Apakah Alkohol Najis?

Tanya:

Assalamu’alaikum wr.wb

Ustadz bagaimana hukumnya menggunakan parfum yang mengandung alkohol?

3 Sya’ban 1429H

Hamba Allah

Yogyakarta

Jawab:

Menggunakan parfum yang mengandung alkohol adalah haram. Dalilnya adalah sebagai berikut:

Pertama, Etanol (etil alkohol atau alkohol saja) adalah khamer. Hal ini berdasarkan penelitian modern tentang hasil fermentasi buah anggur. Buah ini dimasa Rasulullah banyak diperas oleh orang-orang untuk dijadikan khamer.

Penelitian modern menunjukkan bahwa proses fermentasi anggur akan menghasilkan etanol.  Prosesnya adalah sebagai berikut:

  1. Reaksinya adalah sebagai berikut;

C6H12O6 CH3CH2OH (C2H5OH)

(glukosa)                   (etanol)

Peragian buah-buahan, sayuran atau biji-bijian berhenti bila kadar alkohol telah mencapai 14-16%. Jika diinginkan kadar yang lebih tinggi, campuran itu harus disuling. (Fessenden & Fessenden, Kimia Organik, ed. III, hal. 267).

Reaksi dalam fermentasi berbeda-beda tergantung pada jenis gula yang digunakan dan produk yang dihasilkan. Secara singkat, glukosa (C6H12O6) yang merupakan gula paling sederhana , melalui fermentasi akan menghasilkan etanol (C2H5OH). Reaksi fermentasi ini dilakukan oleh ragi, dan digunakan pada produksi makanan.

Dari reaksi di atas kita bisa memahami, bahwa substansi benda yang disebut khamer adalah etanol, bukan yang lain.

Kedua, khamer tidak hanya haram diminum. Namun ia juga haramkan dimanfaatkan karena merupakan najis. Dalil najisnya khamer adalah firman Allah SWT :

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, dan mengundi dengan anak panah itu adalah rijsun (najis) termasuk perbuatan syetan, maka jauhilah najis itu agar kamu mendapatkan keberuntungan…” (QS Al-Maaidah [5] : 90)

Dalam frase firman Allah diatas: “fajtanibuuhu” (jauhilah najis/rijsun itu) terkandung perintah untuk menjauhi rijsun yang berarti kotoran atau najis. Maka, memanfaatkan benda najis adalah haram, sebab Allah SWT telah memerintahkan kita untuk menjauhi najis itu.

Hadits Nabi SAW : “Sesungguhnya kami (para sahabat) berada di negeri para Ahli Kitab, mereka makan babi dan minum khamr, apakah yang harus kami lakukan terhadap bejana-bejana dan periuk-periuk mereka? Rasulullah SAW menjawab,”Apabila kamu tidak menemukan lainnya, maka cucilah dengan dengan air, lalu memasaklah di dalamnya, dan minumlah.” (HR Ahmad dan Abu Dawud). Perintah untuk mencuci bejana wadah khamr dan periuk wadah daging babi itu, menunjukkan bahwa kedua benda tersebut tidak suci (najis). Sebab, apabila suci dan tidak najis, tentu Nabi SAW tidak akan memerintahkan mencucinya dengan air.

Hadits lainnya, Abu Hurairah RA menceritakan bahwa ada seorang pria akan memberikan hadiah kepada Rasulullah SAW sebuah minuman khamr, maka Rasulullah SAW berkata:

“Sesungguhnya khamr itu telah diharamkan. Laki-laki itu bertanya,”Apakah aku harus menjualnya?”, Rasulullah SAW menjawab,”Sesungguhnya sesuatu yang diharamkan meminumnya, diharamkan pula menjualnya”. Laki-laki itu bertanya lagi,”Apakah aku harus memberikan kepada orang Yahudi?” Rasulullah menjawab,”Sesungguhnya sesuatu yang diharamkan, diharamkan pula diberikan kepada orang Yahudi”. Laki-laki itu kembali bertanya,”Lalu apa yang harus saya lakukan dengannya?” Beliau menjawab,”Tumpahkanlah ke dalam selokan.” (HR Al Khumaidi dalam Musnad-nya). (Ahmad Labib al-Mustanier, Hukum Seputar Khamr, www.islamuda.com)

Perintah untuk menumpahkan khamr ke selokan ini, menunjukkan bahwa khamr adalah najis dan tidak suci, yakni najis secara dzati.

Kesimpulannya, ketika Allah berfirman dalam QS Al-Maidah : 90 yang berbunyi “fajtanibuuhu” (jauhilah najis/rijsun itu), maka itu adalah perintah untuk menjauhi rijsun (najis) yang mencakup najis dzati. Oleh karena itu, memanfaatkan benda najis adalah haram, sebab Allah SWT telah memerintahkan kita untuk menjauhi najis itu (Al-Baghdadi, Radd ‘Ala Kitab Ad-Da’wah Al-Islamiyyah, 1986:228).

Ketiga, Menjualbelikan Benda Najis dan Haram Hukumnya Haram.

Hal ini dirumuskan dalam kaidah fiqih “Kullu maa hurrima ‘ala al-ibaad fabay’uhu haram.” (Segala sesuatu yang diharamkan Allah atas hamba-Nya, maka memperjualbelikannya adalah haram juga) (Taqiyuddin An-Nabhani, Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah, II/248). Karena itu, memperjualbelikan benda-benda najis atau haram adalah adalah haram (forbidden).

Dasar dari kaidah/prinsip itu adalah hadits-hadits. Di antaranya sabda Nabi SAW, “Dan sesungguhnya Allah, apabila mengharamkan suatu kaum untuk memakan sesuatu, maka haram pula bagi mereka harga hasil penjualannya.” (HR Imam Ahmad dan Abu Dawud).

Imam Asy-Syaukani menjelaskan hadits di atas dengan mengatakan,“Sesungguhnya setiap yang diharamkan Allah kepada hamba, maka menjuabelikannya pun haram, disebabkan karena haramnya hasil penjualannya. Tidak keluar dari (kaidah) kuliyyah/menyeluruh tersebut, kecuali yang telah dikhususkan oleh dalil.” (Asy-Syaukani, Nailul Authar, V/221).

Dikecualikan dalam hal ini adalah,  memperjualbelikan benda yang najis dan haram untuk kepentingan pengobatan, tidaklah haram (boleh). Sebab berobat dengan benda najis dan haram hukumnya makruh, tidak haram.

Yogyakarta, 1 Dzulhijjah 1429H

Fauzan Al Banjari

3 gagasan untuk “Apakah Alkohol Najis?

  1. Alkohol Tidaklah Najis

    Sebahagian kaum muslimin berdalil tentang najisnya alkohol dari firman Allah yang ertinya, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khomr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah najis termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (Al Maa’idah: 90). Yaitu dari perkataan ‘adalah najis’.

    Pendapat yang benar, makna kata najis di atas bukanlah najis secara hakiki tetapi najis secara maknawi (najis pada makna di dalamnya). Dimaknakan demikian kerana judi, berhala, undian pada ayat tersebut tidaklah dikatakan najis secara hakiki. Maka alkohol (khomr) boleh disentuh (tidak najis), sebagaimana juga berhala dan lainnya.

    Bahkan terdapat dalil tentang sucinya alkohol dalam hadits dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri, bahawa ketika ayat pelarangan khomr itu turun, para sahabat menumpahkan khomr-khomr mereka di jalan-jalan kota Madinah (HR. Muslim)

    Syaikh Al Albani rohimahulloh mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat faedah penting yaitu isyarat tentang sucinya khomr sekalipun haram hukumnya. Sebab seandainya khomr tidak suci, tentu para sahabat tidak akan menuangkannya di jalan-jalan dan tempat lalu banyak orang, tetapi mereka akan membuangnya ke tempat yang jauh sebagaimana layaknya barang-barang najis lainnya. (Lihat Irwa’ul Gholil).

    Daripada kaedah fiqhiyyah dapat juga dibuktikan bahawa alkohol tidaklah najis. Sebagaimana Syaikh Ibnu Utsaimin rohimahulloh juga mengatakan, “Tidak ada dalil yang menunjukkan najisnya dzat khomr. Dan jika tidak ada dalil yang menunjukan demikian maka dzat khomr adalah suci kerana (kaedah mengatakan) asal segala sesuatu adalah suci dan tidak setiap yang haram itu najis, sebagaimana racun itu haram namun tidak najis. (Fatawa Syaikh Utsaimin, no 210). Jika telah jelas bahawa dzat alkohol tidaklah najis, maka tidaklah wajib untuk mencuci sesuatu yang terkena alkohol.
    http://muslim.or.id/ertikel/fiqh-dan-muamalah/menjawab-kerancuan-seputar-alkohol.html

    • Kita dapat memahami perbedaan pendapat ini. dalil hadits yang digunakan sebagai dalil bahwa khamr tidak najis di atas diambil berdasarkan mafhum dan dugaan bahkan takwil. karena memang tidak secara manthuq disebutkan oleh nash. oleh karena memungkinkan untuk terjadi perbedaan. oleh karena kita harus membuka diri untuk melihat masing-masing penjelasan secara objektif, sehingga kita bisa mengambil pendapat terkuat setelah melakukan tarjih terhadap masing-masing dalil. Syukron atas artikelnya. silahkan untuk membaca kembali secara seksama argumentasi pendapat yang telah kami gunakan terkait dengan khamr tersebut. wallahu’alam bi ash showwab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s