Bolehkah Partai Islam Menerima Anggota Non Muslim?

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabaraktuh

Ana adalah seorang kader di salah satu partai politik Islam (tidak usah ana sebutkan namanya). Dalam salah satu media, ana mendengar bahwa partai Islam tersebut menyatakan bersedia menerima kader non-muslim.  Ana sudah minta penjelasan kepada pembina ana, dan dikatakan bahwa ini hanya siasat saja kok, sedangkan yang lain mengatakan kita negara pluralis jadi harus bisa menampung berbagai aspirasi dari masyarakat. Jawaban-jawaban mereka sampai saat ini belum memuaskan ana. Sebenarnya bolehkah hal ini dilakukan? Ana mohon penejelasan Ustadz. Mohon maaf nama ana tolong jangan dipublikasikan demi kebaikan semua. Jazakallah khairan katsira

5 Dzulqa’idah 1429H

‘Hamba Allah’

Yogyakarta

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Semoga Allah selalu memudahkan dan menolong para penuntut ilmu dan pengemban dakwah dari kerusakan pemikiran yang disebarkan oleh orang-orang kafir ditengah-tengah kaum muslimin. Amin.

Apa yang anta tanyakan tersebut adalah hal yang pernah ditanyakan oleh salah seorang teman santri kami di Ma’had Taqyuddin An Nabhani, Yogyakarta. Dan jawaban dari Kyai pengampu ma’had tersebut (KH. Muhammad Shiddiq Al jawi) masih kami simpan. Oleh karenanya dengan mengharap ridho Allah, jawaban kyai tersebut akan disampaikan disini sejauh pemahaman dan pengamalan kami.

Partai Islam secara syar’i haram hukumnya menerima keanggotaan non muslim. Karena karkateristik sebuah partai politik Islam, yaitu wajib beraqidah Islam, memiliki tsaqofah (pemikiran-pemikiran) dan aturan partai yang wajib sesuai dengan Islam serta memiliki tujuan menegakkan dan melanjutkan kembali kehidupan Islam melalui aktivitas dakwah illa al Khair (Islam).

Dalilnya firman Allah SWT :

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنْ الْمُنْكَرِ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan (Islam), menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.” (QS Ali ‘Imran [3] : 104).

Tentang ayat ini, berkata Syaikh Abdul Hamid Al-Ja’bah dalam kitabnya Al-Ahzab fi Al-Islam :

فكلمة ” منكم ” في الآية تمنع أن تكون الجماعة أو الحزب من غير المسلمين و تحصر ذلك في المسلمين فقط

“Maka kata “minkum” [di antara kamu] pada ayat di atas melarang sebuah kelompok atau partai dari [keanggotaan] orang-orang non Islam, dan membatasi keanggotaannya pada orang-orang muslim saja.” (Syaikh Abdul Hamid Al-Ja’bah, Al-Ahzab fi Al-Islam, hal. 120).

Pendapat serupa juga dinyatakan oleh Syaikh Ziyad Ghazzal dalam kitabnya Masyru’ Qanun Al-Ahzab fi Daulah Al-Khilafah (RUU Parpol dalam Negara Khilafah) pada pasal tentang syarat-syarat keanggotaan parpol (syuruth al-‘udhwiyah fi al-ahzab as-siyasiyah) :

“[Anggota partai Islam] haruslah seorang muslim, sebab partai politik [Islam] bertujuan untuk melakukan aktivitas politik [Islam] secara umum, tanpa pengkhususan. Sebab partai politik [Islam] tugasnya adalah melakukan kritik terhadap hukum-hukum syara’ yang diadopsi oleh khalifah dan para pembantunya, melakukan amar ma’ruf nahi munkar terhadap mereka, meluruskan penyimpangan mereka jika mereka menyimpang dari syara’, dan mengangkat senjata di hadapan khalifah jika khalifah menampakkan kekufuran yang nyata, serta aktivitas-aktivitas politik lainnya. Jadi partai politik [Islam] bertujuan melakukan aktivitas politik [Islam] secara umum. Dan ini, mengharuskan angggota-anggotanya dari kalangan kaum muslimin, sebab karakter partai-partai politik [Islam] dan aktivitasnya telah mewajibkan hal itu [keislaman anggotanya].” (Syaikh Ziyad Ghazzal, Masyru’ Qanun Al-Ahzab fi Daulah Al-Khilafah, [T.tp. : Dar Al-Wadhaah li An-Nasyr, 2003], hal. 46).

Dengan demikian, menurut Syaikh Ziyad Ghazzal, keislaman anggota parpol Islam adalah suatu kewajiban, karena merupakan tuntutan yang muncul dari karakter dan aktivitas parpol Islam. Sebagai contoh, aktivitas parpol Islam adalah melakukan amar ma’ruf nahi munkar.  Hal ini tidak dapat dilakukan oleh orang yang tidak seaqidah dan pemahaman yang sama. Banyak ayat al-Qur`an telah memastikan, bahwa amar ma’ruf nahi munkar ini adalah karakter khas umat Islam, bukan umat non-Islam. Contohnya firman Allah SWT :

بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَر وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ كُنْتُمْ خَيْرَ أُمّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنّاسِ تَأْمُرُونَ

“Kamu [umat Islam] adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS Ali ‘Imran [3] : 110)

Banyak ayat lain yang menerangkan, bahwa amar ma’ruf nahi munkar adalah ciri khas umat Islam, bukan umat non Islam. Misalnya QS Ali ‘Imran : 114,  QS Al-A’raaf : 157, QS At-Taubah : 71, dan QS At-Taubah : 112. Sebaliknya, orang non Islam, khususnya Yahudi, tidak saling melarang berbuat munkar (QS Al-Ma`idah : 78-79), dan orang munafik bahkan menyuruh yang munkar dan mencegah dari yang ma’ruf (QS At-Taubah : 67). Jadi aktivitas amar ma’ruf dan nahi munkar tidaklah akan mampu dipikul, kecuali oleh umat Islam.

Dengan demikian, telah jelas keharamannya secara syar’i sebuah partai politik Islam menerima anggota non muslim. Meraih tujuan di dalam tentu saja tidak boleh menghalalkan segala cara. Aktivitas dakwah wajib mengikuti thariqah Rasulullah dan tidak boleh melakukan apa yang diharamkan oleh Allah. Thariqah dakwah tidak dapat diqiyaskan dengan thariqah al qital (metode peperangan) sehingga boleh berbohong (bersiasat). Setiap perkara di dalam Islam mengandung hukum-hukumnya masing-masing. Wallahu a’lam bi Ash Showwab.

9 Dzulqa’idah 1429 H

Al Faqir Illa Allah

Fauzan Al banjari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s