Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Tulisan ini merupakan salah satu bab dari buku Longlife Motivation

The Masterpiece of You

(Karya Terbaik Anda)

“Anda saat ini adalah cerminan akumulasi dari aktivitas-aktivitas yang anda lakukan setiap hari”

~Fauzan al-Banjar~

 

Dengan seluruh potensi serta motivasi yang kita miliki. Tinggal kini bagaimana kita dapat memperoleh sebuah masterpiece (karya terbaik)  untuk dipersembahkan kepada Allah SWT dan kita wariskan kepada dunia.

Sebuah karya terbaik lahir dari proses aktivitas-aktivitas terbaik yang dilakukan setiap hari. Ibarat sebuah gedung yang megah dan kokoh tidak akan terbentuk jika tidak disusun dari material yang baik dan pengerjaan yang serius. Sebongkah batu besar tidak akan berlubang oleh setetes air. Batu besar dapat berlubang oleh jutaan tetes air yang fokus mengenai titik yang sama secara terus menerus. Anda saat ini adalah cerminan akumulasi dari setiap aktivitas yang telah anda lakukan setiap hari. dan Anda di masa yang akan datang adalah hasil dari apa yang Anda lakukan mulai saat ini. Oleh karenanya jangan remehkan setiap aktivitas Anda mulai hari ini. Raihlah selalu aktivitas terbaik di dalam kehidupan Anda.

“Maha Suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang melakukan amal terbaik dan dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”.(TQS. Al-Mulk [67]: 1-2)

‘Amal yang terbaik (‘amal ihsan) menurut salah seorang guru Imam Syaifi’i, yakni Fudhail bin ‘Iyadl ketika menjelaskan ayat ke-2 surat Al-Mulk di atas adalah amal yang paling ikhlas dan paling benar. Ketika ditanyakan. “Wahai Abu Ali: ‘Apakah maksud paling ikhlas dan paling benar?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya suatu amal sekalipun benar tetapi tidak dikerjakan dengan ikhlas, maka amal tersebut tidak akan diterima. Sebaliknya, jika dikerjakan dengan ikhlas namun tidak dengan cara yang benar, maka amal tersebut juga tidak akan diterima. Ikhlas hanya dapat terwujud manakala amal itu diniatkan secara murni kepada Allah swt, sedangkan amal yang benar hanya dapat terwujud dengan mengikuti sunnah Nabi saw.”

‘Amal ihsan adalah amal perbuatan yang dilakukan dengan niat ikhlas (semata-mata hanya karena Allah) disertai dengan kesesuaian amal perbuatan tersebut dengan hukum syariat Islam (shahihu al-‘amal).

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus” (TQS. Al-Bayyinah [98]: 5)

Hal ini juga dijelaskan melalui hadits baginda Nabi SAW;

إِنَّمَااْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَالِأمرِئٍ مَانَوَى

“Sesungguhnya (semua) perbuatan (amal) itu sangat bergantung (kesahihan dan kesempurnaannya) kepada niat”. Dan sesungguhnya setiap orang hanya akan mendapatkan sesuatu yang (sesuai) dengan niatnya…” (HR. Bukhari dan Muslim)

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَرَدٌّ

“Barangsiapa yang melakukan perbuatan yang tidak didasarkan pada ketentuan kami, maka ia tertolak”  (HR. Bukhari dan Muslim).

Aktivitas atau amal terbaik (‘amal ihsan)-lah  yang diinginkan oleh Allah SWT. ‘Amal ihsan adalah tuntutan dari Allah SWT. Maka bagi seorang muslim tuntutan Allah adalah motivasi bagi kehidupannya. Tuntutan Allah adalah quwwah ruhiyyah (spiritual motivation) bagi dirinya. Oleh karena itu tidak ada alasan bagi seorang muslim untuk tidak dapat mencapai kualitas terbaik dari amalnya, yaitu Ikhlas dalam beramal dan melakukannya sesuai dengan aturan Allah SWT.

Ikhlas adalah amalan batin (kalbu). Tidak ada orang lain yang mengetahui kecuali Allah SWT. Amal ikhlas yang tertinggi adalah bukan sekedar tidak riya atau sum’ah.  Orang yang ikhlas (mukhlis) yang terbaik adalah orang yang tidak sekedar amalnya tidak dimaksudkan  untuk dilihat orang (riya’) atau ingin didengar orang (sum’ah). Lebih dari itu, ikhlas sesungguhnya mengandung konsekuensi melakukan ‘amal dengan kemampuan terbaik (paling maksimal).

Ketika ikhlas dalam beramal mengandung pengertian beramal semata-mata karena Allah, maka Anda harus benar-benar menunjukkan bahwa amal yang Anda lakukan semata-mata dipersembahkan hanya untuk-Nya, bukan untuk selain-Nya. Pertanyaannya; Apakah sesuatu yang yang dipersembahkan hanya untuk Allah itu cukup yang biasa-biasa saja. Minimalis, dan terkesan asal-asalan? Ataukah sesuatu yang hendak dipersembahkan kepada Allah itu harus berkualitas istimewa, dan dengan upaya terbaik yang kita mampu?

Ketika seseorang mempersembahkan sesuatu khusus hanya (special) bagi orang yang dicintainya, tentu saja ia akan mempersembahkan yang terbaik dan teristimewa dengan seluruh kemampuan terbaiknya; bukan yang biasa-biasa saja, apalagi yang berkualitas buruk. Demikian pula seseorang yang ikhlas, ia mempersembahkan amalnya semata-mata hanya untuk Allah, Penciptanya. Ia hanya akan mempersembahkan amalan terbaik dan teristimewa untuk-Nya. Jadi, Ikhlas pada amal sesungguhnya harus berbuah menjadi amal yang terbaik (‘amal ihsan).

Amal yang ikhlas (أخلص ) mengandung makna;

(أ  ) Iman atau ‘itikad, artinya yakin akan pertemuan dengan Allah. Keyakinan terhadap pertemuannya dengan Allah membuat si empunya amal akan selalu bersunguh-sungguh dalam mengerjakan setiap aktivitas. Selain itu makna iman disini juga adalah meyakini bahwa perbuatan (‘amal) yang dilakukan adalah perbuatan yang benar.

( خ )     Khushushan, artinya teristimewa; yang paling spesial. Seorang mukhlis memiliki orientasi pada kesempurnaan karya terbaiknya (masterpiece). Sebab perbuatan (‘amal) yang dilakukan akan dipersembahkan kepada Allah SWT, Dzat Yang Maha Istimewa.

( ل )     La tay’asu, pantang berputus asa. Seorang mukhlis adalah orang yang pantang berputus asa, ia selalu mengerjakan perbuatan dengan penuh semangat dan memiliki etos kerja yang tinggi. Sebab ia memahami bahwa tidak ada sebuah maha karya (masterpiece) yang dapat diselesaikan dengan mudah. Sebuah masterpiece pastilah sesuatu yang membutuhkan pengorbanan dan perjuangan untuk dihasilkan.

( ص )   Shafa, artinya jernih dan bersih. Sebuah persembahan yang teristimewa wajib tidak bercampur maksudnya kecuali hanya untuk Allah SWT. Sebab tidak masterpiece yang dibuat kecuali memiliki maksud khusus dan dipersembahkan kepada sesuatu yang khusus juga. Bersih dan jernihnya maksud dari seorang mukhlish akan menghantarkannya kepada apa yang hendak ia tuju yaitu Allah SWT.

Mencapai amal yang terbaik selain dengan ikhlas adalah juga harus melakukan amal tersebut sesuai dengan aturan dari Allah (shahihu al-‘amal).

Wajib shahih-nya amal sesunggunhya adalah sesuatu yang sudah maklum. Karena seseorang yang sedang mempersiapkan sebuah maha karya (masterpiece) yang hendak dipersembahkannya hanya kepada orang yang dicintai pasti akan mencari tahu apa yang paling diinginkan oleh orang yang dicintai tersebut. Apa yang tidak membuat kecewa orang yang dicintainya tersebut. Untuk itu, selain ikhlas seseorang yang hendak mempersembahkan masterpiece-nya kepada Allah harus mengetahui apa yang disukai dan tidak disukai oleh Allah. Allah SWT akan menolak semua amal meski ditujukan kepada-Nya tapi tidak dilakukan dengan cara-cara yang sesuai dengan keinginan-Nya (aturan main Allah). Ibarat orang yang sedang melakukan lomba, maka sebuah kemenangan tidak akan dinilai apa-apa jika diperoleh dengan melanggar aturan yang sudah dibuat oleh pelaksana lomba.

 

Amal yang shahih (صح) mengandung makna;

(ص)     Sharih artinya jelas, tidak kabur, ada pada area hitam dan putih, tidak mendatangakan keragu-raguan (syubhat). ‘Amal ihsan adalah ‘amal yang wajib jelas dalam status perbuatannya dan juga status hukum syariatnya. Jelas status perbuatan adalah perbuatan yang memiliki maksud dan target tertentu. Sedangkan jelas dari sisi hukum syariat adalah perbuatan yang memiliki status hukum syariat tertentu apakah wajib, sunnah, mubah, makruh atau haram. Sehingga si empunya ‘amal memiliki keyakinan untuk mengerjakan atau meninggalkan perbuatan tersebut.

(ح)       Hasaba artinya adalah pertimbangan atau perhitungan. Setiap ‘amal bagi seorang muslim harus memperoleh pertimbangan keutamaan (awlawiyat) terlebih dahulu. Sebab ia memahami dengan waktu hidup yang singkat tidak mungkin ia memperoleh seluruh ‘amal. Oleh karena itu ia memiliki kriteria keutamaan dalam beramal. Sedapat mungkin semua yang wajib ia utamakan untuk ditunaikan. Kemudian menyusul memperbanyak yang sunnah. Lalu lebih banyak meninggalkan yang mubah. Dan sama sekali tidak ingin terjerumus kepada yang haram.

Walhasil, karya terbaik (masterpiece) lahir dari akumulasi amal-amal terbaik (‘amal ihsan). Amal terbaik baru dapat terwujud jika telah memenuhi syaratnya yaitu ikhlas dan shahih.

Masterpiece apa yang hendak Anda wariskan kepada dunia? Apapun masterpiece Anda, semuanya akan benar-benar berbuah menjadi the real masterpiece jika anda melakukannya dengan amal yang ihsan.

HANYA 1 Menit 52 Detik

Kepada mereka yang peduli akan umurnya

 

Masih ingat apa yang dikatakan Einsten tentang hukum relativitas? Orang yang berada di luar pesawat akan melihat pesawat terbang begitu cepat, tapi mereka yang berada di dalam pesawat dengan santainya duduk, makan, minum dan berjalan-jalan tanpa merasa terganggu dengan kecepatan tersebut. Tahukan jika bumi kita berputar (berotasi) dengan kecepatan 1.600km/jam, tapi kita sama sekali tak terpengaruh dengan kecepatan itu, yang kita ketahui hanya perputaran waktu 24 jam sehari. Membicarakan tentang waktu. Sebenarnya juga sangatlah relatif bagi kita. Bergantung kepada apa kita membandingkannya.

Berapa lama sesungguhnya kita tinggal di bumi ini? Jawabannya relatif juga. Kalau pakai ‘rasa’nya maka baru kemarin rasanya kita hidup di bumi. Kalau dihitung sejak lahir mungkin 20 atau 30 tahun kita hidup sekarang. Kalau kita hidup hanya sampai usia 65 tahun hakikinya berapa lama sih kita hidup di dunia?

Sebagai seorang mukmin, tentu kita beriman kepada Al-Qur’an. Tentu juga kita beriman kepada hari akhir, hari berbangkit dimana seluruh umat manusia akan dikumpulkan di padang mahsyar. Berapa lama waktu di sana nanti? Dan berapa lama waktu kita hidup di dunia jika di bandingkan dengan waktu saat itu?

Allah SWT berfirman (artinya): “Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.” (An Nazi’at: 46)

Allah bertanya: “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” Mereka menjawab: “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.” Allah berfirman: “Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu Sesungguhnya mengetahui” (al-Mu’minuun: 112-114)

 

Kalau begitu berapa lama ukuran waktu sebentar kita itu?

 

Rasulullah SAW bersabda: Bagaimana keadaan kalian jika Allah mengumpulkan kalian di suatu tempat seperti berkumpulnya anak-anak panah di dalam wadahnya selama 50.000 tahun dan Dia tidak menaruh kepedulian terhadap kalian? (HR Hakim dan Thabrani).

Padang mahsyar, hari pengadilan, dimana manusia menunggu untuk diadili dalam Pengadilan Yang Maha Adil. Bagaimana kondisi padang mahsyar itu? Di mana kita harus menunggu selama 50.000 tahun? Sejuk kah? nyaman kah?

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya matahari mendekat kepada manusia pada Hari Kiamat. Jarak dari mereka hanya satu mil. Ketika itu mereka dikenali sesuai amal masing – masing.” ( HR.Bukhari )

Apakah kita akan selamat dari hawa panas di Padang Mahsyar? Yang pasti, kita semua akan merasakan kepanasan dan kegerahan menunggu giliran di – Hisab. ( Ingat – ingatlah keadaan ini saat kita sedang kena kipas angin atau merasa sejuk di ruangan berAC )

Rasulullah SAW. bersabda, “Banyaknya keringat manusia berdasarkan amal – amalnya. Di antara mereka ada yang keringatnya mencapai kedua mata kakinya, ada yang mencapai kedua lututnya. Dan di antara mereka ada yang keringatnya mencapai pinggangnya. Dan di antara mereka ada yang sampai meminum keringatnya sendiri.” (Nabi memberi isyarat dengan memasukkan tangannya ke dalam mulut ). ( HR.Muslim )

MasyaAllah, Naudzubillahi min dzalikka

Hadits di atas berhubungan dengan keadaan kita nanti di padang mahsyar, kata nabi Muhammad, kita berada di padang mahsyar selama 50ribu tahun yang sama nilainya dengan 50 milenium sama dengan  500 abad  sama dengan 6250 windu. Aduhai seberapakah lamanya waktu itu?

Allah SWT Berfirman (artinya): “Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya 50.000 tahun.“ (al-Ma’aarij [70]: 4)

Para mufasir menjelaskan maksud ayat di atas: malaikat-malaikat dan Jibril jika menghadap Tuhan memakan waktu satu hari. Apabila dilakukan oleh manusia, memakan waktu limapuluh ribu tahun. (lihat Tafsir Ibnu Katsir)

 

Jika kita korelasikan hadits tersebut dengan ayat di bawahnya, kita akan menemukan suatu angka yang sangat fantastis tentang lamanya kita hidup di dunia ini.

Mari coba kita hitung. Kalau umur kita rata-rata 65 tahun, Rasulullah Muhammad meninggal pada usia 63 tahun. Maka, perantauan kita di dunia ini jika dibandingkan dengan waktu di padang mahsyar hanya akan terasa 1 MENIT 52 DETIK.

 

Mari berpikir sesaat dan merenung. Maukah anda mengantri dengan sabar selama 1 hari untuk mendapatkan sebuah mobil mewah. Anda hanya mengantri dengan sabar dan tidak boleh melanggar aturan antrian anda, maka anda PASTI akan mendapatkan mobil mewah itu. Bahkan Anda tidak perlu bayar untuk itu. Hanya tunggu sampai kepada giliran Anda? Maukah Anda?

Jika mobil mewah itu tidak terlalu berharga bagi Anda? Apa di dunia ini yang paling berharga bagi Anda? Maukah anda menunggu 1 hari untuk memperolehnya?

Apa yang Anda anggap paling berharga itu, jika dibandingkan dengan nikmat Akhirat, maka yang paling berharga di dunia ini tidak adalah nilainya kecuali hanya seujung kuku saja.

Rasulullah SAW bersabda:

Tidaklah dunia bila dibandingkan dengan akhirat kecuali hanya semisal salah seorang dari kalian memasukkan sebuah jarinya ke dalam lautan Maka hendaklah ia melihat apa yang dibawa oleh jari tersebut ketika diangkat? (HR Muslim).

 

Maukah kita bersabar hanya 1 menit 52 detik untuk memperoleh kenikmatan yang tiada tara di akhirat kelak. Apalah artinya pengorbanan kita di dunia ini, seberat apapun. Wong hanya 1 menit 52 detik saja kok kita berkorban. Apalah artinya persoalan hidup kita di dunia ini yang terasa berat bagi kita. Kan kita hanya akan merasakannya 1 menit 52 detik saja. Mau kah kita bersabar dan istiqomah dalam ketaatan kepada Allah dalam rentang waktu itu? Apalah arti beratnya perjuangan untuk Islam di dunia ini, Karena kita hanya berjuang 1 menit 52 detik saja. Apalah susahnya berbuat taat dan baik di dunia ini, kalau Cuma 1 menit 52 detik saja.

 

Wahai diri, wahai sahabat semua…

Jangan sampai diri kita menyesal nanti di padang mahsyar, di pengadilan-Nya Allah SWT. Jangan sampai Menjadi mereka yang lalai kepada Allah dengan melalaikan taat kepada-Nya. Akan menyatakan penyesalannya dan berharap dikembalikan ke dunia. Padahal sudah tidak ada lagi kesempatan kedua bagi kita semua.

Allah SWT Berfirman (artinya):

Dan, jika Sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Tuhan Kami, Kami telah melihat dan mendengar, Maka kembalikanlah Kami (ke dunia), Kami akan mengerjakan amal saleh, Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang yakin.” (As-Sajdah:12)

 

Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul. (Kepada mereka dikatakan): “Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?“(Ibrahim:44)

 

Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlaksananya kebenaran) Al Qur’an itu. Pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al Qur’an itu, berkatalah orang-orang yang melupakannya sebelum itu: “Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami membawa yang hak, maka adakah bagi kami pemberi syafa`at yang akan memberi syafa`at bagi kami, atau dapatkah kami dikembalikan (ke dunia) sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan?” Sungguh mereka telah merugikan diri mereka sendiri dan telah lenyaplah dari mereka tuhan-tuhan yang mereka ada-adakan.” ( Al-A’raf:53)

 

Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan”. Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.” (Fathir: 29)

 

Bukankah ayat-ayat-Ku telah dibacakan kepadamu sekalian, tetapi kamu selalu mendustakannya? Mereka berkata: “Ya Tuhan Kami, Kami telah dikuasai oleh kejahatan Kami, dan adalah Kami orang-orang yang sesat. Ya Tuhan Kami, keluarkanlah Kami daripadanya (dan kembalikanlah Kami ke dunia), Maka jika Kami kembali (juga kepada kekafiran), Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang zalim.”

Allah berfirman: “Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan aku. Sesungguhnya, ada segolongan dari hamba-hamba- Ku berdoa (di dunia): “Ya Tuhan Kami, Kami telah beriman, Maka ampunilah Kami dan berilah Kami rahmat dan Engkau adalah pemberi rahmat yang paling baik. Lalu kamu menjadikan mereka buah ejekan, sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku, dan adalah kamu selalu mentertawakan mereka,” (Al-Mu’minun:105-110)

 

Maka benarlah pada hari yang dijanjikan itu, manusia-manusia yang ingkar terhadap Robb nya akan diliputi penyesalan yang mendalam, penyesalan karena waktunya (yang sangat singkat) hanya dipakai untuk hal-hal yang sia-sia, penyesalan karena waktunya (yang sangat singkat) hanya dimanfaatkan untuk bermalas-malasan, penyesalan karena waktunya (yang sangat singkat) hanya dimanfaatkan untuk melakukan maksiat dan dosa.

Mereka pun mengandaikan bisa kembali ke dunia, namun sayang, penyesalan tinggal penyesalan. Maka tenggelamlah mereka oleh keringatnya sendiri, karena malu dan takutnya mereka dan semoga kita bukan bagian dari orang-orang yang menyesal tersebut.

Namun saat itu ada juga yang dinaungi awan kasih sayang oleh Robb, kita paham bahwa pada saat itu matahari hanya sejengkal di atas kepala. Merekalah orang-orang yang beruntung. Orang-orang yang menjadikan waktunya untuk memperjuangkan agama Robb nya. Orang-orang yang menjadikan waktunya untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat buat diri dan sesama. Orang-orang yang menjadikan waktunya untuk senantiasa beribadah kepada Ilah nya. Mereka pun puas akan apa yang dilakukannya. Tidak sia-sia setiap tetes keringat dan tiap tetes darah yang mereka keluarkan demi kemuliaan agama ini. Tidak sia-sia mereka menahan gejolak mengumbar aurat dan berjuang menahan panas memakai jilbab bagi wanita. Tidak sia-sia mereka menahan setiap sentuhan, pandangan, pendengaran dari yang tak semestinya dilakukan. Benar, tidak akan sia-sia setiap amal kebaikan kita. Itulah hidup kita sahabatku, hanya sebentar. Tidak lah sia-sia mereka menolong agama Allah dengan berjuang atas  tegaknya syariah dan khilafah. Karena mereka berjuang dan bersabar tidak lama kecuali hanya 1 menit 52 detik.

Mereka lah orang-orang yang beriman dan istiqomah dengan keimanan dan ketaatannya kepada Allah Yang Maha Pemurah.

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah (surga)  yang Telah dijanjikan Allah kepadamu”. (Fushilat [41]: 30)

 

Dan agama ini sudah sempurna. Baik dan buruk, halal dan haram sudah ditetapkan dengan jelas. Setiap aturan kehidupan mulai dari pergaulan, ekonomi, tatacara politik, pendidikan, sosial, hukum, dan ibadah sudah paripurna. Semua kembali kepada kita, maukah memakainya atau kita tetap dengan keadaan sekarang. Keadaan yang jauh dari  nilai-nilai Islam.

 

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). (al-Hasyr [59] : 18)

Ingatlah, saudaraku… kita hanyalah perantau, only a musafir…

Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekadar lewat (HR Bukhari)

Wallahu a’lam bi ash shawab.

 

Dari Saudaramu

Seorang musafir

PERJALANAN HIDUP ANDA

Masa Lalu Anda….

Masih ingatkah sewaktu kita masih kecil, lemah tidak bisa berbuata apa-apa. Setelah fungsi organ-organ tubuh mulai berkembang, kita belajar berjalan, lidah mulai menirukan berbagai bunyi dan suara-suara. Setelah semua organ sudah sampai pada puncak perkembangannya, kitapun bisa berlari berteriak sesuai kemauan kita…
Saat dulu duduk di bangku SD, guru kita bertanya tentang cita-cita dan keinginan kita di masa depan, mulailah kita berandai- andai dan berkhayal menjadi guru, dosen, pilot, direktur dan sebagainya. Meski hanya sebatas khayalan kosong tanpa ambisi dan kemauan yang kuat… saat itu.
Anda Saat Ini
Ketika memasuki usia 19 / 20 tahun, pergaulan kita semakin luas, teman semakin banyak. Menawarkan berbagai macam watak dan warna kepribadian. Secara sadar ataupun tidak kita terpengaruh oleh mereka dalam menentukan mana yang baik dan menyenangkan, juga sebaliknya. Ketika itu kita mungkin melihat betapa enaknya menjadi kaya, punya uang banyak, bisa bepergian ke luar negeri atau ke manapun kita mau, punya kendaraan mewah, pakaian necis dangan bahan yang mahal, dll.
Kemauan-kemauan itu mendorong kita untuk belajar (dengan tujuan agar bisa bekerja) atau bekerja untuk menjadi orang kaya. Kita mulai berusaha mencari pekerjaan dan memulai kehidupan mandiri yang tidak bergantung kepada kedua orang tua.
Masa Depan Anda?
Memasuki usia 25 tahun, ketika melihat seseorang yang mempunyai isteri  cantik, kita pun ingin punya isteri yang lebih cantik darinya. Kemudian kita menemukannya, dan kita berjuang sekuat tenaga. Meski gagal kita terus berjuang dan akhirnya berhasil. Setelah menikah kita ajak jalan-jalan, kemudian kita lihat ada villa yang indah. Kita ingin membahagiakannya dengan villa itu.
Kita bekerja lebih giat lagi, bahkan hampir-hampir kita tidak punya waktu untuk istirahat. Akhirnya diumur 45 tahun villa tersebut kita miliki.
Apa artinya villa mewah jika kendaraan yang dinaiki kendaraan kelas menengah bawah? Untuk itu kita bekerja lebih giat lagi, isteri dan anak kita pun jadi jarang lihat kita.
Kita terus mengejar…. Sampai kapan?
Renungkan Jalan Hidup Kita…
Apakah demikian itulah hidup yang akan kita jalani?
Apakah Allah menciptakan kita untuk memperoleh itu semua?
Apakah pekerjaan, isteri yang cantik, villa mewah, mobil mewah, semua itukah yang kita cari dalam hidup ini?
UJUNG PERJALANAN KITA
Ujung dari semua itu Akhirnya “KEMATIAN” menjemput kita, dan semua yang ada tadi menjadi tak berguna lagi.
Mengapa kematian “memaksa” kita berpisah dengan semuanya itu?
Bisakah kita kendalikan agar kita tidak MATI?
Mengapa kita tidak bisa menghindari kematian? Apalagi mengendalikannya?
JIKA KEHIDUPAN HARUS BERAKHIR DENGAN KEMATIAN LALU UNTUK APA KITA HIDUP?
Seseorang tidak bisa mengendalikan sesuatu, jika ia tidak memliki kekuatan dan kemampuan atau dia tidak memiliki otoritas untuk itu.
Contonya: Seorang karyawan tidak bisa mengendalikan berapa gajinya dari sebuah perusahaan. Gajinya ditentukan oleh Direktur perusahaan.
Sama halnya dengan kehidupan. Manusia tidak mampu mengendalikan kehidupan dan kematiannya.
Mereka hanya bisa menjalani kehidupan tersebut dengan pilihan-pilihan jalan hidupnya.
Kedua hal itu dikendalikan oleh Dzat yang MAHA KUAT MAHA PERKASA. Dialah ALLAH, Tuhan yang menciptakan dan mengendalikan Alam Semesta.
Allah ibarat “Direktur” sekaligus “Owner”= Direktur dan Owner Kehidupan. Dan manusia hanyalah karyawannya.
Karyawan yang bekerja sesuai ketentuan yang ditetapkan. Dan menerima “gaji” sesuai yang ditetapkan “Direktur” kehidupan.
Sang “Direktur” lah yang mengerti visi, misi dan tujuan “perusahaan” kehidupan yang dikendalikan-Nya.
Manusia sebagai karyawan, harus mengetahui dan menaati visi, misi, dan tujuan “perusahaan” itu agar bisa professional. Bila tidak, maka sang Direktur akan memecatnya menjadi karyawan karena hanya akan mengahambat tercapainya tujuan perusahaan.
Di “Perusahaan” ada 3 tipe “Karyawan”
Kelompok I; mereka yang menyelaraskan tujuan dan aktivitas hidupnya sesuai dengan visi dan aturan perusahaan.
Kelompok II; mereka yang tidak menyelaraskan tujuan dan alur kehidupannya sesuai tatacara yang telah ditetapkan oleh perusahaan
Kelompok III; mereka yang mengetahui alur skenario dan tujuan yang telah ditetapkan oleh “Direktur” perusahaan, tetapi dalam prakteknya mereka tidak peduli dan memilih golongan kedua sebagai teman.
Sifat masing-masing kelompok
Kelompok I, mereka mengatur langkah2 hidupnya dan menaati rambu-rambu Ilahi. Meski berat dan sulit, tetapi mereka menikmati dan menurutinya dengan ikhlas dan sabar, sehingga sesuai dengan keinginan sang Direktur. Iniliah golongan orang-orang yang selamat dan memperoleh naungan dari Allah. Mereka adalah orang-orang yang tidak merasa sedih dan tidak merasa takut, karena mereka yakin Allah akan menjadi penolong mereka di dunia dan di akhirat. (lihat QS. Fussilat [41]: (30-32)
Kelompok II, mereka sepenunhya “BEBAS” dan tidak mau mematuhi rambu-rambu Ilahi. Mereka menentukan sendiri tujuan hidupnya yang berbeda dengan tujuan yang Allah tentukan, dan menjalani kehidupan sesuai dengan hasrat dan dorongan kemauan mereka sendiri. Inilah golongan yang kafir tidak beriman kepada Allah dan tidak berusaha mencari kebenaran yang sejati. Mereka tidak peduli meski diberikan peringatan, mereka punya telinga tapi tidak mampu mendengar, mereka punya mata namun tak mampu melihat, bahkan mereka punya hati (akal budi) tapi tak mau memahami.
Kelompok III, inilah kelompok yang paling ironis, mereka adalah orang-orang yang sebenarnya telah menerima kebenaran, hanya tinggal menyeleraskannya dengan jalan hidup yang diambilnya untuk mencapai tujuan yang ditentukan oleh Allah. Akan tetapi mereka mengabaikannya dan mengambil tujuan-tujuan yang bersifat hanya mememuhi kebutuhan-kebutuhan sementara dan tidak kekal.
Dari sisi identitas batiniah, mereka tidak masuk dalam golongan pertama atau kedua. Meski di atas kertas mereka muslim, tetapi mereka lebih akrab dengan kaum yang di murkai Allah SWT. Golongan ini dijelaskan oleh Allah: dalam al-Mujaadillah [58]: 14) dan (an-Nisaa [4]:143.
Renungan
Janganlah terbuai fasilitas sehingga lupa akan tujuan…
Perumpamaan kehidupan di dunia ibarat seseorang yang pergi pasar dengan tujuan membeli al-Qur’an. Melintasi toko pakaian, mampir. Melintasi toko asesoris handphone, mampir (sarung HP tidak terlalu mahal kok, cuman beli satu aja). Akhirnya sesampai di toko al-Qur’an uangnya sudah tidak cukup lagi. Kedua barang itu telah melalaikannya dari tujuan semula, membeli al-Qur’an.
Betapa banyak manusia yang demikian? Padahal waktu mereka datang ke dunia, mereka telah memiliki rencana dan tujuan yang pasti (al-A’raaf [7]: 172) dan adz-Dzariyaat [51]: 56)
Untuk mencapai tujuan itu, Allah swt. Memberikan banyak fasilitas kehidupan untuk manusia, berupa harta, kehormatan, kecerdasan, popularitas, jabatan, pangkat, anak, isteri dan lain sebagainya. Semua itu sangat menggoda untuk dimiliki. Meski fungsi utamanya hanya sebagai sarana untuk mencapai tujuan yang jauh lebih besar dan abadi.
Namun banyak yang tertipu dan disibukkan oleh fasilitas dan sarana itu, sehingga melupakan tujuan yang sesungguhnya. (al-Anfaal [8]: 28).
Bagaimana agar kita bisa menggunakan berbagai fasilitas tersebut untuk mencapai tujuan? Pada poin inilah kita wajib mengetahui semua rambu-rambu Allah swt.
Dan satu-satunya jalan untuk itu adalah dengan belajar dan mengaji kepada mereka yang mengetahui rambu-rambu tersebut. (An Nahl [16]: 43)
“Seseorang itu sesuai dengan agama temannya. Karena itu, hendaklah siapapun dari kalian memperhatikan dengan siapa ia berteman” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi)
Bergaul dengan teman dan lingkungan yang shaleh dan bertujuan sama sesuai ketetapan Allah akan membuat kita mampu mencapai tujuan tersebut.
Oleh karena itulah kami mengajak kepada para pemuda untuk bersama-sama mengisi masa muda kita dengan selalu dekat kepada Allah melalui pergaulan kita kepada orang-orang yang berilmu (ulama), sungguh mereka adalah cahaya. Belajarlah tentang agama ini kepada mereka. Halaqohlah (belajar intensif) agar pemahaman menjadi benar dan kuat.
Semoga Allah meridhai langkah kita..

ISI KHUTBAH JUM’AT

10 DESEMBER 2010

BARAK PENGUNGSI STADION MAGUWOHARJO, SLEMAN YOGYAKARTA

Oleh: Fauzan al-Banjari

 

Waktu terus bergulir. Umat Islam tidak terasa memasuki tahun baru Hijriah 1432 H, meninggalkan tahun 1431 H. Sebagaimana kita ketahui bahwa penanggalan Hijriah dibuat berdasarkan peristiwa besar yang menjadi titik momentum kejayaan Islam, yaitu hijrahnya baginda Nabi saw. Dari Makkah menuju Madinah. Dimana, Rasulullah saw. pertama kali menginjakkan kaki di Bumi Yastrib (Madinah al-Munawarah), hari Jumat pagi, 16 Rabiul Awal tahun ke-13 dari kenabian, bertepatan dengan 2 Juli tahun 622 Miladiah.

Tujuh belas tahun kemudian, Khalifah Umar bin al-Khaththab mengukirnya menjadi titik tolak kalender (penanggalan) untuk umat Islam, yang dimulai pada awal bulan Muharam karena begitu pentingnya peristiwa hijrah ini.

Pergantian tahun hijriah kali ini hendaknya menjadi titik penting untuk melakukan muhâsabah (evaluasi diri).  Umat haus merenungkan sejauh mana mereka menyusuri lorong waktu dan setiap kesempatan yang dikaruniakan Allah SWT dengan rasa Syukur yang dibuktikan dalam bentuk pengabdian (ibadah) kepada Allah SWT semata yaitu dengan menyelaraskan seluruh amal perbuatan dengan tuntunan yang datang dari al-Quran dan uswah (teladan) hidup yang diberikan Baginda Rasulullah saw.

Kaum Muslimin Rahimakumullah

Bagaimana makna Hijrah yang harusnya dipahami secara utuh oleh kaum muslimin?

Pertanyaan ini penting, karena dengan pemaknaan hijrah yang benar dan utuh akan menjadikan umat Islam menyadari apakah kondisi mereka saat ini sudah sejalan dengan nilai-nilai hijrah sebagaimana yang telah dicontohkan Baginda Nabi saw. dalam wujud kehidupan nyata di Madinah al-Munawarah.

Makna hijrah yang pertama, sebagaimana yang dijelaskan oleh imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Fath al-Bârî hijrah adalah meninggalkan dan menjauhi keburukan untuk mencari, mencintai dan mendapatkan kebaikan. Atau dengan kata lain hijrah adalah meninggalkan seluruh kemaksiatan untuk kemudian taat kepada Allah SWT dalam seluruh aspek kehidupan.

Makna hijrah yang kedua, sebagaimana definisi para fukaha, hijrah adalah keluar dari darul kufur menuju Darul Islam. Darul Islam adalah suatu wilayah (negara) yang menerapkan syariah Islam secara total dalam segala aspek kehidupan dan keamanannya secara penuh berada di tangan kaum Muslim. Sebaliknya, darul kufur adalah wilayah (negara) yang tidak menerapkan syariah Islam dan keamanannya tidak di tangan kaum Muslim, sekalipun mayoritas penduduknya beragama Islam.

Pemahaman hijrah ini diambil dari fakta hijrah Nabi saw. sendiri dari Makkah (yang saat itu merupakan darul kufur) ke Madinah (yang kemudian menjadi Darul Islam). Artinya, Rasulullah berpindah dari satu negeri yang menerapkan sistem Jahiliah ke negeri yang kemudian menerapkan sistem Islam.

Pengamalan kedua makna hijrah ini akan menghantarkan umat Islam menuju umat terbaik sebagai seharusnya kondisi ideal mereka yang digambarkan oleh Allah dalam firman-Nya:

Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (TQS: Ali Imran ayat 110)

Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Umat terbaik atau umat yang mulia inilah yang dapat kita saksikan pasca Hijrahnya baginda Rasulullah saw. Beliau telah mencontohkan bagaimana membangun umat yang terbaik, umat yang mulia tersebut.

Pada awal kedatangan Rasulullah saw. di Tanah Yastrib (Madinah), beliau membangun Masjid Quba, kemudian Masjid Nabawi, dilanjutkan dengan mempersaudarakan kaum Muslim dari kalangan Muhajirin dan kaum Anshar atas dasar ikatan akidah tauhid “Lâ ilâha illâ Allâh Muhammad Rasûlullâh”. Saat itu Rasulullah saw. secara de facto menjadi kepala negara di Tanah Yastrib (Madinah al-Munawwarah). Beliau membangun masyarakat istimewa dalam daulah Islam pertama yang tegak di atas ideologi wahyu (Islam). Beliau melahirkan peradaban mulia dimana Ideologi Islam mewarnai setiap aspek kehidupan masyarakat Islam. Baik di ranah keyakinan, ibadah ritual individu maupun ruang publik (kehidupan politik dan sosial), Dari Darul Muhajirin (Darul Islam) ini, Islam kemudian diemban ke seluruh pelosok negeri untuk menebar kabar gembira dan mengajak setiap insan menghamba hanya kepada Allah SWT.

Rasulullah saw. selama sepuluh tahun di Madinah telah meletakkan pondasi bangunan masyarakat Islami dalam wujud yang nyata dapat terindera, teraba dan terasa. Masyarakat Islami ini menjadi kenyataan sejarah yang tidak bisa dipungkiri oleh siapapun. Hijrah pada akhirnya memisahkan antara haq dan batil serta antara hidup dalam kegelapan dan hidup dalam naungan cahaya terang-benderang.

Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Sudahkah umat Islam saat ini megambil makna Hijrah yang demikian ini?

Sebagaimana yang kita lihat pada kondisi umat saat ini, umat Islam saat ini jauh berbeda dengan gambaran umat terbaik. Faktanya, di tingkat global internasional negeri-negeri Islam menjadi obyek penjajahan gaya baru dari bangsa Barat. Irak dan Afganistan porak-poranda oleh AS dan sekutunya. Palestina tetap dalam cengkeraman Zionis Israel. Di negeri-negeri Barat diskriminasi atas umat Islam yang minoritas juga menjadi pemandangan setiap hari, bahkan penghinaan terhadap Allah, Al-Qur’an dan Rasulullah terus terjadi. Sebaliknya,Negeri-negeri Islam masih terpecah-belah dan dipasung dalam ‘ashabiyah modern yang disebut nasionalisme.

Di dalam negeri sendiri, nasib umat Islam belum berubah, sekalipun sudah berganti DPR, dan lahir kabinet pemerintahan baru. Namun kondisi bangsa ini tidak mengarah kepada kebaikkan. Berbagai bentuk kriminalitas, ketidakadilan, permainan hukum, dan korupsi terus menggurita.

Selain itu, Negeri yang disebut zamrud khatulistiwa, dengan sumber daya alamnya yang melimpah tidak mampu untuk memakmurkan rakyat-Nya karena sumber daya alam tersebut telah dikuasai asing. Kemiskinan dan ketidakadilan tetap saja menyelubungi bangsa ini. Ditambah lagi, dengan berbagai bentuk kemaksyiatan yang masih terus terjadi bahkan dilidungi dengan UU. Lihat saja contohnya seperti riba bungan bank, lokalisasi pelacuran, impor minuman keras, pajak yang membebani rakayat dan hukum pidana jahiliyah warisan penjajah belanda terus dipertahankan, padahal semuanya nyata-nyata bertentangan dengan syariat Allah SWT. Disamping itu, masih sangat banyak pula kewajiban Allah (penerapan syariah, zakat, ‘uqûbat, shalat, haji, dan sebagainya) yang tidak dilaksanakan. Haruskah ada teguran Allah bruapa bencana yang lebih besar lagi untuk menyadarkan kita agar segera tunduk dan taat kepada Allah? Tentu tidak.

Jika demikian, ada beberapa catatan penting sebagai bahan muhâsabah (renungan) kita semua di awal tahun baru hijriah ini. Yaitu kaum muslimin harus segera berhijrah dengan mengambil nilai-nilai hijrah Rasulullah saw.

Pertama: Secara individual kaum muslim harus berhijrah dari perilaku maksyiat kepada perilaku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Karena perilaku maksiat tidaklah patut bagi mereka yang mengatakan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya:

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya Telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa bermaksyiat kepada Allah dan rasul-Nya Maka sungguh dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.” (TQS: al-Ahzab: 36)

Kedua, secara komunal dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, bangsa ini juga harus segera berhijrah dari kehidupan dan sistem peraturan Jahiliyah-nya menuju kepada kehidupan dan sistem aturan yang mulia dari Allah SWT. Sang Pencipta Manusia yaitu syariah Islam. Sedangkan, peneraparan syariah Islam secara kaaffah tidak mungkin dapat dilakukan dalam suatu sistem yang tidak berasal dari syariah juga.. Hukum-hukum Allah secara Kaaffah hanya bisa direalisasikan dalam Sistem yang berasal dari Allah SWT juga, yaitu sistem Khilafah Islamiyah sebuah sistem kepemimpinan Islam yang telah diwariskan oleh Rasulullah saw. dan para sahabat-nya. Oleh karenanya, penegakkan sistem ini wajib karena tanpa keberadaannya kewajiban penerapan Islam secara Kaaffah tidak bisa terlaksana.

Kaidah fiqih mengatakan: “Maala yatimmul wajibu illa bihi fahuwa wajibun” (Apa-apa yang wajib tidak dapat secara sempurna terlaksana karena sesuatu maka sesuatu itu menjadi wajib)

Selain itu, hanya sistem Khilafah inilah yang akan membentuk masyarakat yang bertaqwa kepada Allah, dan ketakwaan masyarakat tersebut akan menghantarkan negerinya kepada kemakmuran dan kesejahteraan. Sebagaimana janji Allah SWT.

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. (TQS: al-‘Araf: 96)

Selain itu, Khilafah juga akan memberikan dampak yang nyata bagi orang-orang di luar Islam untuk secara nyata melihat kemuliaan Islam dalam mengatur urusan manusia. Sebagaimana yang pernah terjadi di masa Rasulullah dan Khulafa ar-Rasyidin, dimana manusia berbondong-bondong masuk ke dalam agama Islam.

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللهِ وَالْفَتْحُ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللهِ أَفْوَاجًا[

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Kamu melihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong. (QS an-Nashr [110]: 1-2).

Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Peringatan peristiwa hijrah Nabi Muhammad saw. sudah saatnya dijadikan sebagai momentum untuk segera meninggalkan kehidupan pribadi dan sistem Jahiliah, yakni kehidupan dan sistem Kapitalisme-sekular yang penuh kemaksyiatan menuju kehidupan dan sistem Islam yang mulia.

Akhirnya pertanyaan akan kembali kepada kita semua. Apakah kita akan tetap mempertahankan kehidupan dan sistem jahiliyah yang melingkupi kita saat ini atau memilih berhijrah kepada kehidupan dan sistem Islam yang merupakan hukum-hukum Allah SWT.

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Apakah hukum Jahiliah yang kalian kehendaki? Siapakah yang lebih baik hukumnya daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS al-Maidah [5]: 50).

Wallâhu a‘lam bi ash-ash-shawâb

Manakah yang harus didahulukan, antara seruan untuk memperbaiki akidah ataukah menegakkan Khilafah? Pertanyaan ini sering dilontarkan oleh sebagian jama’ah yang mengklaim memperjuangkan akidah kepada jamaah yang dianggapnya hanya menyerukan Khilafah. Sesungguhnya penulis tidak ingin membahas hal ini kembali, karena hanya akan menyita waktu untuk mempersoalkan suatu perkara yang tidak perlu dipersoalkan. Harusnya bagi mereka yang memiliki pemahaman Islam yang cukup maka hal ini tidak akan mereka pertanyakan, apalagi jika hanya untuk memecah belah kaum muslim.

Harus kami tegaskan bahwa pertanyaan seperti; manakah yang lebih dahulu akidah atau khilafah? Adalah sebuah pertanyaan yang tidak pada tempatnya dipertanyakan oleh seorang pengemban dakwah yang memahami metode dakwah Rasulullah SAW.

Mendudukan Posisi Akidah dan Khilafah

Harus dipahami dengan benar, bahwa sebagai pondasi atau landasan, akidah menduduki posisi yang sangat penting dan utama bagi kehidupan seseorang. Bagi umat Islam, akidah Islam merupakan landasan kehidupan; baik kehidupan individu, masyarakat maupun negara. Akidah Islam juga merupakan sumber kebangkitan umat Islam serta penentu maju dan mundurnya umat ini. Ini terlihat dengan jelas pada kebangkitan bangsa Arab. Bangsa yang sebelumnya tidak mempunyai sejarah, dan tidak pernah diperhitungkan oleh dunia, tiba-tiba muncul ke pentas sejarah sebagai adidaya di dunia, yang disegani oleh kawan dan lawan. Semua ini terjadi setelah bangsa ini memeluk Islam sebagai akidah dan syariat mereka. Demikian sebaliknya dengan saat ini, setelah akidah Islam itu tidak lagi dijadikan landasan kehidupan, baik kehidupan individu, masyarakat maupun negara, serta tidak lagi sebagai sumber kebangkitan mereka, maka bangsa ini akhirnya kembali hina dan dinistakan oleh musuh-musuh mereka, kaum kafir imperialis.

Allah SWT. berfirman:

]أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ[

Apakah orang-orang yang mendirikan bangunan (masjid)-nya di atas dasar ketakwaan kepada Allah dan keridhaan-Nya itu yang baik ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam? (QS at-Taubah [9]: 109).

 

Konteks ayat ini memang berkaitan dengan bangunan masjid, tetapi bangunan masjid di sini ada yang merupakan produk ketakwaan kepada Allah dan keridhaan-Nya, dan ada yang tidak. Allah menyatakan, bahwa produk yang dihasilkan dengan landasan takwa dan keridhaan-Nya adalah produk yang kokoh, demikian sebaliknya. Ini artinya, jika bangunan fisik saja dilandasi oleh akidah—yang dinyatakan sebagai faktor ketakwaan dan keridhaan-Nya—akan menjadi bangunan yang kokoh, lalu bagaimana dengan bangunan non-fisik (Kehidupan berbangsa dan bernegara) yang jauh lebih kompleks ketimbang bangunan fisik? Karena itu, ayat ini juga membuktikan, bahwa akidah Islam ini merupakan pondasi kehidupan, baik kehidupan individu, masyarakat maupun negara, sekaligus merupakan sumber kebangkitan, yang akan menentukan kualitas umat ini.

Persoalannya, akidah seperti apa yang akan mampu mengembalikan kehidupan dan kebangkitan umat ini?

Umat Islam adalah kumpulan manusia yang diikat oleh satu akidah, yakni akidah Islam. Akidah inilah yang telah berhasil menyatukan suku Aus dan Khazraj (baca kembali sirah nabawiyah) , yang sebelumnya dilanda perang saudara yang tak kunjung henti. (Lihat juga: QS Ali Imran [3]: 103).

Akan tetapi, sejarah juga membuktikan bahwa perkembangan mazhab akidah Islam justru menyebabkan Khilafah Abbasiyah berdarah-darah. Pemicunya adalah perbedaan mazhab; Muktazilah versus Ahlussunnah, atau Syiah versus Sunni.[1] Karena itu, akidah Islam yang mana?

Dengan tegas harus dikatakan, bahwa akidah Islam yang bisa menyatukan dan membangkitkan kembali umat ini adalah akidah al-Quran, bukan akidah mazhab, meskipun akidah mazhab ini —sepanjang dibangun berdasarkan dalil syar‘i— masih menjadi bagian dari akidah Islam. Akidah al-Quran ini juga bukan akidah kalam, atau kefilsafatan,[2] tetapi akidah yang unik, dengan metodenya yang khas.[3]

Saat ini, umat Islam masih berakidah Islam, sekalipun akidahnya merupakan akidah mazhab, kalam, dan kefilsafatan. Sebab, setiap Muslim —yang menjadi bagian dari umat ini— siang dan malam masih menyatakan: Lâ Ilâha illâ Allâh Muhammad Rasûlullâh. Namun demikian, akidah umat Islam saat ini telah kehilangan tiga hal:

1.  Kehilangan ikatan dengan pemikiran, kehidupan, dan sistem hukum yang mengatur kehidupannya.

2.  Kehilangan konsepsi tentang apa yang akan datang setelah kehidupan (Hari Kiamat dan Hisab).

3.  Kehilangan tali ikatan antar sesama Muslim sebagai sebuah komunitas, atau ukhuwah Islamiyah.[4]

 

Akibatnya, akidah Islam umat ini seperti mayat, karena telah dipisahkan dari pemikirannya. Akidah umat ini juga tidak lagi mampu menggentarkan mereka akan azab Allah di akhirat serta kerinduan untuk mendapatkan surga-Nya. Terakhir, umat ini telah terbelah dan bercerai-berai menjadi bangsa dan negara (nation state), lebih dari 50 entitas politik yang tak berdaya, akibat dari hilangnya tali ikatan, yang mengikat antar sesama Muslim.

 

Khilafah Menjaga Kemurnian Akidah Islam

Akidah Islam adalah akidah amal; akidah yang mendorong setiap pemeluknya untuk beramal salih dan terikat dengan seluruh syariat Allah. Karena itu, ayat al-Quran selalu menghubungan antara keimanan dengan amal salih, tidak kurang dari 50 ayat. Istilah îmân di dalam ayat-ayat tersebut, menurut Imam Akbar Mahmud Syaltut, adalah akidah, sedangkan amal shâlih adalah syariat (hukum). Dengan kata lain, akidah adalah persoalan hati, sedangkan syariat adalah persoalan fisik; keduanya tidak dapat dipisahkan. Akidah tanpa amal tidak pernah tampak; ibarat bangunan, ada pondasi, tetapi pondasi tersebut tertimbun tanah sehingga tidak tampak. Baru tampak, jika di atas pondasi tersebut ada bangunan. Bangunan di atas pondasi itu adalah syariatnya. Demikian sebaliknya, syariat tanpa pondasi, atau akidah, akan menyebabkan bangunan tersebut rapuh, dan akhirnya dengan mudah akan runtuh.

Karena itu, Allah pun harus menguji setiap orang Mukmin dengan amalnya sehingga layak menyandang predikat Mukmin yang sejati:

]أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ لاَ يُفْتَنُونَ[

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji lagi? (QS al-Ankabut [29]: 2).

 

Dengan konsepsi tersebut, akidah Islam telah berhasil menjadikan pemeluknya jauh lebih kuat dan tegar dalam mengarungi kehidupan sehingga mampu melahirkan para pejuang penakluk dunia, menyebarkan hidayah hampir di 2/3 belahan dunia, setelah mereka mewarisi negara adidaya yang ditinggalkan oleh Rasul, yaitu Khilafah ‘alâ Minhâj an-Nubuwwah. Kini, setelah Khilafah yang diwariskan oleh Rasul itu dihancurkan oleh konspirasi kaum Yahudi Dunamah, Inggris dan Prancis, maka umat Islam tidak lagi mewarisi kemuliaan seperti generasi terdahulu.

Karena itu, kewajiban menegakkan Khilafah yang merupakan perkara ma‘lûm[un] min ad-dîn bi ad-dharûrah dalam rangka mengembalikan kemuliaan Islam dan kaum Muslim— merupakan manifestasi dari akidah Islam, akidah perjuangan itu. Dengan Khilafahlah, umat ini akan bisa menjalankan seluruh perintah dan larangan yang dituntut oleh akidah Islam dengan sempurna. Dengan Khilafahlah, akidah Islam ini bisa dijaga dan dipertahankan kemurniannya.

Karena itu pula, siapa saja yang hendak menjaga kemurniaan akidah Islam, sebagaimana akidah al-Quran, tidak akan pernah berhasil meraih tujuannya tanpa berjuang menegakkan Khilafah. Lihatlah bagaimana Rasulullah membersihkan seluruh aqidah di jazirah Arab setelah beliau berhasil mendirikan Daulah di Madinah dan menaklukan Mekkah. Hancurnya berhala-berhala dan murninya aqidah yang dianut masyarakat terjadi setelah Daulah Madinah menjaganya dengan menghancurkan simbol-simbol kekufuran di Ka’bah.

 

Mana yang Lebih Dahulu Aqidah atau Khilafah?

Jadi, mana yang lebih dulu, menegakkan Khilafah atau mengembalikan akidah? Jawabnya, tentu akidah. Namun, harus ditegaskan dakwah aqidah tersebut adalah langkah awal untuk membentuk generasi pejuang yang menegakkan syariat Islam secara total. Lihatlah bagaimana Rasulullah membentuk para sahabat yang menjadi generasi pejuang yang memperjuangkan terbentuknya Daulah di Madinah. Perhatikanlah perbedaan Bai’at Aqabah pertama dan yang kedua. Bukankah jelas Bai’at Aqabah yang pertama adalah sebuah bai’at keimanan (Aqidah) dan Bai’at yang kedua adalah Bai’at kepemimpinan (kekuasaan) yang menghantarkan terbentuk Daulah Islamiyah yang pertama di Madinah.

Perhatikanlah juga, tidak seluruh penduduk Madinah kemudian beraqidah Islam ketika tegaknya Daulah Islam. Itu menunjukkan bahwa dakwah aqidah harus dilakukan untuk membentuk generasi pejuang. Bukan untuk meng-Islamkan seluruh penduduk kemudian baru membentuk Daulah. Bahkan dakwah Rasul dan Sahabat yang luar biasa-pun tidak mampu meng-Islamkan seluruh penduduk Madinah. Apakah kita merasa lebih hebat dakwahnya daripada mereka yang di ridhoi Allah itu?

Selain itu, bagi mereka yang menganggap bahwa kita cukup mendakwahkan Aqidah saja, nanti jika aqidah sudah dipeluk oleh masyarakat maka Khilafah akan tegak dengan sendirinya sebagai ‘hadiah’ dari Allah SWT adalah suatu pemahaman yang tidak sesuai dengan metode dakwah Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW tidak pernah mencontohkan demikian, beliau tidak pernah berhenti untuk meminta nushrah kepada para penguasa di Jazirah Arab saat itu, agar menyerahkan kepemimpinannya kepada beliau SAW. Baca dan selidiki kembali dengan seksama Sirah Nabawiyah terkait kasus seruan beliau kepada Bani Kindah, Bani Kalb, Bani Hanifah dan Bani ‘Amr bin Sha’sha’ah. Dan apa yang beliau serukan terhadap pemimpin dan penduduk Thaif. Adalah sebuah upaya yang tak pernah berhenti dan menunggu saja terwujudnya Daulah Islam. Begitupun upaya beliau mengutus Mush’ab bin Umair untuk menyertai dan mengajarkan Al-Qur’an kepada penduduk Madinah. Sampai akhirnya penduduk Madinah menyerahkan kepemimpinan kepada Rasulullah SAW pada Bai’at Aqabah yang kedua. Apakah tampak bahwa Rasulullah dan para sahabat sekedar mendakawahkan aqidah kemudian berdiam diri setelah itu? Tentu saja tidak.

Dari sini kita bisa memahami dua hal yaitu, (1) secara materi dakwah, Aqidah harus disampaikan terlebih dahulu, baik itu untuk memperbaiki (kepada sesama muslim) ataupun mengubah (kepada non muslim), (2) sebagai tahapan dakwah, maka tidak boleh berhenti hanya pada pemabhasan aqidah saja tanpa kemudian melanjutkannya dengan perjuangan menegakkan syariat secara total yang hanya bisa terwujud melalui sistem pemerintahan Islam yaitu Khilafah. Karena mustahil untuk merapkan Islam secara total jika menggunakan sistem demokrasi (seperti yang dibawa Barat) dan juga kerajaan (seperti yang dianut Arab Saudi).

Dengan kata lain, jika dakwah hanya berhenti pada aqidah saja, tanpa ada upaya mengarah kepada perjuangan penegakkan Khilafah maka ini tentu telah tidak sesuai dengan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Perhatikan dan pahami prosesi dakwah beliau yang tidak berhenti sampai aqidah saja, tapi terus dilanjutkan sampai diperolehnya kepemimpinan di Madinah (silahkan membaca dan memahami kembali sirah nabawiyah dengan seksama).

Oleh karenanya, mereka yang telah menyatakan dirinya sebagai pemeluk aqidah yang sahih namun tak tergerak untuk menegakkan Khilafah berarti telah telah ada keterputusan antara iman dan amalnya. Karena mereka yang mengaku beriman tentu harus beramal secara total terhadap seluruh perintah Allah dan Rasulullah SAW.

Walhasil, mereka yang mengklaim akidahnya sahih, tetapi tidak terdorong untuk berjuang ke arah penegakkan Khilafah, sesungguhnya mengindikasikan akidahnya bak mayat, dan tentu harus dipertanyakan; sahihkan akidah Anda? Wallâhu a‘lam!

 



[1] Lebih jauh, lihat: Mohammad Maghfur W, MA., Koreksi atas Kesalahan Pemikiran Kalam dan Filsafat Islam, Penerbit al-Izzah, Bangil, cet. I, 2002.

[2] Pembahasan lebih jauh tentang kesalahan metode kalam dan filsafat dalam membangun akidah Islam, lihat: as-Syaikh Taqiyuddîn an-Nabhâni, as-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah, Min Mansyûrat Hizb at-Tahrîr, cet. VI, 2003, I/57-65 dan 125-129.

[3] Pembahasan lebih jauh tentang karakteristik akidah Islam, yang merupakan akidah al-Quran, serta bagaimana metode membangunnya, lihat: as-Syaikh Taqiyuddîn an-Nabhâni, Ibid, hlm. 29-48.

[4] Lihat: Seruan Hizbut Tahrir kepada Kaum Muslim, Pustaka Thariqul Izzah, Bogor, cet. I, 2003, hlm. 126-127.

Tulisan Sebelumnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.