MAJELIS DI SURGA

Di surga kelak… Kebahagaian terbesarku setelah melihat wajah Allah… adalah memandangi kekasih tercinta… semoga Allah mengijinkannya…

Di surga-Nya kelak… aku ingin sekali bisa menjumpai Rasulullah… jika tidak bisa berdua… beramai-ramai dengan para sahabatnya dan pengemban dakwah yang lain juga tidak apa…  karena cukup bagiku hanya dengan memandangi wajah agung beliau… sang penyejuk hati… penawar kerinduan yang membuncah…

Saat duduk dalam majelis beliau yang sangat indah… di pinggir telaga Rasulullah yang lebarnya antara kota Bushra di Syam dan kota Shan’a di Yaman. Airnya mengalir dari mata air al-Kautsar, yang lebih putih dari susu, lebih lembut dari buih dan lebih manis dari madu di lilinnya. Kerikil-kerikilnya adalah mutiara, sungai-sungainya adalah miski. Sungguh tak terbayangkan betapa nyaman dan nikmatnya majelis itu di saat mendengarkan suara merdu beliau membacakan ayat-ayat Allah… mendengarkan beliau menyampaikan tentang Islam… pastilah begitu sejuk dihati.

Di sana pastilah akan kutemui Abu Bakar dengan wajahnya yang bijak dan kesabarannya… beliau yang Rasul dan Allah puji sebagai pemilik kebenaran dan selalu membenarkan Rasul-Nya.

Di sana juga pasti ada Umar al-Faruq, sahabat beliau Saw. yang bahkan setan pun akan menyingkir dari jalan yang dilaluinya karena kekuatan dan kekokohannya dalam memegang agama.

Lalu aku juga akan melihat Utsman bin Affan yang bahkan para malaikat malu kepadanya.

Kemudian pasti aku akan melihat Ali bin Abi Thalib di samping Rasulullahku… dengan wajah yang tampan dan berwibawa menunjukkan keilmuannya yang tinggi… karena beliau adalah kunci dari Ilmu sekaligus kerabat serta menantu Rasulullah.

Di sana pastilah banyak sahabat yang mulia… ada Zubair bin Awwam r.a., ada Thalhah bin Ubaidillah r.a., juga Abdurrahman bin ‘Auf r.a., serta Sa’ad bin Abi Waqash r.a….. juga para ‘ulama yang ternama… para mujahid yang perkasa… para pengemban dakwah yang tak kenal lelah.

Aku hanya ingin… ingin sekali jadi bagian di antara majelis mereka… dan berharap posisiku tak jauh dari mereka… agar aku bisa memandangi Rasulullahku.

Jauh di seberang sana ada majelis wanita… di tengah-tengahnya ada ummahatul mu’minin (ibunda kaum Muslim) Khadijah  r.ah., isteri Rasulullah tercinta… di sampingnya ada Maryam bin Imran, ada Aisyah, ada Fatimah, ada Siti Sarah… dan yang lainnya.

Indah sekali surga itu… indah sekali majelis-majelis itu… sungguh tak terbayangkan keindahannya…

Semua yang ada di dalamnya tersenyum berseri… hanya ada wajah-wajah ceria…

Tak ada duka… gelisah… ataupun cemas… apalagi rasa takut…

Hanya aku…

Yang tersekat isak tangis di kerongkonganku…

Jika mengingat ilmu-ku yang sedikit…

Amal ku yang kerdil…

Sedekahku yang secuil…

Aku hanya bermohon… dan terus bersholawat kepada kekasihku itu… agar beliau mau memberiku syafaat karena cintaku…

Agar aku bisa merasakan nikmatnya duduk dalam majelis beliau yang indah dan mulia… Dalam surga-Nya yang penuh kebahagiaan abadi…

Aku ingin sekali dapat mencintai beliau seperti beliau mencintai umatnya… walau hanya sepersepuluh atau bahkan seperseribu cinta beliau tidak apa-apa… walau cintaku tak sebesar cintanya Abu Bakar dan Umar… tak seindah cintanya Utsman dan Ali… yang jelas cintaku harus lebih tinggi dari cintaku terhadap diriku sendiri atau siapapun, bahkan kedua ayah bundaku.

Mampukah kita mencintai beliau seperti beliau mencintai kita???

Allahumma Sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi… betapa cintanya beliau kepada kita……

Ingatkah kalian detik-detik saat Rasulullah akan meninggal dunia berjumpa dengan Kekasihnya Yang Maha Tinggi.

Disaat sakaratul maut mendera beliau, ketika putri beliau Fatimah r.ah., berkata, “Aduhai susahnya wahai ayahanda”. “Tidak ada kesusahaan bagi ayahmu setelah hari ini, sesungguhnya telah datang kepada ayah sesuatu yang tidak akan luput dari seorangpun, yaitu kematian” jawab baginda Nabi lembut kepada putri kesayangannya.

Bahkan Aisyah r.ah., menggambarkan dengan kata-kata beliau tentang beratnya kematian yang dihadapi oleh baginda Nabi Saw. suaminya itu, “Aku tidak pernah lagi merasa iri akan mudahnya seseorang dengan kematiannya, setelah aku melihat sendiri dahsyatnya kematian yang dialami oleh Rasulullah Saw”.

Ingatkah kalian, disaat beratnya menghadapi kematian tersebut beliau masih memikirkan umatnya.

Ingatkah kalian disaat malaikat Jibril datang kepada beliau, dan beliau menanyakan bagaimana nanti umat beliau…

Saat Baginda Rasulullah Saw. berkata kepada Jibril menjelang wafatnya, “Siapakah orang yang menggantikanku untuk ummatku?” Kemudian Allah mewahyukan kepada Jibril, “Berilah kabar gembira kepada kekasih-Ku, bahwa aku tidak akan menjadikannya hina di tengah umatnya, dan berikanlah kabar gembira kepadanya, bahwasanya dia adalah orang yang paling cepat keluar dari bumi jika dibangkitkan, dan sesungguhnya surga itu diharamkan kepada semua umat sehingga dimasuki oleh umatnya”. Setelah itu Rasulullah Saw. bersabda, “Sekarang mataku menjadi tenang”.

Ah…. sungguh tak tertandingi kemuliaan hatimu yaa Rasulullah…

Sungguh benarlah firman Allah bahwa engkau adalah suri teladan umat manusia yang tiada bandingnya…

Ah… betapa besarnya cintamu kepada kami wahai kekasih Allah. Diakhir hayatmu pun, engkau masih mengingat dan berwasiat serta menangis untuk kami.

Kami tahu, air matamu yang mulia itu membasahi pipimu karena mengkhawatirkan kami. Umatmu ini.

Engkau takut kami tersesat, engkau takut kami berpaling dari Allah. Engkau takut, ada diantara kami yang tidak dimasukkan ke dalam surga-Nya, tidak berjumpa denganmu di sana di dalam majelismu…

Ah… Kekasihku…

Air mata ku pun tak terbendung lagi. Setiap mengenang saat-saat terakhir di dalam hidupmu itu…

Saat engkau dan para sahabatmu menangis, engkaupun bersabda: “Tenanglah, semoga Allah mengampuni kalian, dan semoga Allah memberikan balasan kebaikan dari Nabi kalian”.

Aku takut ya Rasulullah, dirikukah orang yang membuat air mata muliamu membasahi pipimu?

Dirikukah orang yang engkau khawatirkan ya Rasul?

Dirikukah yang engkau sebut ”ummati… ummati…” di dalam hadits-haditsmu…

Ya Rasul, tentulah engkau akan kembali menangis, seandainya engkau melihat kami di penghujung zaman ini.

Betapa banyak diantara kami, yang meninggalkan perintah Tuhanmu, dan justru melaksanakan larangan-Nya.

Kamikah umatmu itu ya Rasul….?

Tentulah air matamu akan kembali mengalir. Karena begitu banyak dari umatmu yang hidup tanpa mewarisi risalahmu. Sepanjang hidupmu engkau mengatur umatmu dengan Al Qur’an, sementara saat ini mereka mengatur kehidupan ini dengan aturan buatan mereka sendiri, dengan hawa nafsu mereka sendiri…

Diakhir hayatmupun engkau menangis karena kami…

Sementara kami tak sekalipun menangis karena dosa-dosa kami…

Tak sekalipun menangis karena merindukanmu ya Rasul…

Umatmu kini, tak lagi mengikutimu. Mereka telah berani menantang Tuhanmu secara terang-terangan.

Para wanita tak lagi menjaga auratnya dihadapan laki-laki….

Laki-laki tak lagi memberi nafkah keluarganya dengan yang halal….

Mereka tak lagi peduli bagaimana cara mereka bergaul…

Anak tak lagi punya bakti kepada kedua orang tuanya…

Orangtua tak lagi peduli dengan agama anak-anaknya…

Para penguasa, tak lagi mengurusi rakyatnya dengan al-Qur’an dan Sunnahmu.

Terlaknatlah kami jika seperti ini…..

Ya Rasulullah… Demi Allah yang menggenggam jiwaku. Sejak detik ini, selama nafas masih milikku, akan kujadikan engkau kekasih yang selalu ada di hatiku. Akan kulanjutkan risalahmu. Akan kujadikan kau selalu dihatiku, yang akan membimbing hidupku. Akan kusucikan namamu dari segala fitnah musuh-musuhmu.

Demi Allah akan kubunuh, siapa saja yang mencacimu di hadapanku. Demi Allah wahai cintaku….

3 thoughts on “MAJELIS DI SURGA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s