Hidayah dan Dholalah

Fauzan Al Banjari

Disampaikan Pada Kajian Sore dan Buka Puasa Bersama di Masjid Al-Azhar Fak. Hukum UII

Ramadhan 1429 H

Di bulan Ramadhan lokalisasi cuti. Para WTS berjanji tidak akan mengganggu kesucian bulan Ramadhan dan akan ikut juga untuk melaksanakan aktivitas ibadah puasa. Sebagian dari mereka ada yang bilang kalau sama sekali tidak ’bekerja’, mereka mau makan apa? Oleh karena itu mereka semangat untuk tetap bekerja, tapi setelah sholat tarawih saja dan akan tutup sebelum sahur. Mereka akan ikut sholat tarawih, ikut puasa dan hasil ’bekerja’nya akan disisihkan untuk infak dan zakat… MasyaAllah…

Sang WTS suatu hari berkata, ”saya sering ingin berhenti dari ’pekerjaan’ saya tapi saya belum dapat hidayah…”

Ada dosen IAIN dari barat begitu banyak hafal ayat-ayat qur’an dan juga hafal begitu banyak hadits.. tapi why tidak masuk Islam?

Banyak di negara barat sekolah-sekolah S2 dan S3 yang mengajarkan Islam dengan dosen-dosen yang tidak beragama Islam… Mengapa?

Sang dosen ilmu tafsir dari barat katanya kadang ingin memeluk Islam juga, tapi hidayah belum juga menghampiri…

Ah… kasihan mereka belum mendapat hidayah dari Allah…

Sebagian dari kitapun seperti membenarkan bahwa wajar jika mereka seperti itu karena mereka belum mendapat hidayah?

Apakah Allah begitu rupa terhadap manusia? Menunjuki siapa yang hendak Allah tunjuki? Dan menyesatkan siapa yang hendak Allah sesatkan?

Oleh karenanya sangat penting bagi kita untuk memahami tentang hidayah dan dholalah ini dari sudut pandang yang benar. Dengan metode berpikir tasyri’i. Yaitu dengan melihat berbagai dalil-dalil di dalam Al-Qur’an tentang hidayah (petunjuk) dan dholalah (kesesatan).

Tentang Hidayah dan Dholalah ini terdapat berbagai macam pendapat;

Pertama. Ada yang mengatakan bahwa hidayah dan dholalah adalah hak mutlak Allah SWT untuk memberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Diantara dalil yang mereka gunakan adalah :

Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, Maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan Allah, Maka merekalah orang-orang yang merugi. (Al-‘Araf [7]: 178).

Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. (Al-Baqarah [2]: 272)

Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. (Al-An’am [6]: 125)

Kedua, pendapat yang mengatakan bahwa hidayah dan kesesatan adalah berasal dari diri manusia sendiri. Sehingga pendapat ini bertolak belakang dengan pendapat pertama. Mereka juga mengemukakan dalil yang seolah-olah menjadi bertengtangan dengan dalil-dalil yang digunakan oleh pendapat pertama;

Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh Maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, Maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya. (Al-Fushilat [41]: 46)

Katakanlah: “Jika Aku sesat Maka Sesungguhnya Aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri; dan jika Aku mendapat petunjuk Maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya dia Maha mendengar lagi Maha Dekat”. (As-Saba’ [34]:50)

Orang-orang kafir berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) tanda (mukjizat) dari Tuhannya?” Katakanlah: “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada-Nya”, (Ar Ra’du [13]: 27)

Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), Maka Sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat Maka Sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan kami tidak akan meng’azab sebelum kami mengutus seorang rasul. (Al-Israa [17]: 15)

Segolongan dari ahli Kitab ingin menyesatkan kamu, padahal mereka (sebenarnya) tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak menyadarinya. (Ali Imran [3]: 69)

Ketiga, pendapat yang mengatakan bahwa syaithanlah yang menyesatkan manusia, mereka berhujjah dengan dalil;

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya Telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka Telah diperintah mengingkari thaghut itu. dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. (An Nisa’ [4]: 60)

Dengan berbagai pendapat tersebut, lalu bagaimana pemahaman yang benar tentang hidayah dan dholalah ini?

Pemahaman yang benar adalah pemahaman yang menyeluruh terkait dengan dalil-dalil syara’.

Pertama, Ilmu Allah meliputi segala sesuatu.

Allah tahu segalanya, siapa yang mendapat petunjuk siapa yang sesat baik yang terdahulu, sekarang maupun yang akan datang. Allah Maha Mengetahui setiap perbuatan hamba sebelum pekerjaan tersebut dilakukan. Allah mengetahui rizki, ajal, jodoh, dan lain sebagainya semuanya. Karena Allah memang Maha Tahu atas segalanya.

Tidak ada tersembunyi daripada-Nya sebesar zarrahpun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”. (Saba’ [34]:3)

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (Tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan Telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Al Hadid [57]: 22)

Kedua, Allah Maha Adil sehingga mustahil Zalim.

Jika Allahlah yang telah menetapkan seseorang mendapat petunjuk (hidayah) dan yang lain sesat (dholal), kemudian Allah membalas mereka yang mendapat petunjuk dengan pahala (surga) dari-Nya dan menghukum yang sesat dengan azab (neraka) maka niscaya jika demikian Allah menjadi Zalim terhadap makhluk-Nya. Subhannallah (Maha Suci Allah) dari sifat yang demikian. Allah tidak mungkin zhalim terhadap makhluk-makhluk-Nya. Dan yang demikian bertentangan dengan firman Allah:

Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh Maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, Maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya. (Al-Fushilat [41]: 46)

Ketiga, Allah adalah Maha Pemberi Hidayah

Dan Allah memiliki tiga jenis hidayah yang kesemuanya diberikan kepada manusia:

  1. Hidayah Kholqiyyah (penciptaan) kecenderungan menilai baik buruk, kemudian Allah memberikan sarananya kepada manusia melalui:
  1. Akal

Akal mampu menilai dan membedakan antara yang baik atau buruk. Karena manusia disempurnakan dari makhluk yang lain adalah dengan akalnya:

”Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (Asy-Syaam [91]: 7-8)

“Dan kami Telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan jalan kejahatan)” (Al Balad [90]: 10)

  1. Naluri

Allah juga menciptakan naluri kepada manusia. Dengan naluri inilah manusia misalnya seorang Ibu menyusui dan menyayangi anaknya, laki-laki menyukai wanita dan sebaliknya, manusia menginginkan untuk dihargai dan dihormati.

  1. Pujian/Celaan Masyarakat

Pujian dan celaan masyarakat merupakan hasil dari kecenderungannya terhadap potensi yang Allah berikan kepada manusia. Apakah ia cenderung menggunakan nalurinya atau akalnya. Sehingga ditengah-tengah masyarakat kita sering menemui contoh-contog pujian dan celaan berikut: Pulang malam untuk wanita adalah jelek, makan dengan tangan kiri tidak baik. Sopan-santun di tengah masyarakat adalah baik. Lemah lembut adalah kebaikan. Kekerasan adalah keburukan. Dan lain sebagainya.

  1. Hidayah Irsyad Wal Bayan (Tuntunan dan Penjelasan)

Dalam persoalan yang pertama, jika manusia dibiarkan saja menggunakan kecenderungannya masing-masing dalam menilai baik dan buruk, terpuji dan tercela maka sesungguhnya persoalan tersebut tidak akan pernah selesai. Masing-masing akan memiliki argumen sendiri-sendiri tergantung waktu, tempat dan kondisi mereka saat itu. Oleh karenanya dibutuhkan standar (maqayis) sebagai petunjuk yang jelas untuk memutuskan perkara tersebut.

Oleh karena itulah Allah menutus nabinya dengan membawa petunjuk (Al-qur’an dan As-Sunnah) untuk menjelaskan kepada manusia semuanya.

“Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), Maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi Keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.” (Al Baqarah [2] : 213)

”(yaitu) orang-orang yang mendustakan Al Kitab (Al Quran) dan wahyu yang dibawa oleh rasul-rasul kami yang Telah kami utus. kelak mereka akan mengetahui.” (Al-Mu’min [40]: 70)

“Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), Maka Sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat Maka Sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan kami tidak akan meng’azab sebelum kami mengutus seorang rasul.” (Al-Israa’ [17]: 15)

Hidayah yang kedua ini bagi manusia harus dicari, dipelajari dan diamalkan. Ia tidak akan datang dengan sendirinya kedalam lubuk hati manusia.

  1. Hidayah Taufiqiyyah (Hidayah yang langsung dari Allah)

Hidayah ini bersifat spesial dan langsung diberikan oleh Allah. Dan Allah juga dapat mencabutnya dholalah.

Hanya saja hidayah jenis yang ketiga ini tidak diberikan cuma-cuma oleh Allah, ada syarat sehingga turunnya hidayah ini pada diri manusia.

Pertama, hidayah ini diberikan kepada orang-orang yang mempunyai kecenderungan kuat terhadap kebenaran (petunjuk) dan mau untuk menerimannya

Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketaqwaannya. (Muhammad [47]: 17)

Kedua, kepada orang-orang yang bersungguh-sungguh dan mencintai perbuatan-perbuatan baik

”Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al Ankabut (29): 69)

Ketiga, kepada orang-orang yang tidak memperturutkan/melawan hawa nafsunya.

”Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka Karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai- sungai di dalam syurga yang penuh kenikmatan.” (Yunus [10]: 9)

Terakhir kami sampaikan tentang sebab-sebab dicabutnya Hidayah Taufiqiyyah/sebab-sebab datangnya Dholalah:

  1. Sombong

“Dan (Ingatlah) ketika Musa Berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, Mengapa kamu menyakitiku, sedangkan kamu mengetahui bahwa Sesungguhnya Aku adalah utusan Allah kepadamu?” Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.“ (Ash Shaf [61]: 5)

“Dia Telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata.” (An Nahl [16]: 4)

  1. Zalim

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka Telah dibinasakan. dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih.“

“Kamu lihat orang-orang yang zalim sangat ketakutan Karena kejahatan- kejahatan yang Telah mereka kerjakan, sedang siksaan menimpa mereka. dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal saleh (berada) di dalam taman-taman surga, mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhan mereka. yang demikian itu adalah karunia yang besar.“ (Asy Syura [42]: 21-22)

  1. Fasiq

“Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampunan kepada mereka. yang demikian itu adalah Karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.“ (at Taubah [9]: 80)

“Dan (Ingatlah) ketika Musa Berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, Mengapa kamu menyakitiku, sedangkan kamu mengetahui bahwa Sesungguhnya Aku adalah utusan Allah kepadamu?” Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka[1473]; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.“ (Ash Shaf [61]: 5)

  1. Lebih Cinta Dunia

“Yang demikian itu disebabkan Karena Sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.” (an Nahl [16] : 107)

  1. Kufur (Ingkar)
  2. Berlebihan
  3. Tidak berusaha mencari hidayah
  4. Sesat

“Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka dapat petunjuk, Maka Sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya, dan sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong.” (An Nahl [16]: 37)

  1. Dusta (bohong)

Naluri dan hajat ’udwiyyah (kebutuhan fisik) adalah netral sifatnya karena identik dengan qadlo Allah, jika sesuai dengan hidayah Irsyad wal bayan maka harus didorong sedangkan jika tidak maka harus ditahan.

Dengan penjelasan tentang jenis-jenis hidayah di atas, maka kita bisa memahami mengapa seseorang bisa mendapatkan hidayah dari Allah SWT dan mengapa seseorang tidak memperoleh hidayah dari Allah SWT.

Oke, ternyata hidayah itu memang tidak bisa datang dengan sendirinya. Hidayah harus diusahakan oleh manusia itu sendiri. Jika manusia telah berusaha mencari hidayah Allah sampai pada kondisi yang Allah inginkan sesuai syarat-syarat diatas maka Allah akan membantu manusia tersebut untuk memperoleh hidayah-Nya. Tapi Allah juga mencabut hidayah pada diri seseorang jika kemudian orang itu berpaling (ingkar) dan menjadi sombong (meremehkan orang lain dan menolak kebenaran).

Hadanallahu wa iyyakum ajma’in. Wa billahi taufqiqul hidayah.

Wallahu’alam bi ash showab.

One thought on “Hidayah dan Dholalah

  1. Ping-balik: Hidayah, Bagaimana Meraihnya? | Jurnal Darussalam Perumnas Unib

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s