IKUT PEMILU BAGAIMANA HUKUMNYA?

Assalamu’alaikum wr.wb

Ustadz Ana diajak teman untuk ikut memilih partainya dalam pemilu ini. “Ini adalah partai politik Islam. Ikut pilih ini saja, kita memperjuangkan Islam dari dalam parlemen” katanya. Tapi ana ragu, karena selama ini parta tersebut juga sebenarnya sudah lama di parlemen, tapi hukum-hukum di negeri ini tetap saja tidak berubah malah bertambah buruk menurut saya. Bagaimanakah sebenarnya ikut pemilu di masa sekarang Ustadz. Mohon penjelasan ustadz? Terimakasih.

25 Syawal 1429H

Hamba Allah

Yogyakarta

Jawab:

Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabaraktuh

Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu di jelaskan beberapa hal, yaitu:

  1. Fakta Pemilu Saat Ini
  2. Dakwah Via Parlemen dan Hukum Keterlibatan Dalam Pemilu Saat ini

Pertama, fakta pemilu. Pemilu (pemilihan umum) adalah suatu cara (uslub) untuk memilih seseorang sebagai pemimpin atau orang-orang yang akan mewakili para pemilih dalam melaksanakan suatu kepemimpinan (dalam hal ini adalah pemerintahan).

Pemilu dalam negara kita saat ini telah meluas dan berkembang, jika dulu sekali pemilu hanya dilakukan untuk memilih wakil-wakil rakyat (MPR/DPR) yang kemudian memilih presiden dan wakilnya. Saat ini pemilu sudah berkembang tidak hanya MPR/DPR (Legislatif) tapi juga memilih presiden dan wakilnya (eksekutif) secara langsung. Begitu juga pemilu di daerah-daerah yang sudah sampai kepada pemilu kepala dukuh (desa) dengan metode yang sama kampanye dan pencoblosan di bilik suara. Karena begitu meluasnya pemilu di Indonesia dengan begitu banyak partai politik saat ini menjadikan Indonesia mampu mengalahkan Amerika Serikat untuk menjadi ‘kampiun demokrasi’. Tapi rakyat tetap saja menderita. Naudzubillah.

Pemilu di negara kita saat ini adalah untuk memilih orang-orang yang akan menetapkan hukum (membuat Undang-Undang) via parlemen yang bernama DPR dan orang-orang yang melaksanakan hukumnya yaitu Presiden dan wakilnya kepada seluruh rakyatnya. Sedangkan berbagai macam partai yang ada adalah satu-satunya kendaraan yang dapat menghantarkan mereka ke singgasana negara ataupun ke ruang sidang agung gedung DPR yang ‘terhormat’. Inilah fakta ssesungguhnya dari proses pemilu yang ada. Semua orang dari warga negara baik muslim maupun tidak, maka semuanya boleh menjadi anggota legislatif ini. Setiap UUD ataupun UU yang akan dibuat maka harus melalui permusyawaratan semua anggota DPR, jika tidak terjadi kesepakatan maka terjadi lobi-lobi politik, jika tidak tercapai juga maka voting. Sehingga lahirlah berbagai macam UU yang ‘dinikmati’ rakyat saat ini.

Rakyat —- > DPR/MPR & Presiden/wakil —- > Buat UU & Pelaksana —– > Rakyat

Kedua, dakwah via parlemen. Dakwah via parlemen yang dimaksud adalah dakwah berada di dalam sistem parlemen, baik menjadi legislatif maupun ekskutif bahkan mungkin yudikatif (menjadi hakim, jaksa agung dan sebagainya). Untuk hukum menjadi hakim telah kami sampaikan pada jawaban kami kepada nisa di jawa barat tentang calon suaminya yang hakim.

Parlemen di berbagai negeri muslim, termasuk di Indonesia, pada dasarnya merupakan hasil ‘jiplakan’ sistem parlemen di negara demokrasi, dan melakukan apa yang dilakukan oleh parlemen tersebut, yaitu : legislasi hukum, memberikan dan mencabut mandat kepada para penguasa, meski hanya simbolik.

Apa yang kita hukumi bukanlah negaranya, melainkan dalam konteks aktivitas yang dilakukannya, yaitu aktivitas legislatif, memberikan dan mencabut mandat kepada para penguasa, menjadi anggota parlemennya, mencalonkan diri menjadi anggotanya dan memilih para calon legislatif maupun eksekutifnya.

Aktivitas legislasi hukum-hukum kufur adalah haram,

Parlemen ini akan melakukan legislasi (pembuatan dan penetapan) sistem dan perundang-undangan non-Islam, bahkan bertentangan secara mendasar dengan Islam. Karena itu, parlemen tersebut melakukan legislasi sistem dan perundang-undangan Kufur, dan itu merupakan aktivitas yang diharamkan oleh Islam. Islam bahkan telah menganggapnya sebagai masalah penuhanan (rubûbiyyah). Allah SWT. berfirman:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ

”Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masih putera Maryam” (Q.s. at-Taubah: 31)

Islam juga telah menganggapnya sebagai bentuk berhukum kepada Taghut, yang justru kita telah diperintahkan agar mengingkarinya. Allah berfirman:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ ءَامَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلاَلاً بَعِيدًا

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya”. (Q.s. an-Nisa’: 60)

Dan penetapan hukum via parlemen ini juga bukan jalan orang Mukmin. Allah berfirman:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (Q.s. an-Nisa’: 115)

Disamping itu, aktivitas tersebut juga tidak sesuai dengan tuntunan kaum Muslim yang Rasulullah ajarkan, maka aktivitas tersebut tertolak. Berdasarkan sabda Nabi saw. sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Muslim dari Aisyah, yang menyatakan: Rasulullah saw. bersabda:

من عمل عملا ليس عليه امرنا فهو رد

“Siapa saja yang melakukan aktivitas, sementara aktivitas itu tidak sesuai dengan tuntunan kami, maka aktivitas itu akan tertolak.”

Aktivitas Memberikan dan Mencabut Mandat

Sedangkan memberikan mandat kepada para penguasa untuk melaksanakan sistem dan undang-undang Kufur sama artinya dengan rela terhadap pemerintahan yang tidak berdasarkan apa yang telah diturunkan oleh Allah, dan tolong-menolong dalam perbuatan dosa, mendukung orang-orang zalim. Dan, Allah telah mengharamkan semuanya itu kepada orang-orang Mukmin.

Inilah hukum keterlibatan dalam aktivitas legislatif (pembuatan hukum) dan pemberian mandat kepada para penguasa di parlemen.

Aktivitas Pencalonan Diri Menjadi Anggota Parlemen ataupun Eksekutif

Adapun hukum pencalonan anggota majelis ini, maka harus dikaji terlebih dahulu;

  1. Jika pencalonan tersebut dimaksud untuk menjadikan parlemen sebagai mimbar untuk mengemban dakwah dalam rangka mengembalikan pemerintahan berdasarkan apa yang telah diturunkan oleh Allah, atau mimbar untuk mengoreksi pemerintahan—yang memerintah—berdasarkan hukum-hukum Kufur, atau mimbar untuk mengoreksi para penguasa berdasarkan hukum-hukum Islam, maka semuanya itu diperbolehkan, dan tidak ada masalah.
  2. Namun, jika pencalonan tersebut dimaksud untuk mendapatkan keanggotaan dan terlibat dalam seluruh proses yang dilakukan oleh parlemen, seperti aktivitas legislatif, pemberian mandat kepada para penguasa dan aktivitas-aktivitas lain, maka hal itu hukumnya haram, karena itu merupakan sarana yang mengantarkan pada keharaman—yaitu keterlibatan dalam membuat hukum-hukum Kufur dan pemberian mandat kepada orang-orang yang zalim— sedangkan sarana yang mengantarkan pada keharaman itu statusnya diharamkan.

Sampai saat ini, kami tidak menemukan satupun partai politik Islam baik dari yang mengikuti PEMILU atau yang telah berada di Legislatif melakukan aktivitas dakwah secara terang-terangan dalam hal mengembalikan pemerintahan berdasarkan apa yang telah diturunkan oleh Allah, atau  menjadikan parlemen sebagai mimbar untuk mengoreksi pemerintahan—yang memerintah—berdasarkan hukum-hukum Kufur, atau mimbar untuk mengoreksi para penguasa berdasarkan hukum-hukum Islam, yang terjadi adalah kompromi-kompromi terhadap hukum-hukum kufur yang ada. Kita bisa melihat dari jargon-jargon kampanye yang mereka serukan. Atau dari berbagai macam Undang-Undang yang telah lahir dari hasil permusyawaratan mereka.

Aktivitas Pemilihan Calon Anggota Legislatif dan Eksekutif (presiden dan wakilnya)

Adapun hukum pemilihan calon anggota legislatif, maka harus dikaji terlebih dahulu;

  1. Jika hal itu dilakukan untuk memilih orang yang dicalonkan dalam rangka menjadikan parlemen tersebut sebagai mimbar dakwah kepada Islam untuk mengembalikan pemerintahan berdasarkan apa yang telah diturunkan oleh Allah, atau mimbar untuk memerangi pemerintahan—yang memerintah—berdasarkan hukum-hukum Kufur, atau mimbar untuk mengoreksi para penguasa, maka hal itu diperbolehkan, dan tidak ada masalah.
  2. Namun, jika dilakukan untuk memilih orang yang ingin menjadi anggota parlemen, agar mereka bisa terlibat dalam proses yang dilakukan oleh parlemen,  seperti aktivitas legislatif, pemberian mandat kepada para penguasa dan aktivitas-aktivitas parlemen yang lain, maka itu hukumnya haram.

Kaum Muslim juga tidak diperbolehkan untuk terlibat dalam pemilihan mereka. Sebab itu merupakan sarana yang mengantarkan pada keharaman, dan tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan, sementara sarana yang akan mengantarkan pada keharaman hukumnya diharamkan. Demikian juga tolong-menolong dalam perbuatan dosa juga telah diharamkan oleh Islam. Allah berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُوا عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya (Q.s. al-Maidah: 02).

Sedangkan untuk berdakwah merubah kondisi yang ada saat ini maka wajib mengikuti metode (Thariqah) dakwah Rasulullah saja. Selain thariqah dakwah beliau maka kaum muslim dilarang untuk mengikutinya. Sedangkan uslub (teknik dan cara) dakwah adalah hal yang mubah sesuai kondisi dan kreativitas para pengemban dakwah. Tentag hal ini yaitu thariqah dakwah Rasulullah illa taghyir (kepada perubahan mendasar) akan kami samapaikan pada kesempatan yang lain InsyaAllah. Wallahu’alam bi ash showwab.

3 Dzulqa’idah 1429 H

Al Faqir Illa Allah

Fauzan Al Banjari

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s