HUKUM AQIQAH DAN MENGAQIQAHKAN ORANG LAIN

Soal:

Bagaimana dengan hukum aqiqah anak, bolehkah kita  mengaqiqahkan anak yatim?

Januari 2008 Sukma-Yogyakarta

Jawab:

Pengertian Aqiqah

Aqiqah adalah hewan yang disembelih untuk anak. Asal katanya al ‘aqqu yang berarti belah dan potong. Karena hewan tersebut dibelah dan dipotong kerongkongannya. Atau ‘aqiqah juga berarti sebuah nama rambut yang tumbuh di atas kepala bayi yang tumbuh saat di dalam perut ibunya. (Subulus Salam juz IV, hal 407)

Imam Zamahsyari mengatakan : ”Rambut yang dibawa sejak kelahirannya itulah asal ‘aqiqah.” Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya “Tuhfatul Maudud” hal.25-26, mengatakan bahwa: Imam Jauhari berkata : Aqiqah ialah “Menyembelih hewan pada hari ketujuhnya dan mencukur rambutnya.” Selanjutnya Ibnu Qayyim rahimahulloh berkata :

“Dari penjelasan ini jelaslah bahwa aqiqah itu disebut demikian karena mengandung dua unsur diatas dan ini lebih utama.”

Imam Ahmad rahimahulloh dan jumhur ulama berpendapat bahwa apabila ditinjau dari segi syar’i maka yang dimaksud dengan aqiqah adalah makna berkurban atau menyembelih (An-Nasikah).

Hukum Aqiqah

Ada beberapa perbedaan pendapat tentang hukum aqiqah antara wajib dan sunnah. Menurut mayoritas ulama bahwa aqiqah itu sunnah. (Subulus Salam juz IV, hal 409). Al-Allamah Imam Asy-Syaukhani rahimahulloh berkata dalam Nailul Authar (6/213) : “Jumhur ulama berdalil atas sunnahnya aqiqah dengan hadist Nabi dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah bersabda : “Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kelahiran bayi maka hendaklah ia lakukan untuk laki-laki dua kambing yang sama dan untuk perempuan satu kambing.” [Sanadnya Hasan, Hadits Riwayat Abu Dawud (2843), Nasa’I (7/162-163), Ahmad (2286, 3176) dan Abdur Razaq (4/330), dan shahihkan oleh al-Hakim (4/238)]

Juga hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Imam Malik dan Abu Dawud, berdasarkan sabda Rasulullah saw: “Barangsiapa yang ingin menyembelih (hewan ‘aqiqah) untuk anaknya maka lakukanlah, dan barang siapa yang tidak ingin maka tinggalkanlah.

Bagi mereka yang mewajibkan aqiqah mereka berdalil dengan hadits Nabi dari Samurah r.a. Rasulullah bersabda: “Setiap anak tergadai dengan ‘aqiqahnya, disembelih aqiqah itu untuk dia (anak) pada hari ke tujuh dari kelahirannya, dia dicukur dan diberi nama.” (HR. Ahmad dan al-Arba’ah yaitu, Abu Dawud, At Tirmidzi, an Nasai, dan Ibnu Majah).

Dan juga hadits dari Aisyah r.a: “Sesungguhnya Rasulullah saw. Memerintahkan mereka aqiqah untuk anak laki-laki itu dua ekor kambing dan dalam riwayat yang sama, dan untuk anak perempuan seekor kambing.” (HR Tirmidzi). [lihat subulus salam, hal 411)

Dari kedua pendapat tersebut, kami memiliki pemahaman bahwa hukum Aqiqah adalah sunnah mu’akadah (sunah yang sangat dianjurkan). Hal ini berdasarkan pemahaman bahwa kalimat perintah pada hadits yang diriwayatkan Tirmidzi dari Aisyah hanya menunjukkan tuntutan saja sedang kewajiban harus ditunjukkan oleh adanya indikasi (qorinah) lain yang lebih tegas.  Sebagaimana kaidah syara’ :  Al-Ashlu fi al-amri li ath-thalab (“Perintah itu pada asalnya adalah sekedar menunjukkan adanya tuntutan.” ). (An-Nabhani, Taqiyuddin, Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah. Juz III. Al-Quds : Mansyurat Hizb Al-Tahrir 1953).

Dua hadits di atas merupakan qarinah (indikasi/petunjuk) bahwa ‘aqiqah adalah sunnah. Hadits Rasulullah yang diriwayatkan at Tirmidzi dari Aisyah “Sesungguhnya Rasulullah saw. Memerintahkan mereka aqiqah” adalah tuntutan untuk melakukan aqiqah (thalabul fi’li). Sedang hadits Imam Malik dan Abu Dawud, “Barangsiapa yang ingin menyembelih (hewan ‘aqiqah) untuk anaknya maka lakukanlah, dan barang siapa yang tidak ingin maka tinggalkanlah.”, merupakan qarinah bahwa thalabul fi’li yang ada pada hadits at Tirmidzi tidak bersifat jazim (keharusan), tetapi bersifat ghairu jazim (bukan keharusan).

Selain itu juga,  mengamalkan semua dalil adalah lebih utama dari pada meninggalkan salah satunya, sesuai kaidah syara: Al-ashlu fi ad-dalil al-i’mal laa al-ihmal. “Pada dasarnya dalil itu adalah untuk diamalkan (semuanya), bukan untuk ditanggalkan (salah satunya).”  (Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani, Asy-Syakhshiyyah Al-Islamiyyah, Juz I, hal. 239). Juga kaidah syara’: Al-‘amal bi ad-dalilaini –walaw min wajhin– awlaa min ihmali ahadihima (“Mengamalkan dua dalil –walau pun hanya dari satu segi pengertian— lebih utama daripada meninggalkan salah satunya.”) (Abdullah, 1995 : 390). Dari sini kami mengambil pemahaman bahwa hukum ‘aqiqah adalah sunnah mu’akadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Wallahu’alam.

Waktu Pelaksanaan Aqiqah

Dari Anas r.a. beliau berkata: Rasulullah saw. Bersabda: “Anak itu di aqiqahkan pada hari ketujuh dari kelahirannya….” (HR. Ibnu Hibban).

Rasulullah pernah mengaqiqahkan Hasan dan Husain. Dan pelaksanaannya adalah pada hari ketujuh. Dari Ibnu Abbas r.a : “Sesungguhnya Nabi saw mengaqiqahkan Hasan dan Husain masing-masing satu ekor kibas.” (HR. Abu Dawud). Sedang dalam riwayat al Baihaqi, al Hakim dan ibnu Hibban yang berasal dari aisyah ada tambahan matan: “Aqiqahnya itu pada hari ketujuh dan beliau memberi nama keduanya, dan beliau menyuruh supaya dibersihkan kotoran dari kepala keduanya.”

Berdasarkan hadist tersebut para ulama berpendapat dan sepakat bahwa waktu aqiqah yang paling utama adalah hari ketujuh dari hari kelahirannya. Namun mereka berselisih pendapat tentang bolehnya melaksanakan aqiqah sebelum hari ketujuh atau sesudahnya. Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahulloh berkata dalam kitabnya “Fathul Bari” (9/594) : “Sabda Rasulullah pada perkataan ‘pada hari ketujuh kelahirannya’, ini sebagai dalil bagi orang yang berpendapat bahwa waktu aqiqah itu adanya pada hari ketujuh dan orang yang melaksanakannya sebelum hari ketujuh berarti tidak melaksanakan aqiqah tepat pada waktunya. bahwasannya syariat aqiqah akan gugur setelah lewat hari ketujuh. Dan ini merupakan pendapat Imam Malik. Beliau berkata: “Kalau bayi itu meninggal sebelum hari ketujuh maka gugurlah sunnah aqiqah bagi kedua orang tuanya.”

Sebagian membolehkan melaksanakannya sebelum hari ketujuh. Pendapat ini dinukil dari Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitabnya “Tuhfatul Maudud” hal.35. Sebagian lagi berpendapat boleh dilaksanakan setelah hari ketujuh. Pendapat ini dinukil dari Ibnu Hazm dalam kitabnya “al-Muhalla” 7/527.

Tidak Ada Tuntunan Bagi Orang Dewasa Untuk Beraqiqah

Sebagian ulama mengatakan : “Seseorang yang tidak diaqiqahi pada masa kecilnya maka boleh melakukannya sendiri ketika sudah dewasa”. Mungkin mereka berpegang dengan hadist Anas yang berbunyi : “Rasulullah mengaqiqahi dirinya sendiri setelah beliau diangkat sebagai nabi.” Al Baihaqi berpendapat bahwa hadits ini munkar, sedangkan menurut Imam Nawawiy: hadits ini bathil.

Kami belum ada menemukan satupun dalil tentang aqiqah bagi orang dewasa. Sehingga pendapat kami bahwa ‘aqiqah adalah untuk anak yang belum baligh dan yang utama adalah pada hari ketujuh dan tidak ada ‘aqiqah untuk orang dewasa. Wallahu’alam.

Mengaqiqahkan Orang Lain.

Diperbolehkan selain wali anak, untuk mengurusi sembelihan nasikah dan tidak ada larangan dalam hal itu. Dalilnya adalah ucapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari hadits Samurah Radhiyallahu ‘anhu.

Berkata Al-Allamah Asy-Syaukani dalam Nailul Authar (5/133) : “Ucapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “disembelih untuknya” ada dalil di dalamnya bahwa boleh bagi orang lain untuk mengurusi penyembelihan nasikah tersebut, sebagaimana bolehnya kerabat mengurusi kerabatnya dan seseorang mengurusi dirinya”.

Dalil kebolehannya adalah hadits dari Ibnu Abbas tentang Rasulullah saw. Yang mengaqiqahkan Hasan dan Husain.

Jika seseorang ingin mengaqiqahi orang lain (termasuk anak yaitim), maka hukumnya boleh, dan sunnah bagi anak yang masih belum baligh dan lebih utama ketika mereka berumur 7 hari. Wallahu’alam.

23 Januari 2009

Fauzan al Banjari

About these ads

15 thoughts on “HUKUM AQIQAH DAN MENGAQIQAHKAN ORANG LAIN

    • Untuk mereka yang mengaqiqahkan anaknya lebih dari hari ketujuh hukumnya boleh (jaiz). Sebagaimana yang menjadi pendapat beberapa ulama yang telah kami sampaikan pada artikel. hanya menurut kami jika memang terlanjur untuk dilakukan setelah tujuh hari kelahiran maka lebih afdhol jika dilakukan sebelum baligh, karena bagi mereka yang telah dewasa sepengetahuan kami tidak ada dalil yang dapat diajdikan sandaran untuk aqiqah. wallahu’alam

  1. Kalo orang yang sudah meninggal apa bisa di akikah kan?contoh nya bapak mertua saya yang sudah meninggal lalu ibu mertua saya ingin meng akikahkan bapak mertua saya itu.mohon penjelasannya.

    • kalau yng meninggal itu mertua atau arang tua tidak disyariatkan, tetapi kalau yang meninggal itu anak itu disyariatkan untuk aqiqah, katna syariat aqiqah itu untuk orang tua pada anaknya bukan anak pada orang tua…….smoga bermanfaat

  2. Assalamualaikum, kalau bisa sama teks Arabnya ,di kampung saya kalau hanya teks indonesia saja susah untuk kita berdakwah ( masih banyak yg beraqidah sufi), malah biarpun mereka nggak tau artinya, yg penting tulisannya Arab mereka telan.

  3. Assalamua’laikum wrr. wbb…
    Apakah harus saya mengakikahkan anak saya yg sdh meninggal di dalam perut saya ? Usia kandungan sy wkt itu sdh 42 minggu. anak sy meninggal msh dlm perut. Saya mohon utk di jwb. terima kasih Wasalam..

  4. Assalamualaikum. Wr. wb. saya mau bertanya Pak, apabila anak telah lahir dan baru berumur 2 hari, kemudian meninggal dunia, apa perlu di aqeqahkan Pak ? Mohon jawabannya disertai dengan hadist nya. terima kasih

  5. assalamu’alaikum..
    saya mau nanya, kalau orang yang sudah meninggal masih wajibkah kita mengaqiqahkannya??
    tolong jawabannya segera ya, saya tunggu..
    thanks

  6. assalamu ‘alaikum warohmatullahi wabrokatuh… minta izin untuk copy paste. maturnuwun…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s