Haramkah Peyeum?

Assalamu’alaikum wr.wb

Ust. Bagaimana hukum makan peyeum (tape singkong)? Saya dan teman-teman di kos berbeda pendapat tentang kebolehan makan tape. Ada yang bilang boleh ada yang bilang tidak boleh karena mengandung alkohol. Untuk memastikan karena kami tidak ingin makan sesuatu yang haram, mohon penjelasan ust. ? Jazakallah.

11 Ramadhan 1429H

Bambang

Yogyakarta

Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabaraktuh

Sesungguhnya hukum asal semua benda adalah halal kecuali jika ada nash yang mengharamkannya. Allah SWT berfirman, “Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semunya, sebagai rahmat daripadaNya”. (TQS. Al Jaatsiyah [45]:13). Allah juga berfirman,”Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezkiNya”. (TQS Al Mulk [67]:15). Allah SWT telah membolehkan bagi manusia segala sesuatu yang tercakup dalam keumuman penunjukkan (dalalah) nash-nash ini, dan dikecualikan pada benda yang telah diharamkan. berdasarkan hal inilah para ‘ulama membuat kaidah “Al-ashlu fi al-asy-yaa` al-ibaahah maa lam yarid dalil al-tahriim” (Hukum asal benda adalah mubah selama tidak ada dalil yang mengharamkan).

Singkong adalah benda yang halal dimakan. Karena tidak ada dalil yang mengharamkannya. Namun, tape singkong (peyeum. Bhs sunda) adalah fakta yang berbeda. Oleh karena itu perlu dipahami fakta tentang khamer dan peyeum ini terlebih dahulu.

Fakta Khamer Di Masa Rasulullah Dan Shahabat

Beberapa riwayat berikut ini bisa menunjukkan apa khamer itu, sekaligus cara pembuatannya, serta bahan-bahan yang bisa digunakan untuk membuat khamer di masa Rasulullah Saw, hingga turun ayat yang melarang kaum muslimin meminum khamer.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Umar bin Khaththab pernah berpidato sebagai berikut; “Amma ba’du.  Wahai manusia! Sesungguhnya telah diturunkan hukum yang mengharamkan khamer.  Ia terbuat dari salah satu dari lima unsur; anggur, korma, madu, jagung, dan gandum.  Khamer adalah sesuatu yang mengacaukan akal.”

Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir, bahwa ada seorang laki-laki dari negeri Yaman bertanya kepada Rasulullah Saw tentang sejenis minuman yang biasa diminum orang-orang di Yaman.  Minuman tersebut terbuat dari jagung yang dinamakan ‘mazr’. Rasulullah Saw bertanya kepada laki-laki tersebut, “Adakah ia memabukkan?” Orang itu menjawab, “Ya.” Kemudian Rasulullah Saw bersabda, artinya, “Setiap yang memabukkan adalah haram.  Allah berjanji kepada orang-orang yang meminum minuman yang memabukkan, bahwa Dia akan memberi mereka minuman dari thinah al-khabal.” Ia bertanya, “Apa itu thinah al-khabal, ya Rasulullah!” Rasulullah Saw menjawab, “Keringat ahli-ahli neraka atau perasan tubuh ahli neraka.

Dalam al-Sunan terdapat hadits yang diriwayatkan dari Nu’man bin Basyir, bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya dari anggur itu bisa dibuat khamer, dan dari kurma itu bisa dibuat khamer, dari madu itu bisa dibuat khamer, dari gandum itu bisa dibikin khamer dan dari biji syair itupun bisa dibuat khamer.

Imam Ahmad, Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu musa al-Asy’ariy bahwa ia berkata, “Saya mengusulkan kepada Rasulullah Saw agar beliau memberikan fatwanya tentang kedua jenis minuman yang dibuat di Yaman, yaitu al-bit’i dan al-murir. Yang pertama dibuat dari madu yang kemudian dimasak dengan dicampur unsur lain. Yang kedua terbuat dari gandum dan biji-bijian yang telah dicampuri dan dimasak. Wahyu yang turun kepada Rasulullah Saw ketika itu belum lengkap dan sempurna. Kemudian Rasulullah Saw bersabda, artinya, ‘Setiap yang memabukkan adalah haram.’”

Diriwayatkan dari Ali, bahwa Rasulullah Saw telah melarang mereka minum perahan biji gancum (bir). [HR. Abu Daud dan an-Nasa’i]

Para ‘ulama dahulu berbeda pendapat dalam menetapkan apa khamer itu. Ulama-ulama seperti Ibrahim al-Nakhai, Sofyan Tsauri, Ibnu Abi Laila, Syuraik, Ibnu Syibrina, semua ‘ulama Kufah, sebagian besar ulama Bashrah dan Abu Hanifah menyatakan bahwa khamer yang dibuat dari perahan anggur adalah haram hukumnya, baik sedikit maupun banyak. Adapun yang terbuat dari bahan selain anggur, maka yang diharamkan hanyalah yang banyak saja. Minum sedikit tidak mengapa selama tidak menyebabkan mabuk. [lihat Sayyid Sabbiq, Fiqh Sunnah, lihat pada bab Hudud]. Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayat al-Mujtahid, mengumpulkan perbedaan pendapat para ‘ulama tentang khamer sebagai berikut; Pertama, jumhur ‘ulama fiqh dan jumhur ‘ulama hadits menyatakan bahwa bir itu haram, baik sedikit maupun banyaknya, karena ia memabukkan.  Kedua, jumhur ‘ulama Irak, Ibrahim al-Nakha’i dan kalangan tabi’in, Sofyan al-Tsauri, Ibnu Abu Lila, Syuraik, Ibnu Syibirimah, Abu Hanifah dan seluruh fuqaha Kufah dan kebanyakan ‘ulama Basrah berpendapat bahwa yang diharamkan dari semua minuman yang memabukkan itu adalah mabuknya sendiri, bukannya benda yang diminum itu.

Pandangan-pandangan para ulama tentang substansi khamer masih perlu dikritisi, mengingat penelitian yang jernih dan mendalam terhadap substansi khamer di masa mereka belumlah secanggih di masa modern. Selain itu, kajian komprehensif terhadap dalil-dalil yang berkaitan dengan khamer akan menunjukkan mana pendapat yang lebih tepat mengenai substansi khamer.

Beberapa riwayat menyatakan bahwa khamer yang dilarang oleh Rasulullah Saw bisa terbuat dari anggur, korma, madu, jagung, syair, gandum dan lain-lain. Sebenarnya, benda-benda semacam ini bukanlah benda-benda haram. Allah SWT berfirman, artinya, “Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rezki yang baik.” (Qs. al-Nahl [16]: 67). Kemubahan benda-benda semacam ini juga berdasarkan keumuman nash-nash al-Qur’an yang membolehkan manusia menikmati apa saja yang ada di muka bumi ini, kecuali benda-benda yang diharamkan untuk dikonsumsi. Sehingga lahir kaedah ushul fiqh yang telah kami sebutkan sebelumnya, “Asal segala sesuatu adalah mubah, selama tidak ada dalil yang mengharamkannya.”

Berdasarkan penjelasan di atas, kita bisa menetapkan, bahwa secara substantif, korma, jagung, syair, gandum, dan lain-lain, bukanlah benda yang diharamkan Allah SWT dan Rasul-Nya. Ini juga berlaku bagi benda-benda lain. Benda apapun yang ada di muka bumi ini hukum asalnya mubah, selama tidak ada dalil yang mengharamkannya.

Akan tetapi ketika benda-benda yang mubah ini (jagung, korma, jagung, dan lain-lain) diproses dengan proses tertentu, ia menghasilkan ‘benda lain yang memabukkan’ (khamer). Kemudian, Allah mengharamkan ‘benda lain yang memabukkan ini (khamer)’, namun tetap tidak mengharamkan bahan bakunya (jagung, korma, jagung, dan lain-lain). Oleh karena itu, penyelidikan terhadap apa khamer itu (substansinya), harus diarahkan kepada ‘benda lain yang muncul setelah ada proses tertentu ini’, bukan diarahkan kepada bahan bakunya. Sebab, bahan-bahan baku untuk membuat khamer, jelas-jelas berhukum mubah. Kita mesti menyelidiki ‘substansi benda lain (khamer)’ yang dihasilkan melalui proses-proses tertentu ini, bukan pada bahan bakunya, atau sekedar akibat yang diakibatkan ketika minum ‘benda lain ini’ (mabuk).

Berdasarkan riwayat-riwayat yang ada kita bisa memahami bahwa proses pembuatan khamer bisa dengan cara diperas, atau dicampur dengan unsur-unsur lain. Imam Abu Daud dan lain-lain meriwayatkann sebuah riwayat dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Rasulullah Saw bersabda artinya, “Sesungguhnya orang yang memeras anggur pada hari-hari memetiknya kemudian menjualnya kepada orang yang akan menjadikan (perasan tersebut) sebagai khamer, sesungguhnya ia telah menceburkan dirinya ke dalam neraka.” Imam Ahmad, Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu musa al-Asy’ariy bahwa ia berkata, “Saya mengusulkan kepada Rasulullah Saw agar beliau memberikan fatwanya tentang kedua jenis minuman yang dibuat di Yaman, yaitu al-bit’i dan al-murir.  Yang pertama dibuat dari madu yang kemudian dimasak dengan dicampur unsur lain. Yang kedua terbuat dari gandum dan biji-bijian yang telah dicampuri dan dimasak. Wahyu yang turun kepada Rasulullah Saw ketika itu belum lengkap dan sempurna. Kemudian Rasulullah Saw bersabda, artinya, ‘Setiap yang memabukkan adalah haram.

Berdasarkan riwayat ini kita bisa menetapkan bahwa pada masa Rasulullah Saw dan shahabat pembuatan khamer dilakukan dengan cara memeras bahan-bahan baku tertentu, seperti korma, jagung, gandum, dan lain-lain. Atau dengan cara mengolah dan mencampur bahan-bahan baku tertentu dengan unsur-unsur lain (fermentasi). Proses-proses semacam inilah yang mereka lakukan untuk mendapatkan  khamer. Ini dari sisi bahan dan proses pembuatan khamer di masa Rasulullah Saw.

Khamer adalah Etanol

Etanol (disebut juga etil-alkohol atau alkohol saja), adalah alkohol yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Karena sifatnya yang tidak beracun bahan ini banyak dipakai sebagai pelarut dalam dunia farmasi dan industri makanan dan minuman. Etanol tidak berwarna dan tidak berasa tapi memilki bau yang khas. Bahan ini dapat memabukkan jika diminum. Etanol sering ditulis dengan rumus EtOH. Rumus molekul etanol adalah C2H5OH atau rumus empiris C2H6O (http://id.wikipedia.org/wiki/Etanol).

Penelitian modern menunjukkan, khamer tidak lain adalah etanol. Zat inilah yang menimbulkan mabuk bagi orang yang meminumnya. Mengapa etanol bisa disimpulkan sebagai khamer? Ini didasarkan pada penelitian di laboratorium modern terhadap  bahan baku dan proses pembuatan khamer di masa Rasulullah Saw dan shahabat. Bahan baku yang diteliti adalah anggur, misalnya. Mengapa anggur, sebab ia merupakan salah satu bahan baku yang digunakan di masa Rasulullah Saw untuk membuat khamer. Prosesnya dilakukan dengan cara fermentasi (pemerasan kemudian dicampur dengan bahan lain = fermentasi). Sebab, proses ini juga pernah dilakukan di masa Rasulullah Saw dan shahabatnya. Kemudian bahan baku tersebut diproses dengan proses fermentasi. Setelah menghasilkan ‘khamer’, selanjutnya diteliti substansi khamer tersebut, apa kandungannya, serta unsur-unsur pembentuknya.

Penelitian modern menunjukkan bahwa proses fermentasi anggur akan menghasilkan etanol.  Prosesnya adalah sebagai berikut:

  1. Reaksinya adalah sebagai berikut;

C6H12O6 CH3CH2OH (C2H5OH)

(glukosa)                       (etanol)

Sumber karbohidrat untuk proses peragian sehingga menghasilkan etanol bisa diperoleh dari jagung, ketela, kentang, beras, biji-bijian yang kaya karbohidrat, maupun buah-buahan (korma, anggur, berri hitam, dan lain-lain).

Peragian buah-buahan, sayuran atau biji-bijian berhenti bila kadar alkohol telah mencapai 14-16%. Jika diinginkan kadar yang lebih tinggi, campuran itu harus disuling. (Fessenden & Fessenden, Kimia Organik, ed. III, hal. 267).

Reaksi dalam fermentasi berbeda-beda tergantung pada jenis gula yang digunakan dan produk yang dihasilkan. Secara singkat, glukosa (C6H12O6) yang merupakan gula paling sederhana , melalui fermentasi akan menghasilkan etanol (C2H5OH). Reaksi fermentasi ini dilakukan oleh ragi, dan digunakan pada produksi makanan.

Persamaan Reaksi Kimia

C6H12O6 → 2C2H5OH + 2CO2 + 2 ATP (Energi yang dilepaskan:118 kJ per mol)

Dijabarkan sebagai

Gula (glukosa, fruktosa, atau sukrosa) → Alkohol (etanol) + Karbon dioksida + Energi (ATP) (http://id.wikipedia.org/wiki/Fermentasi)

Dari reaksi di atas kita bisa memahami, bahwa substansi benda yang disebut khamer adalah etanol, bukan yang lain. Adapun metanol, ia tidak termasuk dari khamer, sebab metanol sangat berbahaya untuk diminum. Oleh karena itu, keharaman minum metanol, masuk dalam pembahasan hukum dlarar (hukum tentang bahaya).

Untuk memproduksi khamer tidak hanya dibatasi oleh bahan-bahan baku yang telah disebutkan di dalam hadits, akan tetapi ia meliputi semua bahan baku yang bisa difermentasi sehingga menghasilkan etanol.

Fakta ilmiah menunjukkan bahwa etanol sering dikonsumsi dan digunakan untuk membuat minuman-minuman keras yang sangat memabukkan. Berdasarkan hadits Abu ‘Aun al-Tsaqafiy dari ‘Abdullah bin Syaddad dan Ibnu ‘Abbas bahwa Nabi Saw bersabda, “Khamer itu diharamkan karena bendanya itu sendiri, sedangkan (diharamkan) mabuknya itu adalah karena hal lain.” , kita bisa menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan substansi khamer  adalah etanol, bukan benda yang lain.

Fakta Tape (Peuyeum)

Tape adalah ketela yang telah mengalami proses fermentasi (peragian). Dalam proses peragian ketela akan terjadi proses pengubahan karbohidrat menjadi glukosa, sekaligus pengubahan glokasa menjadi etanol. Berdasarkan penelitian ilmiah menunjukkan bahwa tape yang telah terfermentasi (secara sempurna atau tidak sempurna) mengandung glukosa dan etanol.

Reaksi utuhnya adalah sebagai berikut:

Karbohidrat ——–> peragian atau hidrolisis —–> glokusa————> peragian——-> etanol

Tape beda ngga sama peuyum?

Peuyeum adalah makanan yang berasal dari Jawa Barat (daerah Sunda) dan dibuat dari singkong yang difermentasi. Makanan ini mirip dengan tape yang berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Perbedaan utamanya ialah bahwa peuyeum kering dan tape sedikit agak basah. Sebab pada pembuatan dan penyimpanannya peuyeum digantung sedangkan tape ditumpuk.

Hukum Mengkonsumsi (makan) Tape

Hukum khamer telah jelas keharamannya. Fakta sebenarnya tentang khamer adalah etanol. Dan pengharaman khamer ini bukan karena ia memabukkan sehingga kalau kemudian bisa ditemukan suatu zat yang dapat menghilangkan siafat memabukkannya maka akan menjadi halal. Atau jika dikonsumsi sedikit dan tidak memabukkan maka boleh. Itu semua tidaklah benar. Karena dalam hal makanan dan minuman tidak ada illat hukumnya. Illat hukum adalah apa yang membangkitkan hukum. Dalam hal khamer ini biasanya yang dijadikan illat adalah sifat memabukkannya.

Allah SWT berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamer, berjudi, (berkorban untuk) berhala, dan mengundi dengan anak panah itu adalah perbuatan najis termasuk perbuatan syetan, maka jauhilah agar kamu mendapatkan keberuntungan.” (Qs. al-Maa’idah [5]: 90).

Dalam ayat ini, kita diperintah untuk menjauhi khamer. Perintah tersebut sama sekali tidak dapat dipahami dan dijumpai adanya illat di dalamnya. Berarti, diharamkannya khamer karena ia adalah khamer. Kesimpulan ini lebih dipertegas oleh penjelasan Nabi Saw yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa beliau bersabda:

Diharamkannya khamer karena bendanya, banyak maupun sedikit. Juga (diharamkan) yang memabukkan dari setiap minuman.” [HR. An-Nasa’i dengan sanad hasan, Sunan An Nasa’i VIII hal 320 dan 321].

Ibnu Umar juga meriwayatkan, ketika surat an-Nisaa’ [4]: 43 (larangan mabuk pada waktu shalat) diturunkan, dikatakan oleh Rasulullah Saw:

Diharamkan khamer karena zatnya.” [HR. Abu Daud].

Dua hadits ini menunjukkan secara jelas bahwa khamer itu diharamkan karena zatnya itu sendiri, bukan karena ada illat tertentu.

Pada penjelasan di atas telah jelas bahwa tape mengandung unsur etanol. Kita telah paham bahwa etanol adalah substansi dari khamer. Walhasil, mengkonsumsi tape yang telah terjadi fermentasi sehingga menghasilkan etanol, hukumnya haram. Sebab, sejatinya sama saja anda sedang mengkonsumsi etanol (khamer).

Adapun pendapat yang menyatakan bahwa mengkonsumsi tape dibolehkan, karena proses pembuatannya alami, dan sudah dianggap sebagai makanan tradisional dan tidak memabukkan; merupakan pendapat yang keliru. Pengharaman benda tidak didasarkan pada proses pembuatannya —alami atau tidak—, dan juga tidak boleh didasarkan pada fakta bahwa tape sudah dianggap sebagai makanan tradisional. Dalil untuk menetapkan halal atau haramnya suatu benda haruslah al-Qur’an dan Sunnah. Selama benda itu tidak diharamkan berdasarkan nash al-Qur’an dan Sunnah, maka benda itu mubah untuk dikonsumsi.

Ada juga yang menyatakan, buah-buahan yang telah masak juga mengandung etanol. Tentunya mengkonsumsi buah-buah yang telah masak juga diharamkan, karena ia mengandung etanol. Untuk menjawab keraguan ini, kami perlu menyatakan bahwa dalam buah-buahan yang telah masak tidak mengandung etanol sama sekali. Gugus atom yang terdapat di dalam buah-buahan yang masak sangatlah komplek (senyawa komplek). Kalaupun ada gugus OH, tidak secara otomatis gugus OH yang ada di dalam buah-buahan masak itu adalah etanol. Akan tetapi struktur kimia pada buah-buahan masak, kebanyakan komplek dan tidak mungkin mengandung etanol.

Bukti lain menunjukkan bahwa Rasulullah Saw dan para shahabat dalam banyak riwayat biasa mengkonsumsi buah-buahan yang telah masak. Ini merupakan dalil bahwa buah-buahan yang telah masak boleh saja untuk dikonsumsi.  Selain itu berdasarkan keumuman nash-nash al-Qur’an kita bisa menyimpulkan bahwa hukum asal dari benda adalah mubah selama tidak ada dalil yang mengharamkannya. Akan tetapi Rasulullah Saw telah melarang kaum muslim mengkonsumsi buah anggur yang telah berbusa. Pelarangan ini dapat kita mengerti, karena anggur yang telah berbusa ini telah mengalami proses fermentasi sehingga menghasilkan etanol. Hal ini juga berlaku untuk buah-buahan yang lain. Jika bisa dibuktikan bahwa buah-buahan tersebut —setelah terfermentasi— menghasilkan etanol, maka ia haram untuk dikonsumsi.

Kami tambahkan disini tentang aktivitas-aktivitas yang diharamkan terkait dengan khamer. Khamer adalah benda. Sedangkan hukum benda tidak terlepas dari dua hal, yaitu halal atau haram. Selama tidak ada dalil yang yang mengharamkannya, hukum suatu benda adalah halal. Karena ada dalil yang secara tegas mengharamkannya, maka hukum khamer itu haram.

Hukum syara’ adalah seruan syari’ yang berkaitan dengan perbuatan hamba (manusia). Sehingga, meskipun hukum syara’ menentukan status hukum benda, tetap saja akan berkait dengan perbuatan manusia dalam menggunakannya. Misalnya, babi itu haram. Perbuatan apa saja yang diharamkan berkenaan dengan babi? Apakah memakannya, menjualnya, menternakkannya, memegangnya, melihatnya, atau bahkan membayangkannya hukumnya juga haram? Untuk mengetahui hukum-hukum perbuatan yang berkenaan dengan benda tidak cukup hanya melihat dalil tentang haramnya benda, tetapi harus meneliti dalil-dailil syara’ yang menjelaskan perbuatan yang berkenaan dengan benda tersebut.

Beberapa perbuatan haram yang berkaitan dengan khamer, dijelaskan oleh Nabi Saw dari Anas ra.

Sesungguhnya Rasulullah Saw melaknat dalam khamer sepuluh personel, yaitu: pemerasnya (pembuatnya), distributor, peminumnya, pembawanya, pengirimnya, penuangnya, penjualnya, pemakan uang hasilnya, pembayarnya, dan pemesannya” [HR Ibnu Majah dan Tirmidzi].

Dari hadits tersebut menunjukkan bahwa semua pelaku yang terlibat dalam khamer termasuk yang diharamkan. Hukum haram disimpulkan karena ada celaan yang bersifat jazim dengan kata “melaknat”. Berarti, itu merupakan sebuah sanksi yang diberikan kepada para pelaku yang terlibat dalam khamer. Mereka itu adalah:

  1. Produsen
  2. Distributor
  3. Peminum
  4. Pembawa
  5. Pengirim
  6. Penuang minuman
  7. Penjual
  8. Orang yang memetik hasil penjualan
  9. Pembayar
  10. Pemesan

Wallahu’alam bi ash showwab.

One thought on “Haramkah Peyeum?

  1. saya mulai ragu atas kehalalan peuyeum tapi apresissi diatas kurang memuaskan kenapa MUI tidak berpatwa? bukankah itu kumpulan ahli agama?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s