Peperangan Utama Kaum Muslim

Setiap persoalan, betapapun rumitnya, bisa disederhanakan atau paling tidak dapat ditelusuri asal muasal penyebab soal yang dianggap rumit tadi. Dari situ kita bisa menemukan solusi yang sebenarnya mungkin sangat sederhana.

Hal yang sama juga terjadi atas krisis Palestina sampai saat ini. Karena itu, sebelum menelaah solusi yang Islami terhadap persoalan ini, maka sebaiknya kita mengetahui fakta-fakta penting berhubungan dengan masalah Palestina ini.

Fakta pertama, upaya pendirian negara Israel dan perampasan tanah Palestina terkait erat dengan peruntuhan Negara Khilafah Utsmani. Dan itu dibuktikan di dalam sejarah. Institusi Yahudi berhasil mewujudkan cita-citanya -dengan mendirikan negara Zionis Israel- justru tidak lama setelah institusi Negara Khilafah Utsmaniyah runtuh.

Fakta kedua, perseteruan yang terjadi di Palestina, sebenarnya bukan perseteruan kaum Muslim dengan Yahudi. Sebab, posisi Yahudi tidak lebih sekedar membantu  (alat) kepentingan-kepentingan negara-negara besar; yaitu Inggris, yang telah membidani lahirnya Israel, kemudian beralih ke AS yang mengasuh dan membesarkannya. Pernyataan Ezer Weizman mencerminkan hal itu:

”Seandainya tidak ada Israel, maka tidak ada yang bisa membantu kepentingan-kepentingan Inggris.”

Tidak heran jika negara-negara besar seperti Inggris dan AS selalu mempertahankan kedudukan negara Israel, membantu dan memelihara ekstensinya. Di dalam surat-surat yang berlangsung antara Syarif Hussein bin Ali (Gubernur Makkah) dan Sir Henry McMahon (High Comissioner Inggris di Mesir), terungkap bahwa bangsa Arab dijanjikan oleh penjajah Inggris suatu wilayah –yaitu Hijaz dan Najd, yang sebelumnya berada dibawah naungan Khilafah Utsmani-, sedangkan terhadap bangsa Yahudi, Inggris menjanjikan wilyah Palestina –yang dituangkan dalam bentuk Deklarasi Balfour-. Ini menunjukkan komitmen Inggris yang amat kuat untuk selalu memecahbelah kaum Muslim yang tadinya satu dan berada dibawah satu naungan institusi politik, yaitu Negara Khilafah Islam, menjadi negara-negara kecil berasaskan kebangsaan (nation state) yang tentu saja secara politik jauh lebih lemah. Sekaligus juga menggambarkan motivasi Inggris yang hendak mencangkokkan kanker ganas di tubuh kaum Muslim; agar Inggris sewaktu-waktu bisa membuat kaum Muslim ”sakit” atau ”sehat” hanya dengan menggerakkan institusi Yahudi. Modus yang sama dilakukan oleh AS, yang berhasil menggeser posisi Inggris sebagai pihak yang dominan secara politik di kawasan Timur Tengah. AS akan menjaga eksistensi ”kanker ganas” tersebut sebagai instrumen pengendali ”iklim politik” di jantung wilayah kaum Muslim.

Realita tersebut harus kita pahami agar kita bisa mengerti bahwa perseteruan melawan Yahudi, dan membatasi diri hanya pada perseteruan melawan mereka, tidak akan banyak bermanafaat bagi kaum Muslim. Umat Islam harus memahami bagaimana menghadapi perseteruan ini, serta bagaimana melakukan perlawanan.

Peranan ”Aktor di Belakang Layar”

Umat Islam harus menyadari bahwa membatasi perlawanan hanya kepada Israel saja ibarat megobati gejala-gejala penyakit, bukan mengobati penyebab dari penyakit. Perlawanan harus diarahkan kepada pihak yang menopang berdirinya Israel. Lagi-lagi hal ini mengharuskan kita untuk mengetahui sebab munculnya krisis Palestina, dan negara-negara mana yang membuahi sel Zionis, termasuk yang membidani dan mengasuhnya.

Atas dasar ini, peralwanan kaum Muslim melawan negara-negara besar yang menjadi ”aktor intelektualnya” merupakan perkara yang mesti dilakukan, meskipun negara Israel sudah tidak berdiri lagi. Selain itu, perseteruan dengan Israel merupakan perseteruan yang telah dirancang cukup lama. Oleh karena itu, kita tidak boleh terkonsentrasi pada masalah ini saja. Sibuknya kaum Muslim melawan Israel, dan kelalaian kaum Muslim dengan penyebab krisis ini, memberikan arti kepada kita bahwa negara-negara besar akan terus mendukung institusi Israel di Palestina, serta berusaha untuk membuang energi umat Islam melalui perlawanan-perlawanan fisik yang tidak akan membuahkan hasil yang berarti. Sebab, perlawanan, perseteruan, dan energi umat ditujukan untuk memecahkan persoalan-persoalan yang bersifat cabang, bukan penyebab utamanya.

Pada akhirnya, umat, baik itu berbentuk negara, gerakan-gerakan, maupun partai-partai politik, disibukkan dengan upaya-upaya melawan Israel. Sebagian besar upaya mereka Ikhlas, akan tetapi tidak mendapatkan hasil yang memadai, sebab mereka melupakan perang yang sebenarnya.

Umat Islam saat ini bagaikan orang yang berusaha membunuh sekawanan serangga tanpa mengetahui keberadaan sarangnya. Ketika seekor serangga terbunuh, muncul serangga yang lain, akan tetapi sarang yang memproduksi serangga itu tetap terjaga. Serangga itu terus bertambah jumlahnya. Maka, jika seseorang tidak mengetahui sarang serangga tersebut, berarti serangga tersebut telah berhasil bukan hanya menyibukkan orang itu saja, akan tetapi berhasil memalingkan orang tersebut dari upayanya untuk menghancurkan sarang serangga tersebut.

Jika umat Islam tidak mengetahui perseteruan hakiki ini, dan tetap mencurahkan energinya pada perkara-perkara cabang, maka umat Islam terancam kebinasaan.

Untuk mengarahkan kaum Muslim terhadap perlawanan yang hakiki, umat Islam harus memahami bahwa mereka adalah umat yang memiliki risalah, yang harus diemban ke seluruh penjuru dunia. Caranya adalah dengan menerapkan sistem Islam dalam kehidupan secara menyeluruh dan menyatukan kembali negeri-negeri Islam. Kemudian, mengemban risalah Islam ke seluruh penjuru dunia. Kebangkitan umat Islam, berarti umat Islam harus kembali melakukan pertarungan di pentas internasional dengan arahan yang benar. Menjaga eksistensi umat Islam, berarti mempertahankan keberlangsungan hidup umat Islam, termasuk menuntaskan persoalan tanah yang dirampas di Palestina, dan negeri-negeri kaum Muslim lainnya.

Menengok dan Belajar dari Sejarah

Kasus Palestina bukanlah persoalan baru dan terjadi saat ini saja. Kasus semacam ini pernah terjadi di tanah Palestina. Ketika itu, kekuatan salib berhasil menguasai tanah Palestina. Namun, yang membedakan adalah sikap kaum Muslim saat itu dan sekarang, adalah bentuk perlawanannya. Di bawah pimpinan jenderal besar Shalahuddin al-Ayyubi, pasukan Muslim berhasil mengusir kembali kekuatan tentara salib, menghancurkan kekuatan mereka, membersihkan tanah yang diberkati dari kotoran orang-orang kafir, dan mengembalikan tanah Palestina ke tangan kaum Muslim. Sejak itu, tentara salib tidak pernah berhasil kembali menginjakkan kakinya di bumi Palestina, hingga akhir perang Dunia I, dimana pasukan Inggris yang dipimpin Lord Allenby, memasuki kawasan Palestina. Lalu dengan pongahnya, ia berteriak mengungkapkan dendam lamanya di depan gerbang al-Quds: ”Saat ini, perang salib telah berakhir”.

Menghadapi musuh-musuhnya yang menguasai kawasan Palestina, para penguasa Muslim terdahulu seperti Shalahuddin al-Ayyubi, Qalawun, Quthuz, dan Baybars terkadang melakukan perjanjian, tapi terkadang pula melakukan peperangan sampai mereka berhasil membebaskan tanah Palestina. Namun perjanjian-perjanjian yang mereka buat merupakan perjanjian yang seluruhnya didasarkan pada persyaratan Islam, dan ketentuan-ketentuan Islam. Misalnya saja, perjanjian Ramallah, yang disepakati oleh Shalahuddin al-Ayyubi dengan Richard The Lion Heart, yang berlaku selama tiga tahun. Keduanya tidak pernah membatalkan perjanjian tersebut. Hasilnya? Tidak lain justru terjadi pembebasan negeri Palestina secara menyeluruh.

Kondisi sebaliknya pernah terjadi di Andalusia, pihak gereja dan Perancis telah bersekongkol untuk melawan dan membantai kaum Muslim. Sementara kaum Muslim saling acuh satu dengan yang lain, sehingga orang-orang kafir berhasil menghancurkan institusi, kekuasaan, dan merampas tanah Islam di Andalus. Dan faktanya, para penguasa Muslim yang ada di sana melakukan kesepakatan damai dengan orang-orang Nasrani yang tidak pernah menaati perjanjian tersebut. Para penguasa itu tidak pernah memperhatikan apapun kecuali kepentingan-kepentingannya sendiri. Buktinya, setelah terjadi perjanjian Abu Abdullah Kecil yang bersedia menyerahkan kota Granada (benteng terakhir kaum Muslim di Andalusia) kepada penguasa Kristen, tanah Andalusia harus lepas dari tangan kaum Muslim hingga hari ini. Hal yang sama diikuti oleh mendiang Raja Hussein dari Yordania, yang menyerahkan al-Quds dan Tepi barat begitu saja kepada Zionis Israel.

Dua peristiwa sejarah ini sengaja kami paparkan kepada Anda. Kita memperoleh pelajaran dan pemecahan yang berharga dari peristiwa Perang Salib dan pengusiran kaum Muslim dari Andalusia. Tinggal kita pilih, apakah kita inggin meraih kedudukan tinggi sebagaimana yang telah diraih oleh Shalahuddin al-Ayyubi, Qalawun, dan Quthuz. Atau kita inggin meraih kehinaan, kenistaan, dan bencana sebagaimana yang telah ditimpakan para penguasa Arab Muslim saat ini.

Solusi Islam; Satu-satunya Solusi Yang Tepat

Pemecahan yang Islami adalah merebut kembali tanah-tanah Islam serta melenyapkan kekuatan negara-negara perampok. Bukan sekedar mengembalikan penduduk (yang terusir) ke negeri tersebut, akan tetapi harus mengembalikan negeri tersebut kepada penduduknya. Ini adalah dua pemecahan yang sangat berbeda. Mengembalikan penduduk (terusir) ke negeri asalnya, sama artinya rela dengan penyerahan tanah tersebut, dan umat Islam di sana akan hidup dibawah kekuasaan para perampok tanah. Adapun mengembalikan tanah tersebut kepada pemiliknya, artinya, membebaskan tanah tersebut dari para perampok. Dan secara syar’i, inilah yang wajib dilakukan.

Semua aspek di atas menunjukkan bahwa kita mesti menempatkan permusuhan melawan Yahudi dengan proporsi yang benar. Permusuhan ini bukan sekedar permusuhan demi sejengkal tanah, akan tetapi permusuhan antar peradaban. Tujuan mereka adalah untuk menghancurkan peradaban Islam, umat Islam, dan mencegah agar umat Islam bangkit kembali. Selain itu, juga untuk mempertahankan hegemoni Barat yang telah diraihnya setelah menempuh waktu yang cukup panjang. Untuk itu mereka tidak akan merasa lelah, asalkan seluruh negara-negara yang ada di dunia –khususnya kaum Muslim- tunduk terhadap hegemoni mereka.

”Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup.” (al-Baqarah 217)

Jika kita menyadari kenyataan sejarah, apakah penandatangan perjanjian dan kesepakatan damai dengan Israel sesuai dengan kerangka pergolakan di atas? Demi Allah, tidak! Khususnya jika Israel dan negara-negara Barat hendak menjadikan perjanjian damai ini sebagai langkah antara, bukan sebagai langkah penyelesaian akhir. Sadarilah Yahudi dan negara-negara Barat imperialis tidak akan menyetujui gencatan senjata, kecuali jika mereka sudah tidak mungkin meraih tujuan-tujuan mereka melalui peperangan. Namun, ketika perlawanan berhenti, dan mereka telah memiliki kekuatan baru, secara otomatis mereka akan menghancurkan umat Islam.

Di sisi lain, umat Islam tidak akan pernah menyetujui eksistensi Israel. Terlebih lagi, umat Islam tidak akan pernah menghentikan perlwanan terhadap Israel. Perjanjian damai dengan Israel tidak akan pernah bisa menyelesaikan persoalan Palestina, dan tidak akan pernah memberikan kebahagiaan serta keuntungan bagi umat Islam dan penduduk Palestina.

Pihak yang mampu menghentikan perang melawan Zionisme dan Yahudi adalah umat Islam sendiri. Perang tidak akan pernah berhenti, meskipun Zionisme didukung oleh pasukan yang besar. Sebaliknya, begitu umat Islam tampil, maka peperangan akan segera berakhir. Siklus ini tidak akan pernah berubah. Hanya kaum Muslim sajalah pihak yang memiliki kekuatan untuk menghentikan peperangan ini.

Perlu diketahui, bahwa hukum syara’ untuk masalah palestina adalah satu. Hukum ini tidak boleh dijadikan sebagai lahan perdebatan, apalagi ia merupakan solusi satu-satunya untuk persoalan palestina. Adapun pendapat-pendapat yang dikeluarkan oleh individu-individu kaum Muslim, atau kelompok-kelompok Islam, selama pendapat itu berdasarkan asas Islam, maka pemecahannya pasti menjadi pemecahan tunggal yang Islami pula. Namun, jika pemecahan yang ditawarkan tidak berlandaskan asas Islam, maka pemecahan itu tidak akan menjadi pemecahan yang Islami, meskipun dilontarkan oleh kaum Muslim atau kelompok Islam.

Sebuah solusi, hingga bisa disebut solusi yang Islami, tidak sekedar dikeluarkan oleh seorang Muslim, akan tetapi harus di-istinbath-kan (digali) dari pokok-pokok pemikiran Islam. Persoalan Palestina bukanlah masalah khilafiyah, atau ijtihadiyah. Sebaliknya, nash mengenai persoalan ini sangat jelas dan tidak perlu diperdebatkan lagi. (lihat tulisan kami sebelumnya: ”HANYA SATU SERUAN UNTUK BANGSA KERA ISRAEL: JIHAD!!!)

Kesimpulan

Pertama, berjihad melawan Israel adalah suatu kewajiban bagi kaum Muslim di Gaza saat ini, dan menjadi kewajiban (fadhu kifayah) juga bagi kaum Muslim yang dekat dengannya (negara-negara Arab), terus meluas kewajiban tersebut sampai kepada kaum Muslim yang lain diberbagai negara, sampai kewajiban itu dapat tertuntaskan sempurna.

Kedua, kaum Muslim tidak boleh lupa atau terpalingkan dengan perjuangan dan peperangan utama mereka yaitu peperangan terhadap institusi utama yang menanamkan ”kanker ganas” tersebut, karena institusi itulah yang menjadi akar masalah terjadinya berbagai krisis yang terjadi di dunia Islam.

Perjuangan kita yang utama adalah mengembalikan institusi yang mampu untuk melawan hegemoni institusi negara-negara kafir (AS dan inggris beserta sekutunya), membebaskan negeri-negeri muslim dari penjajahan mereka dan mengganti para pemimpin yang berkhianat terhadap kaum Muslim dengan pemimpin yang amanah serta mengembalikan kehidupan Islam ditengah-tengah kehidupan dunia. Dan satu-satunya institusi yang mampu melakukan semua itu hanyalah konsep pemerintahan Khilafah Islamiyah bukan sistem negara bangsa (nasionalisme).

Wallahu’alam bi ash-showab

Yogyakarta, 11 Januari 2008

Al Faqir illa Allah

Fauzan al-Banjari

2 thoughts on “Peperangan Utama Kaum Muslim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s