Nasihat Dari Seorang Kakak

Ini adalah nasihat dari seorang kakak, dari hamba Allah kepada adik-adiknya para nisa yang dirahmati Allah.

 

Ba’da tahmid dan sholawat, saudariku sesungguhnya Allah SWT tidak memandang kepada rupa dan harta serta kedudukan kita di dunia, akan tetapi yang ditatap oleh Allah adalah apa yang ada dihati kita dan amal-amal yang kita lakukan.

 

Ukhti… Allah telah menetapkan kepada kita semua sebuah aturan main, undang-undang kehidupan. Yang jika kita mentaatinya maka hanya kebahagiaanlah yang akan Allah anugerahkan kepada kita. Sedang jika kita berpaling maka kesempitan dan kesengsaraanlah yang akan kita peroleh.

Ukhti… ditengah-tengah tuntutan persamaan hak dan kesetaraan yang dituntut oleh saudari-saudarimu sesama wanita sungguh menimbulkan kesedihan yang luar biasa bagi kehidupan manusia. Mereka menuntut persamaan dalam segala hal. Padahal sesungguhnya laki-laki dan wanita itu tidaklah sama. Allah telah mrnciptakan bagi mereka potensi yang berbeda yang dengan mudah nampak pada bentuk fisik mereka. Lembut dan  halusnya tubuh wanita adalah agar anak-anak mereka merasa nyaman dalam dekapan bundanya. Kokoh dan kuatnya fisik laki-laki agar mereka dapat melindungi, menafkahi isteri dan ankanya. Allah juga telah membagi peran yang berbeda bagi mereka semua.

Banyak dari kaum wanita yang memilih karier diluar rumah dari pada karir didalam rumahnya sendiri. Mereka lebih bangga jika dapat bekerja diluar rumah, menjadi wanita karir bersaing dengan laki-laki. Dan mereka tidak mempedulikan lagi bagaimana karir mereka dihadapan Allah ketika mereka meninggalkan tugas agung dan mulia dalam rumah tangganya.

Tahukah ukhti… bahwa tinggalnya seorang wanita dirumah mengurusi keluarganya dan memenuhi kebutuhan suaminya akan dibalas oleh Allah dengan pahala yang sangat besar. Pahala jihad. Dan jihad itu bagi kebanyakan laki-laki adalah sesuatu yang sangat berat.

Juga tahukah ukhti… mengutamakan kepentingan keluarga dan anak-anak adalah kewajiban agung yang akan dibalas oleh Allah dengan surganya.

Dalam riwayat Anas bin Malik Rasulullah bersabda : “Maukah kuberitahukan calon-calon ahli sorga dari kaum wanita.” Para sahabat mengiyakan. Nabi berkata.”Salah satu calonnya adalah istri yang penyayang dan subur rahimnya. Kalau dirinya diperlakukan, ditegur atau dimarahi oleh suaminya, ia berkata, “kupasrahkan diriku ini kepadamu. Saya tak akan tidur sampai kamu rela kepadaku.” (HR. Thabrani). Bahkan dalam kesempatan lain rasulullah bersabda, ”Surgamu dan nerakamu sangat bergantung pada sikapmu terhadap suamimu” (HR. Ahmad)

 

Wahai ukhti…. Pekerjaan terbaik dan termulia bagi para wanita  di sisi Allah adalah pekerjaan mengurusi rumah tangganya. Namun betapa sedikit wanita yang bercita-cita memiliki pekerjaan ini dan apalgi melakukannya secara professional dalam menunaikannya. Mereka lebih suka memilih jabatan diluar rumahnya daripada pekerjaan yang mulia ini.

Anti semua adalah calon ibu yang seharusnya melahirkan orang-orang besar dan para mujahid. Bagaimanakah jika kalian kehabisan waktu dalam mendidik anak-anak kalian… dan hanya memberikan waktu-waktu sisa setelah pulang bekerja dalam keadaan yang lelah.

 

Dalam Islam Istri wajib tinggal dirumah kecuali jika ada keperluan yang diperbolehkan syara untuk keluar rumah. Sebagaimana disebutkan dalam qur’an surah al ahzab ayat 33. Imam Ibnu Katsir menjelasakan ayat ini diantaranya dengan hadits nabi. ”Wanita adalah aurat. Bila ia keluar rumah maka setan akan terus mengikutinya. Wanita akan berada paling dekat dengan Tuhannya -yakni dengan rahmat dan ridhoNya- pada saat ia berada dalam rumah.”

Bahkan shalat wanita didalam rumah lebih baik dari pada ia sholat berjamaah di masjid (luar rumah).

Wahai ukhti… sungguh tak ada tujuan akhir kita kecuali keridhoan Allah Ta’ala. Begitupun seharusnya kita juga memahami bahwa waktu kita didunia terlalu berharga jika kita habiskan untuk bermaksyiat kepada Allah. Bahkan ia masih sangat berharga jika terlalu banyak dihabiskan untuk hal-hal yang mubah.

Pekerjaan bagi wanita adalah mubah… bukan sunnah atau wajib. Dan tidak akan berubah hukumnya selama masih ada laki-laki di dunia ini. Namun dalam kemubahannya itu ia akan berubah jika sudah ada akad dengan orang lain untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. kewajibannya adalah karena akadnya itu sendiri.

Apapun alasannya pekerjaan tetaplah mubah bagi wanita walaupun dengan alasan untuk dakwah. Karena yang wajib adalah dakwahnya bukan pekerjaannya. Dalam hal ini tidak bisa dipaksakan kaidah syara “Sebuah kewajiban tidak terlaksana karena sesuatu maka sesuatu itu menjadi wajib”, kewajiban dakwah bagi wanita tetaplah bisa dilaksanakan tanpa harus bekerja di sektor publik. Bahkan ia menjadi haram ketika pekerjaan tersebut membuat ia lalai terhadap kewajiban-kewajiban utamanya dan ia tak sanggup menjaga interaksi atau pergaulannya dengan teman-teman kerjanya.

Oleh karena itu nasihat kakak bagi kalian semua adik-adikku calon isteri, calon ibu, para ibu dan pengemban dakwa (haml al-dakwah) untuk lebih berhati-hati dalam memilih pekerjaan (walaupun kakak tetap lebih menganjurkan untuk tidak terjun memasuki dunia kerja) dan berpikir serta mempertimbangkannya dengan sangat mendalam ketika akan terjun kedunia kerja. Jikapun ukhti harus bekerja, nasihat kakak:

  1. Pilihlah pekerjaan yang tidak banyak menyita waktu, apalagi sampai menghabiskan waktu seharian dan ikut lembur sampai malam.
  2. Buat akad diawal bahwa kalau berbenturan dengan peran utama ukhti sebagai anak, isteri atau ibu (misalnya anak sakit, suami sakit, atau berbenturan dengan urusan domestik rumah tangga yang penting ataupun agenda dakwah) maka urusan kerja harus ditinggalkan.
  3. Aturlah waktu agar peran-peran utama dalam kehidupan (sebagai anak, istri, ibu, pengemban dakwah) dapat dilakukan sesuai dengan kewajibannya.
  4. Pilihlah pekerjaan yang dapat mengoptimalkan peran utama sebagai wanita, sebagai ibu dan pengatur rumah tangga serta sebagai pengemban dakwah. Beberapa pekerjaan yang cocok buat muslimah adalah menjadi penulis lepas, konsultan atau apapun pekerjaan yang bisa dilakukannya dari rumah sehingga ia tetap bisa memperhatikan keluarganya.

 

Janganlah kita memperturutkan hawa nafsu, tundukkanlah ia dibawah perintah Allah dan RasulNya. Bagaimanalah kita berharap mendapat ridhoNya jika kita selalu berpaling dari peringatanNya.

 

Sesungguhnyalah kebahagiaan hidup itu dalam naungan keridho’anNya.

 

Yaa Allah saksikanlah. Kami sudah sampaikan.

2 thoughts on “Nasihat Dari Seorang Kakak

  1. subhanallah…kak, makasih banyak atas dakwah kaka barusan,,,ana jadi sadar , slama ini ana begitu banyak bermaksiat…astaghfirullah….
    insyaallah berkat nasihat kaka, ana bisa menjadi wanita shalehah….amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s