Kepada Para Wanita Sholehah Pencari Kerja

Asslamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ba’da tahmid dan sholawat…

Tulisan ini tidak diperuntukkan bagi seluruh wanita…

Tapi hanya untuk para muslimah yang mengatakan bahwa diri mereka adalah penegak syariah dan peduli dengan saudaranya…

Dan di antara mereka itu tulisan ini juga tidak diperuntukan kepada para wanita sholehah yang menjadi tulang punggung bagi keluarganya (meski itu seharusnya bukan tugas mereka)…

Tulisan ini bagi para wanita sholehah yang memiliki para lelaki (suami, kakak, adik atau orang tua) yang mampu menafkahinya sebagai sebuah kewajiban…

Tulisan ini sebagai bahan pertimbangan bagi para wanita sholehah yang sedang memburu pekerjaan (karir) di luar rumah mereka….

Saat ini kita bersama tahu wahai ukhti yang sangat ku hormati. Minimnya lapangan kerja di Indonesia dan rendahnya kualitas pendidikan masyarakat yang mengakibatkan meningkatnya jumlah orang-orang yang menganggur tidak memperoleh kesempatan bekerja. Jumlah pengangguran terbuka tahun 2004 saja mencapai 10,53 juta orang atau 9,86% dari angkatan kerja keseluruhan yang berjumlah 104,02 juta orang. Sedangkan jumlah penganggur setengah terbuka -mereka yang bekerja kurang dari 35 jam per bulan- menurut versi LIPI 28,93 juta orang atau 27,5% dari total angkatan kerja. Bila keduanya digabung, maka setidaknya jumlah penganggur di Indonesia mencapai 39,46 juta orang atau 37,36%. Jumlah ini sangat besar. Itu artinya, satu dari tiga orang angkatan kerja di Indonesia menganggur. Kemudian, bila diasumsikan jumlah rumah tangga di Indonesia mencapai 45 juta (setiap rumah tangga terdiri dari 5 jiwa dan jumlah penduduk lndonesia 220 juta jiwa), maka ada sekitar 5,5 juta keluarga yang sepenuhnya menganggur. Jumlah itu sampai saat ini tidaklah menurun bahkan meningkat (www.portalhr.com). Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memproyeksikan angka pengangguran pada 2009 naik menjadi 9% dari angka pengangguran 2008 sebesar 8,5%  (www.koranindonesia.com).

Ukhti… bisa kita bayangkan dengan angka 5,5 juta keluarga yang sepenuhnya menganggur itu. Jika kita anggap bahwa ada 1 laki-laki yang wajib menafkahi keluarganya maka akan ada 5,5 juta laki-laki yang tidak dapat memenuhi kewajibannya, karena sulitnya lapangan pekerjaan dalam dunia kapitalis ini.

Engkau tahu wahai ukhti… setiap laki-laki yang telah baligh memiliki kewajiban untuk menafkahi diri mereka sendiri dan orang-orang yang menjadi tanggungannya.

Allah SWT berfirman: “Dan kewajiban ayah adalah memberi makanan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf” (QS. al Baqarah [2]): 233)

Rasulullah saw. bersabda kepada kaum muslimin, “Bersedekahlah!” Lalu seorang pria berkata, “Aku memiliki satu dinar” Nabi saw. menjawab, “Bersedekalah dengannya untuk (kebutuhan pokok) dirimu!” Lalu ia berkata lagi, “Aku memiliki satu dinar lagi” Rasulullah kembali berkata, “Bersedekahlah dengannya untuk Isterimu.” Pria itu berkata lagi, “Aku masih punya satu dinar lagi,” kembali Rasulullah saw. Berkata, “Bersedekalah untuk anakmu.” (HR. Ahmad)

Yang dimaksud bersedekah disini adalah memenuhi kewajiban untuk menafkahi siapa saja yang menjadi tanggungan seorang laki-laki.

Ukhti… para pencari kerja, dengan jumlah lapangan pekerjaan yang sangat sedikit, itupun harus diperebutkan oleh banyak orang. Baik laki-laki maupun perempuan (termasuk diri ukhti). Tidakkah ada pikiran dalam diri ukhti bahwa dengan ikut sertanya ukhti dalam persaingan memperebutkan pekerjaan tersebut jelas akan memperkecil peluang diperolehnya pekerjaan oleh para laki-laki yang mereka sangat membutuhkannya (karena adanya kewajiban pada diri mereka). Padahal pada saat yang sama pekerjaan tersebut hanyalah mubah (boleh) untukmu.

Tega kah hati ukhti… saat ukhti diterima dalam pekerjaan tersebut, kemudian dengan wajah sedih para laki-laki yang sangat membutuhkan pekerjaan tersebut untuk menafkahi isteri dan anaknya harus tersingkir karena kalah “bersaing” dengan ukhti.

Begitu banyak saat ini persaingan antara laki-laki dan perempuan dalam memperebutkan lapangan pekerjaan. Tidak sedikit laki-laki yang harus gigit jari, tak sedikit para isteri dan para anak yang kembali harus “bersabar” karena suami dan ayah mereka “tidak berhasil” memperoleh pekerjaan yang mungkin dapat menyelamatkan kemiskinan dan ketidak mampuan mereka karena “kalah bersaing” denganmu.

Benarkah mereka “kalah bersaing”, Demi Allah sesungguhnya tidak semuanya benar. Karena banyak para pemilik pekerjaan yang lebih memilih wanita daripada laki-laki dengan berbagai alasan meski kualifikasi mereka sama bahkan mungkin laki-laki lebih baik.

Wahai ukhti… ana tidak mengharamkan sebuah pekerjaan yang memang mubah untuk engkau lakukan. Hanya sebuah pandangan yang mungkin tidak pernah terbersit dipikiran kebanyakan wanita yang sedang mencari pekerjaan saat ini.

Nasihat ini sengaja ana berikan kepada kalian karena kalian adalah para akhwat yang lebih mencintai Allah dan rasul-Nya daripada kebanyakan wanita. Karena kalian lebih mencintai saudara-saudari kalian sebagaimana kalian mencintai diri kalian sendiri.

Tidak kah jika kalian mau memberikan peluang itu kepada laki-laki sholeh yang bersaing dengan kalian untuk posisi yang sama akan lebih bermakna dan membawa kebaikan yang LEBIH BESAR?

Ana yakin kalian sangat membenci pemikiran kaum gender itu. Yang terus memperjuangkan kesetaran antara laki-laki dan perempuan dalam seluruh aspeknya. Padahal laki-laki dan perempuan diciptakan tidaklah sama. Peran mereka dalam kehidupan pun tidak lah sama. Seharusnya mereka tidak saling bersaing, tapi saling melengkapi dan bekerja sama.

Wahai ukhti… ana yakin kalian lebih memahami dan lebih mengerti maksud dari apa yang telah ana sampaikan. Semoga Allah memberikan kebaikan kepada kalian. Dan kalian layak menyandang predikat Bidadari di muka bumi.

Wallahu’alam bi ash showwab

Untuk Bunda dan Ayah Tercinta….

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Bundaku…,

kutahu Bunda merasa bingung dan heran dengan suratku ini, karena tak biasanya anakmu ini menulis surat untuk Bunda. Bahkan untuk sekedar menyapa Bunda dengan hangat.

Bunda pasti lebih mengenal sifatku daripada diriku sendiri. Anakmu telah tersalah kepada Bunda, dalam kesuksesan dan keberhasilanku… seharusnya Bundalah yang pertama kali merasakannya bersamaku.

Seharusnya tak ada yang bisa gantikan Bunda dalam hatiku.

Seharusnya anakmu ini datang dan bersujud di bawah kakimu. Memohonkan ampun kepada Bunda dan meminta do’a kepada Bunda agar anakmu ini selamat dunia akhirat.

Bunda maafkanlah, karena anakmu telah sering melupakanmu.

Terlalu sering melupakanmu, di masa tuamu.

Bahkan ia lupa untuk hanya menanyakan bagaimana kabar Bunda hari ini?.

Bahkan ia tak sempat bepikir apakah Bundanya baik-baik saja?.

Apa yang dilakukan Bundanya, saat ia tersenyum bahagia?,

Bagaimana keadaan Bundanya, di saat dia tertawa girang?…

Yang ia pikirkan hanyalah dirinya sendiri.

Dengan segala kesibukannya.

Dengan segala alasan hidupnya.

Dengan semua argumen kenaifannya.

Bundaku…

Kenakalan anakmu ini dulu pasti telah pernah membuat bunda menggeleng-gelengkan kepala.

Membuat Bunda mengurut dada….

Membuat hati Bunda gundah dan gelisah…

Oleh kerenanya maafkanlah anakmu ini yang tak tahu caranya berterimakasih.

Yang tak mengerti bagaimana bersyukur.

Yang bibirnya tak mampu untuk mengatakan bahwa ia begitu mencintai dan menyayangimu.

Karena ia sungguh merasa sombong dengan ‘keakuan’ dirinya.

Karena ia merasa enggan untuk sekedar berucap terimakasih dan bersyukur atas segala pengorbananmu.

Karena ia tak tahu bagaimana berbakti kepadamu…

Bahkan ia sering lupa mendo’akanmu dalam setiap munajatnya.

Wahai Bunda maafkanlah anakmu ini karena ia hanya manusia bodoh dan lemah.

Sungguh Bundaku…

Anakmu ini bagai lupa untuk bersyukur karena telah dibesarkan oleh seorang Bunda yang sangat penyayang dan penyabar.

Aku tahu…

Dalam setiap sujud-sujud Bunda, Bunda selalu mendo’akanku..

Jauh sebelum kelahiranku…, Bunda selalu melantunkan ayat-ayat suci dan berdo’a agar kelak aku menjadi anak yang shalih.

Bunda…

Berjuta kata maaf dari anakmu ini tak akan pernah mampu menghapus kesedihan dan penyesalannya.

Dan Bunda…

Beratus-ratus juta kata terimakasih…. sungguh tak akan cukup untuk sekedar membalas setetes kasih sayangmu.

Sungguh wahai Bunda…

Jikalau anakmu hanya mengabdi dan mengurusi Bunda dalam sisa umurnya yang sedikit ini, ia tak akan pernah mampu menggantikan kasih sayang dan pengorbanan Bunda…

Meski ia tukarkan dengan segunung emas.

Atau.. permata seluas samudera, sungguh tak akan sanggup untuk ditukarkan dengan keridha’anmu…

Bunda…,

Saat ini anakmu hanya bisa sujud tersungkur berharap keridha’anmu…

Tak ada yang bisa gantikan… kala ingat akan pengorbanan Bunda disaat mengandung diriku. Dengan penuh kasih sayang Bunda menjaga diriku. Memberikanku asupan makanan yang terbaik. Bunda berjalan dengan sangat hati-hati agar aku nyaman dalam perlindungan rahim Bunda.

Di malam yang dingin Bunda berjuang antara hidup dan mati hanya agar aku dapat melihat dunia. Bahkan seketika segala rasa sakit ketika melahirkanku segera lenyap ketika mendengar tangis kehidupan pertamaku…

Bundalah yang pertama kali panik dan bersedih saat badanku panas dan jatuh sakit.

Bunda jugalah yang pertama kali bangun di tengah malam yang dingin dan sepi dalam keadaan yang payah setelah mengurusiku seharian. Saat diriku hanya bisa menangis karena popokku basah atau aku haus.

Tanpa mengharapkan balas jasa, Bunda selalu menghibur dan menjaga diriku saat aku dalam sedih dan senang.

Bunda hanya tersenyum melihat kenakalan kecilku, di balik jubah Bundalah aku berlindung jika aku merasa malu atau takut. Kadangkala aku pun masuk kedalam kerudung Bunda yang besar, bersembunyi di sana, mencari keamanan dan ketentraman dari kehidupan dunia yang keras…

Bunda…

Tak pernah ku melihat kesedihan, keluhan, penyesalan apalagi rasa bosan di matamu yang jernih meneduhkan.

Di sana yang kudapati hanyalah kasih sayang yang tak berujung.

Cinta yang tak berbatas.

Bagai mata air telaga yang jernih yang menjadi tempat bagi berbagai makhluk yang merindukan kedamaian.

Sungguh sebesar apapun amalan anakmu tak akan lebih berharga dibandingkan dengan keikhlasan dan kasih sayangmu yang tulus untuk mendidik dan membesarkanku.

Demi Allah yang jiwaku ada dalam genggaman tangan-Nya…

Jikalah seluruh harta yang ada di seluruh dunia ini ditawarkan kepada Bunda, tak mungkin Bunda mau menggantikan diriku ini di hati Bunda.

Bahkan ditukar dengan nyawaku pun tak akan sanggup untuk menunjukkan kebaktianku kepada Bunda.

Telah berjuta langkah yang Bunda tempuh.

Sudah habis ribuan jam yang Bunda lewati.

Semua telah Bunda persembahkan demi aku anakmu.

Telah Bunda lewati berbagai rintang dan halangan hanya demi aku.

Sungguh kasih yang Bunda berikan tak pernah putus…

Laksana udara yang terus mengalir merasuki tubuhku setiap hari.

Dan tak mungkin aku mampu membalasnya..

Bunda…

Masih ingatkah lagu yang selalu Bunda nyanyikan dulu di waktu aku masih dalam buaian Bunda?

Lagu yang mengalir indah dengan suara merdu Bunda…

Lagu yang syairnya tak akan pernah  aku lupa..

Lagu tentang bakti kepada Ayah dan Bunda…

Bunda sangat mengerti diriku…

Bunda ajarkan berbagai kewajiban terhadap Allah dan Rasul-Nya serta Islam yang sempurna melalui lagu-lagu agar aku senang dan mudah memahaminya.

Dulu aku hanya mendengarkannya dari alunan suara merdu bunda hingga aku tertidur.. tapi sekarang aku paham.

Dan setiap kali aku rindu kepada Bunda dan Ayah, lagu itu aku nyanyikan.

Dan setiap kali itu juga tak henti-hentinya air mata ini mengalir… terkenang perngorbanan Bunda dan Ayah…. biarkanlah sekali lagi memori itu aku putar… mendengarkan Bunda bersenandung untukku…

“Hari…

Panas manggantang…

Tangah hari manggantang, panasnya manggantang…

Asa rakai tulang iga sampai ka pinggang..

Mangilik nanang, galuh caramin matanya..

Uma batulak mancariakan rajakinya..

Guntur… Kilat basambut…

Hujan labat arus daras wan galumbangnya…

Awak basah kadinginan di tangah sungai…

Abah malunta mancariakan rajakinya…

Umaa…

mun bulih sakit uma kugantiakan lawan sagala amalanku…

Abaah..

mun bulih paluh abah kugantiakan lawan sagala pahalaku…

Uma ratu-ai…

Abah raja-ai..

Yaa Allah..

Yaa Rabbi…

Kucium batis uma nang manyayangi…

Kucium tangan abah nang malindungi…

Ampuniakan dosa uma wan abahku….

Yaa Allah..

Yaa Rabbi…

Rabbighfirli waliwalidaiya…

Warhamhuma kama rabbayani shaghira…

Ampuniakan dosa uma wan abahku….

Ampuniakan dosa umaku… wan abah…

Sungguh saat ini yang ingin kulakukan hanyalah mendekap dan menangis di pangkuan Bunda sampai aku terlelap seperti masa kecilku dulu, mendengarkan lantunan do’a-do’a Bunda yang merasuki sekujur tubuhku….

Ketika do’a-do’a itu Bunda panjatkan dengan ketulusan hati Bunda yang lembut maka bergoncanglah Arsy Allah … dan malaikat-malaikatpun terharu dan mengamininya.

Bunda…

Akupun akan selalu berdo’a dalam sujudku yang panjang di malam hari… agar Allah selalu mengasihi dan menjaga Bunda serta Ayah, sebagaimana Bunda dan Ayah selalu mengasihi dan menjagaku selagi kecil.

Do’a itupun akan didengar oleh Allah.

Allah Yang Maha Penyayang dan dengan janji-Nya Ia akan mengabulkannya.

Bunda ijinkanku menangis dalam dekapan kasih sayangmu…

Yogyakarta, 28 November 2008

Untuk Bunda dan Ayah

Bait-bait Kerinduan Hati….

Surat Terbuka Kepada Saudariku…

Saudariku yang di rahmati Allah…

Aku bangga memiliki engkau sebagai teman seperjuanganku di medan dakwah…

Aku merasa terhormat berada disisimu, karena engkau seorang wanita sholehah…

Aku sangat bahagia ketika engkau selalu berbagi denganku…

Aku sangat yakin engkau sangat sayang padaku…

Dulu Engkau bagikan kasih sayangmu kepadaku…

Dulu… jilbabmu pun engkau berikan kepadaku….

Dulu… engkau selalu menghiburku saat aku sedih

Dulu… dengan sabar engkaupun membimbingku…

Dulu suka dan duka kita jalani bersama di rumah binaan itu…

Saat engkau menikah… aku terharu… aku bersyukur…

Karena engkau telah menemukan pendamping hidupmu…

Tempat sandaran hati dan hidupmu…

Seorang lelaki sholeh… lelaki dambaan…

Seperti yang sama-sama kita cita-citakan…

Kita hanya akan menikah dengan lelaki sholeh… yang memiliki visi hidup Islam…

Dan kau tambahkan .. pejuang syariah dan khilafah… aku pun setuju.

Aku berdo’a kepada Allah agar engkau selalu bahagia… saudariku

Dalam hati aku berdo’a… “ya rabbi kapan waktuku…?”

Kini… sudah lama kita tidak lagi bersama…

Aku tahu… engkau pasti ingin berbakti kepada suamimu…

Kini.. kita tak lagi saling berbagi seperti dulu…

Karena kini… ada tempat lain untuk mu berbagi…

Saudariku…

Sampai saat ini… Allah belum memberikan aku seorang pendamping … seperti pendampingmu…

Juga saudari-saudari kita yang lain…

Mengapa?… bukan karena kami tidak siap…

Tapi karena para rijal yang memang sedikit… tentu bukan sembarang rijal… rijal yang sama-sama kita cita-citakan dulu….

Rijal yang sholeh… seperti pendampingmu sekarang,

Mengapa mereka bagai makhluk langka yang sangat sulit kami temukan…

karena dunia tempat kita tinggal begitu hedon dan sekuler …

Memang ada beberapa rijal yang datang kepada kami…

Tapi engkau juga tahu… mereka tidaklah seperti yang kita cita-citakan … seperti pendampingmu…

Yang kami butuhkan adalah pendamping yang sholeh dan bertaqwa…

Dan berjuang demi tegaknya syariah Allah dan kesatuan kaum muslimin…

Berita buruk…bagi kami…

Jumlah rijal memang sedikit…

Apalagi yang sholeh…

Engkau juga tahu… diacara-acara pengajian umum yang kita ikuti dahulu, berapa banyak  jumlah rijal yang ikut?

Saat kita menyeru penguasa untuk menegakkan syariat Allah … engkau juga melihat berapa banyak rijal yang ikut dibanding kita..?

Tahukah saudariku….

Dalam setiap do’a… kami bermohon kepada Allah…

Kami ingin seperti dirimu… dapat menyempurnakan separuh lagi agama kami…

Oh betapa senangnya dirimu…

Engkau dapat berkhitmad untuk menjalankan hukum-hukum Allah bersama suamimu..

Yang saat ini kami tidak mungkin melakukannya…

Begitu banyak pahala seorang isteri yang menunggu kepulangan suaminya setelah beraktivitas… dengan kerinduan karena Allah… dan itu tidak mungkin bagi kami…

Begitu besarnya pahala seorang isteri.. ketika dia mengurus suami dan anak-anaknya…

Bahkan Baginda Rasulullah SAW. mengatakan pahala mereka seperti pahala Jihad… subhanallah… kami sangat menginginkannya juga wahai saudariku…

Karena Kami ingin memperoleh jaminan surga itu…

Engkau katakan dulu kepada kami sabda baginda… keridho’an seorang lelaki sholeh kepada isterinya akan menghantarkan isterinya itu ke surga….

Sungguh telah sempurna agamamu saudariku…

Kami belum bisa mencapainya… tapi kerinduan kami tentulah sangat besar…

Apa yang akan terjadi dengan kami… wahai saudariku…

Jika memang ikhwan yang kami tunggu… tak jua datang…

Karena memang jumlah mereka tidak mencukupi bagi kami…

Allah yang Maha Mengerti… memberikan solusi… yang kami tak berani untuk memintanya kepadamu…

Kami takut akan mengganggu kebahagiaanmu saudariku…

Tapi terkadang kami berkata dalam hati…

“Masihkah engkau mau berbagi kepada kami… seperti dulu…

Sudikah engkau membagi cintamu kepada kami….

Agar kami juga merasakan nikmatnya taat kepada suami…

Nikmatnya pahala melayani mereka…

Agar kami dapat melahirkan anak-anak sholeh dan sholehah…

Generasi penerus perjuangan kita….

Yang menjadi kebanggaan jungjungan kita Rasulullah SAW…

Karena banyaknya pengikut baginda di hari akhir nanti….

Agar kami berkesempatan menyempurnakan agama kami…

Agar setiap hari kami mendulang pahala jihad… seperti dirimu….

Tapi kami malu… kami malu

Kepadamu saudariku….

Kami juga khawatir… sangat khawatir

Bayangkanlah.. jika saudarimu ini kemudian menikah dengan seorang rijal yang tak bertanggung jawab… karena di minta menikah oleh orang tua kami…

Mungkin ada yang berkata “Itulah ujian bagimu…”… padahal engkau dapat meringankan ujian hidup kami itu saudariku…

Bayangkanlah jika kami para nisa yang belum diberikan pendamping hidup ini terpaksa harus bersanding dengan rijal yang tak peduli dengan umat… rijal yang hanya sibuk dengan urusan dunia nya saja…

Karena kami tidak lagi kuat dengan perkataan masyarakat sebagai “perawan tua”…

Jikalah kami bisa memilih… maka menjadi orang kedua dihati suamimu pun… kami tak mengapa…

Karena itu tidak menjadikan kami terhina di mata Tuhan kita… Allah SWT…

Bahkan itu menjadi kebanggaan kami … karena perasaan dan hawa nafsu telah bertekuk lutut dibawah keimanan kami…

Jika engkau pun menerimanya… tentulah itu menjadi pahala yang besar di sisi Allah…

Dan tentu saja… hawa nafsu dan setan telah tersungkur di bawah kaki ketaqwaan dan kasih sayangmu karena Allah….

Saat kami melihat kalian… berjalan berdampingan… begitu bahagia…

Ada iri di hati kami…

Saat engkau bercerita… diskusi kalian tentang Islam…

Diskusi kalian tentang uslub dakwah terbaru…

Diskusi kalian tentang cita-cita mulia di masa depan…

Kami hanya tersenyum…

Kami bahagia saudariku… tapi kami juga kecut hati…

Tidak kah kau lihat senyum kami… disana ada harapan yang sama…

Ada kesedihan… ada rasa iri… iri yang baik karena Allah…

Dengan satu pertanyaan “kapankah kami seperti dirimu juga?”

Tapi kami harus terus bersabar … tidak boleh sembarang rijal yang kami pilih…

Tapi kami juga harus sadar… bahwa rijal yang sholeh yang kami tunggu jumlahnya tidaklah sebanding dengan kami…

Tidak mungkin kami memiliki cerita sepertimu… jika rijal yang menikahi kami… tidak seperti rijalmu…

Saudariku Engkau mungkin berkata … “bersabarlah… Allah akan berikan jodoh yang baik…”

Perkataan mu menghibur hati kami, walau hanya sesaat…

Memberikan semangat walau hanya sekerlipan mata…

Karena sebenarnya engkau juga tahu…

Kami sudah lama siap menikah… dan engkaupun mencoba mencarikan pasangan hidup kami….

Engkau tahu… dan sadar betapa sulitnya…

Kini di tanganmu tidak hanya ada biodataku… tapi juga satu, dua, tiga , empat, lima, enam,….. biodata saudarimu yang lain seperti aku….

Kami menunggu….

Saudariku…

Bukankah kami adalah saudarimu…

Sebagaimana engkau bilang di setiap pengajianmu…

“Barang siapa yang tidak peduli dengan urusan kaum muslimin maka ia tidak termasuk golongan kaum muslimin“..

Sekedar bersabarkah kami…

Walau sebenarnya kami rela berbagi dengan mu…

Tapi maukah engkau berbagi juga dengan kami….

Bersama kita membina keluarga… engkau membimbing anak-anakku… karena aku sangat mempercayai dirimu… begitupun engkau sebaliknya…

Kita jadikan mereka bersama… pembela-pembela Islam terpercaya…

Mungkinkah itu…

Maukah kamu…

Ah kami tak berani mengatakannya kepadamu….

Kami tetap takut… dan kami malu memintanya kepadamu…

Karena Kami khawatir akan mengganggu kebahagiaan dirimu… karena kami sayang kepadamu…

Kami hanya menunggu…

Menunggu disini…

Melewati hari-hari dan malam-malam kami hanya dengan harapan…

Entah sampai kapan…

Bukankah Allah Maha Adil…?

Tapi apakah keadilan Allah dengan memberikan setiap nisa satu orang rijal..?

Lalu mengapa jumlah rijal yang sholeh begitu sedikit?

Kami yakin Allah Maha Adil…

Hanya manusia saja yang sulit untuk berbagi…

Jika tidak kepada engkau saudariku… lalu kepada siapa lagi kami berharap…

Kami bermohon kepada Allah agar kami kuat dalam kesabaran….

Saudarimu

Di Bumi Allah

Nasihat Dari Seorang Kakak

Ini adalah nasihat dari seorang kakak, dari hamba Allah kepada adik-adiknya para nisa yang dirahmati Allah.

 

Ba’da tahmid dan sholawat, saudariku sesungguhnya Allah SWT tidak memandang kepada rupa dan harta serta kedudukan kita di dunia, akan tetapi yang ditatap oleh Allah adalah apa yang ada dihati kita dan amal-amal yang kita lakukan.

 

Ukhti… Allah telah menetapkan kepada kita semua sebuah aturan main, undang-undang kehidupan. Yang jika kita mentaatinya maka hanya kebahagiaanlah yang akan Allah anugerahkan kepada kita. Sedang jika kita berpaling maka kesempitan dan kesengsaraanlah yang akan kita peroleh.

Ukhti… ditengah-tengah tuntutan persamaan hak dan kesetaraan yang dituntut oleh saudari-saudarimu sesama wanita sungguh menimbulkan kesedihan yang luar biasa bagi kehidupan manusia. Mereka menuntut persamaan dalam segala hal. Padahal sesungguhnya laki-laki dan wanita itu tidaklah sama. Allah telah mrnciptakan bagi mereka potensi yang berbeda yang dengan mudah nampak pada bentuk fisik mereka. Lembut dan  halusnya tubuh wanita adalah agar anak-anak mereka merasa nyaman dalam dekapan bundanya. Kokoh dan kuatnya fisik laki-laki agar mereka dapat melindungi, menafkahi isteri dan ankanya. Allah juga telah membagi peran yang berbeda bagi mereka semua.

Banyak dari kaum wanita yang memilih karier diluar rumah dari pada karir didalam rumahnya sendiri. Mereka lebih bangga jika dapat bekerja diluar rumah, menjadi wanita karir bersaing dengan laki-laki. Dan mereka tidak mempedulikan lagi bagaimana karir mereka dihadapan Allah ketika mereka meninggalkan tugas agung dan mulia dalam rumah tangganya.

Tahukah ukhti… bahwa tinggalnya seorang wanita dirumah mengurusi keluarganya dan memenuhi kebutuhan suaminya akan dibalas oleh Allah dengan pahala yang sangat besar. Pahala jihad. Dan jihad itu bagi kebanyakan laki-laki adalah sesuatu yang sangat berat.

Juga tahukah ukhti… mengutamakan kepentingan keluarga dan anak-anak adalah kewajiban agung yang akan dibalas oleh Allah dengan surganya.

Dalam riwayat Anas bin Malik Rasulullah bersabda : “Maukah kuberitahukan calon-calon ahli sorga dari kaum wanita.” Para sahabat mengiyakan. Nabi berkata.”Salah satu calonnya adalah istri yang penyayang dan subur rahimnya. Kalau dirinya diperlakukan, ditegur atau dimarahi oleh suaminya, ia berkata, “kupasrahkan diriku ini kepadamu. Saya tak akan tidur sampai kamu rela kepadaku.” (HR. Thabrani). Bahkan dalam kesempatan lain rasulullah bersabda, ”Surgamu dan nerakamu sangat bergantung pada sikapmu terhadap suamimu” (HR. Ahmad)

 

Wahai ukhti…. Pekerjaan terbaik dan termulia bagi para wanita  di sisi Allah adalah pekerjaan mengurusi rumah tangganya. Namun betapa sedikit wanita yang bercita-cita memiliki pekerjaan ini dan apalgi melakukannya secara professional dalam menunaikannya. Mereka lebih suka memilih jabatan diluar rumahnya daripada pekerjaan yang mulia ini.

Anti semua adalah calon ibu yang seharusnya melahirkan orang-orang besar dan para mujahid. Bagaimanakah jika kalian kehabisan waktu dalam mendidik anak-anak kalian… dan hanya memberikan waktu-waktu sisa setelah pulang bekerja dalam keadaan yang lelah.

 

Dalam Islam Istri wajib tinggal dirumah kecuali jika ada keperluan yang diperbolehkan syara untuk keluar rumah. Sebagaimana disebutkan dalam qur’an surah al ahzab ayat 33. Imam Ibnu Katsir menjelasakan ayat ini diantaranya dengan hadits nabi. ”Wanita adalah aurat. Bila ia keluar rumah maka setan akan terus mengikutinya. Wanita akan berada paling dekat dengan Tuhannya -yakni dengan rahmat dan ridhoNya- pada saat ia berada dalam rumah.”

Bahkan shalat wanita didalam rumah lebih baik dari pada ia sholat berjamaah di masjid (luar rumah).

Wahai ukhti… sungguh tak ada tujuan akhir kita kecuali keridhoan Allah Ta’ala. Begitupun seharusnya kita juga memahami bahwa waktu kita didunia terlalu berharga jika kita habiskan untuk bermaksyiat kepada Allah. Bahkan ia masih sangat berharga jika terlalu banyak dihabiskan untuk hal-hal yang mubah.

Pekerjaan bagi wanita adalah mubah… bukan sunnah atau wajib. Dan tidak akan berubah hukumnya selama masih ada laki-laki di dunia ini. Namun dalam kemubahannya itu ia akan berubah jika sudah ada akad dengan orang lain untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. kewajibannya adalah karena akadnya itu sendiri.

Apapun alasannya pekerjaan tetaplah mubah bagi wanita walaupun dengan alasan untuk dakwah. Karena yang wajib adalah dakwahnya bukan pekerjaannya. Dalam hal ini tidak bisa dipaksakan kaidah syara “Sebuah kewajiban tidak terlaksana karena sesuatu maka sesuatu itu menjadi wajib”, kewajiban dakwah bagi wanita tetaplah bisa dilaksanakan tanpa harus bekerja di sektor publik. Bahkan ia menjadi haram ketika pekerjaan tersebut membuat ia lalai terhadap kewajiban-kewajiban utamanya dan ia tak sanggup menjaga interaksi atau pergaulannya dengan teman-teman kerjanya.

Oleh karena itu nasihat kakak bagi kalian semua adik-adikku calon isteri, calon ibu, para ibu dan pengemban dakwa (haml al-dakwah) untuk lebih berhati-hati dalam memilih pekerjaan (walaupun kakak tetap lebih menganjurkan untuk tidak terjun memasuki dunia kerja) dan berpikir serta mempertimbangkannya dengan sangat mendalam ketika akan terjun kedunia kerja. Jikapun ukhti harus bekerja, nasihat kakak:

  1. Pilihlah pekerjaan yang tidak banyak menyita waktu, apalagi sampai menghabiskan waktu seharian dan ikut lembur sampai malam.
  2. Buat akad diawal bahwa kalau berbenturan dengan peran utama ukhti sebagai anak, isteri atau ibu (misalnya anak sakit, suami sakit, atau berbenturan dengan urusan domestik rumah tangga yang penting ataupun agenda dakwah) maka urusan kerja harus ditinggalkan.
  3. Aturlah waktu agar peran-peran utama dalam kehidupan (sebagai anak, istri, ibu, pengemban dakwah) dapat dilakukan sesuai dengan kewajibannya.
  4. Pilihlah pekerjaan yang dapat mengoptimalkan peran utama sebagai wanita, sebagai ibu dan pengatur rumah tangga serta sebagai pengemban dakwah. Beberapa pekerjaan yang cocok buat muslimah adalah menjadi penulis lepas, konsultan atau apapun pekerjaan yang bisa dilakukannya dari rumah sehingga ia tetap bisa memperhatikan keluarganya.

 

Janganlah kita memperturutkan hawa nafsu, tundukkanlah ia dibawah perintah Allah dan RasulNya. Bagaimanalah kita berharap mendapat ridhoNya jika kita selalu berpaling dari peringatanNya.

 

Sesungguhnyalah kebahagiaan hidup itu dalam naungan keridho’anNya.

 

Yaa Allah saksikanlah. Kami sudah sampaikan.

Istimewanya Seorang Wanita

Kaum feminis bilang susah jadi wanita, lihat saja peraturan dibawah ini:

  1. Wanita auratnya lebih susah dijaga (lebih banyak) dibanding lelaki.
  2. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.
  3. Wanita saksinya (apabila menjadi saksi) kurang berbanding lelaki.
  4. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki.
  5. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung Dan melahirkan anak.
  6. Wanita wajib taat kepada suaminya, sementara suami tak perlu taat pada isterinya.
  7. Talak terletak di tangan suami Dan bukan isteri.
  8. Wanita kurang dalam beribadat karena adanya masalah haid dan nifas yang tak Ada pada lelaki.

 

Itu sebabnya mereka tidak henti-hentinya berpromosi untuk “MEMERDEKAKAN
WANITA”.

 

Pernahkah Kita lihat sebaliknya (kenyataannya) ?

  1. Benda yang Mahal harganya akan dijaga Dan dibelai serta disimpan ditempat yang teraman Dan terbaik. Sudah pasti intan permata tidak akan dibiar terserak bukan? Itulah bandingannya dengan seorang wanita.
  2. Wanita perlu taat kepada suami, tetapi tahukah lelaki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama daripada kepada bapaknya?
  3. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki, tetapi tahukah harta itu menjadi milik pribadinya Dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya, sementara apabila lelaki menerima warisan, Ia perlu/wajib juga menggunakan hartanya untuk isteri dan anak-anak.
  4. Wanita perlu bersusah payah mengandung Dan melahirkan anak,tetapi
    tahukah bahwa setiap saat dia didoakan oleh segala makhluk, malaikat
    Dan seluruh makhluk ALLAH di muka bumi ini, Dan tahukah jika ia mati
    karena melahirkan adalah syahid Dan surga menantinya.
  5. Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggungjawabkan terhadap! 4 wanita, yaitu : Isterinya, ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya. Artinya, bagi seorang wanita tanggung jawab terhadapnya ditanggung oleh 4 orang lelaki,yaitu : suaminya, ayahnya, anak lelakinya Dan saudara lelakinya.
  6. Seorang wanita boleh memasuki pintu syurga melalui pintu surga yang mana saja yang disukainya, cukup dengan 4 syarat saja, yaitu:sembahyang 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, taat kepada suaminya Dan menjaga kehormatannya.
  7. Seorang lelaki wajib berjihad fisabilillah, sementara bagi wanita jika taat akan suaminya, serta menunaikan tanggungjawabnya kepada ALLAH, maka ia akan turut menerima pahala setara seperti pahala orang pergi berjihad fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.

 

Masya ALLAH ! Demikian sayangnya ALLAH pada wanita Ingat firman Nya, bahwa mereka tidak akan berhenti melakukan segala upaya, sampai Kita ikut / tunduk kepada cara-cara / peraturan Buatan mereka. (emansipasi Ala western)

Yakinlah, bahwa sebagai dzat yang Maha Pencipta, yang menciptakan kita, maka sudah pasti Ia yang Maha Tahu akan manusia, sehingga segala Hukumnya / peraturannya, adalah YANG TERBAIK bagi manusia dibandingkan dengan segala peraturan/hukum buatan manusia.

Jagalah isterimu karena dia perhiasan, pakaian dan ladangmu, sebagaimana Rasulullah pernah mengajarkan agar Kita (kaum lelaki) Berbuat baik selalu (gently) terhadap isterimu.

 

Adalah sabda Rasulullah bahwa ketika kita memiliki dua atau lebih anak perempuan, mampu menjaga Dan mengantarkannya menjadi muslimah Yang baik, maka surga adalah jaminannya. (untuk anak laki2 berlaku kaidah yang berbeda).

Berbahagialah wahai para muslimah. Jangan risau hanya untuk apresiasi absurd dan semu di dunia ini. Tunaikan Dan tegakkan kewajiban agamamu, niscaya surga menantimu.