaya ia akan melihat (balasannya)” (Qs. Al-Zalzalah: 7-8).

Bagaimana Menjalani Hidup

Episode dunia adalah episode amal, lalu bagaimana jobs descriptionnya?

Maka amal yang harus dilakukan adalah sesuai dengan perintah dan larangan Allah Yang Maha Perkasa, karena kebahagian (surga dan ridho) adalah milik Allah swt. “Dan tidaklah Aku Ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beibadah kepadaKu” (Qs. Adzariyat: 56).

Makna ibadah dalam ayat ini adalah tha’atullah wakfudhu’un lahu waltizamu ma syara’ahu minaddin. (mentaati Allah, tunduk dan patuh kepada-Nya, serta terikat dengan aturan agama yang disyariatkan-Nya. Oleh karena itu kehidupan di dunia itu adalah untuk menjalani kehiduipan dengan berdasarkan aturan Allah sepenuhnya.

Ibadah yang harus kita lakukan adalah semua yang diperintahkan oleh Allah, baik ibadah mahdhah, maupun ibadah ghairu mahdhah, dengan kata lain ibadah ritual yang merupakan hubungan antara manusia dengan Allah, dan ibadah yang merupakan hubungan antara manusia dengan dirinya sendiri, tanpa meninggalkan ibadah yang bersifat sosiologis, yaitu hubungan dirinya dengan orang lain.

Karena semua itu adalah ibadah kepada Allah, dimana tidak dibenarkan untuk membeda-bedakan sesuatu kewajiban dengan kewajiban yang lain. Atau hanya mengimani dan mengambil sebagian yang diperintahkan oleh Allah dan meninggalkan sebagian yang lain.

“Apakah kamu hanya beriman kepada sebagian al-Kitab dan ingkar kepada sebagian yang lain?.. (Qs. Al-Baqarah; 85). Allah juga telah memerintahkan kepada setiap orang yang beriman untuk masuk Islam secara secara total (kaffah).

Inilah jobs description yang harus ia kerjakan dikehidupan dunia, karena itu paradigma ini sekaligus menjadi parameter kehidupan bagi kita  untuk menilai “behasil” atau “gagal”-nya kehidupan kita di dunia.

Sampai saat ini sudah berapa banyak ibadah yang kita lakukan, berapa banyak dari semua amal tersebut yang benar-benar kita lakukan dengan sungguh-sungguh, yang telah kita lakukan dengan kegigihan, yang kita jalani dengan ketabahan, yang kita tekuni dengan keuletan. Itu adalah penilaian kita. Tentu Allah lebih mengetahui, karena Ia As-Sami’ul Aliim (Maha mendengar lagi Mah Mengetahui). Tentu saja ia Ia tidak sekedar mengethaui apa yang namanya kesungguhan, kegigihan, keuletan, serta ketabahan, yang akhirnya dilanjutkan dengan tindakan nyata. Namun, Ia juga mengetahui apa yang “hanya” sekedar penyesalan, kesadaran, maupun perenungan, yang belum dilanjutkan kepada tindakan nyata. Begitupun Allah sungguh mengetahui siapa yang hidupnya hanya dipergunakan sekedar bemain-main. Naudzubillah. Kita berlindung kepada dan memohon kepada Allah atas emua kealfaan dan kelemahan.

Sumpah Agung Setiap Muslim

Ingatlah bahwa setiap hari kita telah berjanji kepada Allah. Kita telah berikrar melaui syahadat yang kita ucapakan baik didalam maupun diluar sholat-sholat kita. Kitapun telah bersumpah kepada Dzat Yang Maha Perkasa bahwa kita telah menyerahkan seluruh jiwa dan raga kita kepada Allah SWT, sebagaimana yang senantiasa kita ikrarkan pada permulaan setiap kali dia melaksanakan sholat:

وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَاْلاَرْضَ حَنِيْفاً مُسْلِماً وَمَا اَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. اِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي، وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِى، ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَبِذَلِكَ اُمِرْتُ، وَاَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ.

“Aku hadapkan wajahku kehadirat Sang Pencipta langit dan bumi sepenuh ketundukan dan kepasrahan diri, dan bukanlah aku dari golongan orang-orang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidup dan matiku hanyalah bagi Allah Sang Penguasa semesta alam. Tiada sekutu apa pun bagi-Nya, dan demikianlah aku diperintahkan sedang aku termasuk dari orang-orang muslim.”

Namun terkadang kita lupa bahwa setiap hari, minimal lima kali kita telah mendeklarasikan sumpah kita, penyerahan diri kita kepada Allah SWT. Di dalam sholat kita menyatakan pasrah diri dan tunduk kepada Allah, hidup dan mati hanya untuk Allah namun di luar sholat kita masih berkompromi dan kadang-kadang masih suka melalaikan banyak kewajiban dan amanah, bahkan kita masih berani mengemukakan alasan-alasan yang Allah Maha Mengetahui Kebenarannya.  Astaghfirullah!

Ingatlah janji kita ini, ingatlah Sumpah yang Agung ini. Inilah sumpah setia kita kepada Allah swt. Sungguh Allah akan meminta pertanggung jawaban atas apa yang kita janjikan. Dengan mengingat janji tersebut maka kita harus memiliki sikap komitmen dalam menjalani kehidupan.

Sikap komitmen kita kepada Allah adalah dengan menetapi diri kita agar tetap berjalan sesuai rel syariat. Tidak menyalahinya, ataupun mencoba mengkhianati sumpah tersebut.

Komitmen Dengan Sumpah Karena Cinta Kepada Allah.

Lahirnya sikap komitmen dalam jiwa setiap muslim karena ia memiliki tujuan hidup yang jelas, ia memiliki petunjuk yang jelas untuk mencapai tujuan tersbut. Ia yakin bahwa Jobdesc yang ia miliki pasti akan membawa dirinya mencapai apa yang ia cita-citakan.

Setiap individu mencita-citakan sesuatu yang ia sukai dan cintai. Oleh karena itulah, ketika ia menjalani proses untuk mencapai cita-cita tersebut ia tak kenal lelah, ia akan terus berjuang karena ia begitu menikmati apa yang ia lakukan. Apapun akan ia lakukan demi rasa cintanya. Maka bagi kita telah jelas bahwa tujuan kita adalah berjumpa dengan Allah, kekasih kita, Ia yang kita cintai melebihi diri kita bahkan semua yang cintai. Tiada cinta yang lebih tinggi kecuali kepadanya.

Katakanlah, “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah, “Taatilah Allah dan Rasul-Nya. Jika kalian berpaling maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (QS Ali Imran [3]: 31-32).

Al-Mahabbah (cinta) berarti kecenderungan jiwa pada sesuatu. Cinta itu muncul pada diri manusia karena ia meyakini kesempurnaan sesuatu yang dia cintai. Kesempurnaan hakiki hanya milik Allah Swt. dan semua kesempurnaan yang ada pada makhluk juga berasal dari Allah. Ketika seorang hamba meyakini hal ini, maka tiada rasa cinta pada dirinya kecuali kepada Allah dan karena Allah. Keyakinan itu akan menuntunnya untuk menaati-Nya dan senang melakukan apa saja yang dapat mendekatkan diri kepada-Nya. Karena itu, para ulama menafsirkan al-mahabbah li Allâh (cinta kepada Allah) sebagai kesediaan untuk menaati-Nya.

Ungkapan ayat ini bersifat umum mencakup siapa saja yang mengaku cinta kepada Allah. Siapa yang mengaku mencintai Allah harus membuktikannya dengan mengikuti Rasul-Nya, Muhammad saw. Tugas beliau adalah menyampaikan risalah-Nya kepada seluruh manusia. Melalui beliau, manusia dapat beribadah kepada Allah Swt. secara benar, membedakan yang haq dan yang batil, yang diridhai dan yang dimurkai Allah, yang diperintahkan dan yang dilarang-Nya. Semua yang beliau sampaikan adalah wahyu (QS an-Najm [53]: 4-5). Jadi, menaati Rasulullah saw. pada hakikatnya adalah menaati Allah Swt. (QS an-Nisa’ [4]: 80).

Sebagaimana setiap pecinta, yang pasti tidak akan pernah merasa berat, untuk melakukan apa saja kepada yang dicintainya. Maka begitulah sikap komitmen (menepati janji) akan muncul, tanpa ada beban. Tanpa ada paksaan. Karena ia berjalan di atas jalan yang penuh cinta (the way of love).

Think Global Act local

Impian, cita-cita, target-target dan perencanaan tidak akan menghasilkan apa-apa. Kita bisa berpikir apa saja, kita bisa membuat cita-cita yang tinggi namun ketika tidak ada tindakan untuk melakukannya, maka semua tinggal khayalan. Ingin masuk surganya Allah, tinggal khayalan. Karena tak pernah ada aksi untuk membuktikannya, mencintai Allah hanyalah sekedar ucapan, jika tidak dibuktikan dengan tindakan.

Berpikilah global bahwa kita hidup didunia yang luas, bukan hanya di Indonesia, apalagi hanya di Jogjakarta, terlebih bepikir hanya untuk diri sendiri. Ingatlah kita adalah bagian dari hamba Allah yang kebetulan hidup di yogyakarta dan kuliah di UII serta beraktifitas di FTI. Sesungguhnya kita adalah bagian dari kaum muslimin sedunia, yang bersaudara, dimana seharusnya penderitaan saudara-saudara kita diluar sana bisa kita rasakan. Jadi jangan egois, mari pikirkan umat secara global. Karena kita seharusnya menjadi bagian dalam perjuangan global menyatukan kaum muslimin bersama. Jangan jadi katak dalam tempurung.

Kita adalah satu mata rantai dari mata rantai perjuangan, lakukan aktifitas sebaik-baiknya di tempat kita tinggal, agar mata rantai yang menjadi tanggung jawab kita itu menjadi kuat. Sehingga menguatkan seluruh mata rantai yang lain. Jika kita berada disini, mari kita berjuang bersama, tetapkan komitmen dalam jiwa kita bahwa yang kita lakukan adalah perjuangan untuk Izzah (kemuliaan) Islam dan kaum muslimin. Karena hanya dengan itulah Allah akan meridhoi kita.

Khatimah

Dengan mengingat kembali janjinya kepada Allah, seorang muslim akan berjalan mantap dengan sikap hidup mengemban syariah Allah SWT. Dan dengan bekal tersebut, seorang muslim akan senantiasa dapat mensinergikan antara pernyataan penyerahan dirinya sebagai muslim di dalam sholat dengan perbuatannya di seluruh pentas kehidupan nyata. Dakwah yang kita lakukan akan terus berjalan pada jalurnya walaupun orang kafir sangat membencinya. Tak ada rasa takut terhadap berbagai cercaan dan siksaan. Yang ada adalah rasa percaya diri dan cinta yang kokoh serta luar biasa dalam menjalankan semua amanah Allah. Seorang muslim dan para pengemban dakwah akan selalu istiqomah dalam menjaga komitmennya kepada Allah. Semoga Allah mengokohkan hati-hati kita dalam keimanan dan perjuangan dakwah. Amin. Wallahu a’lam!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s